Perlukah Buaya “Buwas” di LP Bukittinggi


Selasa, 26 Januari 2016 - 03:32:48 WIB

Lagi-lagi Lembaga Pema­sya­ra­katan (LP) Klas IIA Bukittinggi kecolongan. Seorang narapidana (napi) menghilang pada saat perni­kahan anaknya, Senin (25/1). Belum jelas apakah napi itu kabur atau hanya pergi sesaat, namun yang jelas hingga sore kemarin belum lagi kembali ke LP.

Kalapas Bukittinggi Tomy K mengakui memang ada salah seorang napi yang hingga sore kemarin tidak diketahui di mana kebera­daannya. Versi Tomy, si napi men­dapat izin resmi keluar LP dengan penga­walan sipir dan kepolisian untuk meng­hadiri pesta pernikahan anaknya.

Namun entah bagaimana, sewaktu tiba saatnya napi kasus narkoba dengan vonis 9 tahun penjara itu harus kembali ke LP, pengawal justru kehilangan jejak yang bersangkutan. Karena hilangnya si napi belum cukup 1 x 24 jam, maka Kalapas Tomy belum mau menyimpulkan bahwa yang bersangkutan kabur. Hanya saja jika batas hingga batas waktu 1 x 24 jam, si napi belum kembali, maka dapat disimpulkan kabur dan ditetapkan sebagai buron.

Informasi yang beredar di kalangan kuli tinta, napi kasus narkoba yang kabur tersebut bernama Muzakir. Dia keluar LP sekitar pukul 08.00 WIB dengan penga­walan petugas LP dan kepolisian. Muzakir mendapat izin ke luar LP, karena ingin menikahkan anak kandungnya di Man­diangin Koto Selayan, Bukittinggi. Sekitar pukul 15.45 WIB, Muzakir menghilang dari pengawalan petugas.

Kasus kaburnya napi narkoba dari LP Bukittinggi bukanlah sesuatu yang ba­ru, apalagi mengejutkan. Pasalnya sudah ja­mak kasus yang sama terjadi di hotel pro­deo itu. Jika memang Muzakir tidak kem­bali hingga waktu 1 x 24 jam dan dinyatakan ka­bur serta berstatus buron, maka semakin leng­kap persoalan LP Bukittinggi ter­sebut. Pasala­nya dalam tiga bulan ter­akhir, LP itu sudah empat kali kebo­bolan. Da­lam  kurun waktu demikian sebanyak 9 na­pi dan tahanan kabur. Rin­cian­nya, nabi yang kabur pada Rabu (30/12) dinihari, se­banyak 5 orang. Rata-rata usia hukuman mereka di atas 15 tahun dalam kasus narkoba.

Sebelumnya, seorang tahanan LP Bukit­ting­gi, Waldisis berhasil melarikan diri Ka­mis 12 November 2015 setelah mendo­rong sipir. Waldisis ditangkap Polres Bukit­tinggi 4 Mei 2015 dalam kasus narkoba dengan BB 20 gram sabu. Saat kabur, Waldisis masih berstatus tahanan kejaksaan. Semen­tara 7 November 2015, dua napi kabur de­ngan melompat tembok setinggi 2,5 meter .

Terjadinya empat peristiwa napi/tahanan ka­bur dalam kurun waktu tiga bulan be­lakangan, menjadi kon­sekwensi dan ke­ha­rusan untuk menge­valuasi total LP Bukit­ting­gi. Banyak hal yang mesti terjawab di LP itu, seperti over kapasitas, infrastruk­tur, kedisi­plinan petugas, kekurangan SDM se­cara kuantitas dan juga kualitas, sistem pem­binaan dalam LP dan lainnya. Terma­suk kemung­kinan terlibatnya aparat di ling­kungan LP.

Kurang logis LP Bukittinggi bisa bobol berulang kali, jika tak ada keterlibatan pihak tertentu. Apalagi semua yang kabur terkait kasus narkoba. Bukan rahasia lagi, bahwa orang-orang jaringan narkoba akan mela­ku­kan apa saja untuk dapat menja­lankan misi bisnis narkobanya. Termasuk membunuh dan menyuap orang-orang yang dianggap meng­ganggu kelancaran bisnis mereka. Jika kondisi LP Bukit­tinggi sudah begitu parah, maka bila diperlukan ada baiknya juga menempatkan buaya ‘buwas’ (Komjen Budi Waseso/Kepala BNN) di LP tersebut. Jika dijaga oleh buaya yang tidak mengenal kata toleransi, tak kenal rupiah dan dolar, barangkali tidak ada lagi kejadian tentang bobolnya LP Bukittinggi. **

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]