Pemprov Sumbar Agar Membantu

Sunuruik dan Talu Nagari Pertanian


Selasa, 26 Januari 2016 - 03:36:39 WIB

TALAMAU, HALUAN - Nagari Sinuruik dan Nagari Talu, Kecamatan Talamau, Pasaman Barat menjadi nagari paling beruntung di Sumatera Barat. Sebagai wilayah pertanian yang tidak memiliki lahan perkebunan sawit, dua nagari itu oleh Pemda Pasaman Barat dijadikan pilot project pertanian Pasaman Barat dengan program turun sawah dua kali setahun.

Program yang sudah be­r­­jalan sekitar dua tahun itu  terimplementasi dengan baik dan sukses.Petani sa­wah dinagari itu  dapat me­nik­mati hasil panen yang lebih banyak dari se­be­lum­nya. Peningkatan eko­no­mi­pun terjadi bagi petani.

Walinagari Sinuruik, Frianton kepada Haluan kemarin mengatakan,  pro­gram turun sawah dua kali setahun tersebut meru­pa­kan upaya peningkatan ha­sil produksi tanaman padi di Pasbar, khususnya Tala­mau. “Dari sebelas keca­matan yang ada di Pasaman Barat, hanya Talamau yang tidak memiliki sawit. Tetapi kita satu-satunya kecamatan yang memiliki arela per­tanian sawah terluas. Eko­nomi kita tergantung deng­an hasil padi inilah,” katanya.

Atas dasar itulah uarnya, Sinuruik sebagai daerah areal persawahan ter­luas­dengan komitmen yang su­dah dibangun sebelumnya, sekarang para petani me­ra­sa­kan manfaatnya.

Hal yang sama juga di­ka­takan Walinagari Talu, Annuzul. Sebelumnya, pe­tani Talu hanya bisa mela­kukan satu kali turun sawah dalam setahun. Sebab, tata­cara bertani yang dilakukan masih tradisional dan ke­bia­sa­an yang turun temurun.

Perkembangan eko­no­mi dan kebutuhan saat ini, ternyata tidak mengun­tung­kan bagi petani sawah, jika hanya bisa panen satu kali setahun. Berkat program Pemda dan bimbingan yang terus dilakukan kepada pe­tani, bisa melaksanakan dua kali setahun turun sawah.

“Hasilnya, tentu dua kali lipat dari penghasilan se­belum­nya. Petani kitapun senang dan semakin giat untuk bercocok tanam mau­pun pengembangan luas lahan,” tukasnya.

Sekda Pasaman Barat, Yasri Uripsyah secara ter­pisah mengatakan, di­pilih­nya Talamau sebagai pusat percepatan turun sawah disebabkan hanya Talamau satu-satunya kecamatan di Pasbar yang tidak memiliki kebun sawit.

Ekonomi penduduk be­nar-benar tergantung pada padi sawah. Di Talamaupun, luas lahan sawah lebih bany­ak di banding kecamatan lain.

Disamping itu, melihat perkembangan ekonomi masyarakat Pasbar hanya Talamau yang masih jalan di tempat. Sumber ekonomi minim dari kecamatan lain­nya. “Contoh kecil saja, bisa diperhatikan dari jumlah pembangunan rumah tidak sampai 10 unit dalam seta­hun, itupun rumah papan,  sementara kita lihat keca­matan lainnya, ratusan ru­mah-rumah bagus berdiri tiap tahun,” tukasnya.

Ia berharap, kedepan disamping Pemda, pe­me­rintah provinsi hendaknya lebih perhatian kepada pe­tani di Talamau dan Sinuruik.

Provinsi juga di­harap­kan  meningkatkan perhati­an dan bantuannya kepada petani di Pasbar,” ungkap Yasri. Dia juga mengatakan, agar Dinas Pertanian agar benar-benar membina Kel­tan di Talamau.

Salah seorang ketua Ke­lom­poka Tani di Talamau, Darma Joni, menyebutkan, sejak diluncurkan program turun sawah dua kali seta­hun, banyak peningkatan hasil pertanian. Petanipun sema­kin bersemangat. (h/dka)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]