Pembangunan Ekonomi Sumbar 2016-2020

Sektor Pariwisata Dapatkan Perhatian Lebih


Rabu, 27 Januari 2016 - 04:04:11 WIB

PADANG, HALUAN — Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumbar memprioritaskan 4 sektor pembangunan ekonomi Sumbar periode 2016-2020, yakni pertanian, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), perdagangan dan pariwisata. Prioritas pembangunan ekonomi periode ini sama dengan periode 2010-2015 karena 4 sektor tersebut yang mendominasi kegiatan ekonomi di Sumbar selama ini.

Pada periode ini, pem­bangunan 4 sektor tersebut akan dilanjutkan dan disem­purnakan. Bedanya, sektor pariwisata mendapatkan per­hatian lebih dari 3 sektor lainnya.

Kepala Bappeda Sumbar, Afriadi Laudin mengatakan, sektor pariwisata, bisa ber­kontribusi lebih banyak un­tuk gerakkan ekonomi karena pariwisata banyak keter­kai­tannya, seperti mendorong pe­ning­­katan industri-industri cenderamata, makanan, trans­portasi, komunikasi, pengi­napan, dan sebagainya.

Untuk pembangunan eko­no­mi dari sektor pertanian, Afriadi menjelaskan, sekotr ini secara luas mencakup tanaman pangan, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Dari sektor UMKM, lebih banyak berada di industri makanan dan kerajinan. UM­KM tidak soal jenis usaha, melainkan skala usaha. Ada di bidang perdagangan, indus­tri, informal, dan sebagainya. Jumlah UMKM akan dikem­bangkan melalui dinas terkait di kabupaten/kota.

Konsepnya, kata Afriadi, memberdayakan UMKM yang ada sekarang. Mendo­rong UMKM yang kecil ber­kem­bang menjadi besar, mi­kro bisa menjadi kecil dan menengah. Kemudian dari segi usaha, volume usaha yang kecil bisa berkembang. Ini pekerjaan yang selama ini sudah berjalan. Cuma ke de­pan ada strategi untuk me­ning­katkan UMKM tersebut. Setiap tahun harus ada kreasi untuk menjadi lebih baik. Contohnya, kalau dulu pengu­saha UMKM kesulitan perbe­kalan, pemerintah pusat mem­bantu dengan menye­dia­kan Kredit Usaha Rakyat  (KUR). Misalnya lagi, pengu­saha UMKM kesulitan penja­minan, pemerintah provinsi menyediakan jaminan mela­lui PT Jaminan Kredit Da­erah (Jamkrida). Di bidang pemasaran, pemerintah batu perbaikan kemasan, menca­pai kualitas standar, meng­gelar pemeran, dan sebagai­nya. UMKM-UMKM terse­but akan terus didorong un­tuk lebih baik, apalagi meng­hadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang dimulai pada tahun ini.

Potensi-potensi dari sek­tor lain juga akan diber­da­yakan, seperti industri berbasi pertanian, bahan tambang atau galian yang bisa diolah, dan sebagainya.  Konsepnya tidak hanya on pump, tapi juga off pump

Secara teknis, kata Afria­di, pemberdayaan sektor-sektor tersebut, misalnya, sektor pertanian, pendekatan yang dilakukan adalah inten­si­fikasi dan ekstenfikasi. In­ten­sifikasi misalnya mem­per­luas areal tanam, mening­kat­kan intensitas tanam, mem­per­baiki irigasi, dan seba­gainya. Bila selama ini petani menanam dua kali setahun, sekarang ditingkatkan dua setengah kali setahun. Kalau ekstensifikasi contohnya peng­gunaan bibit yang lebih bermutu, pengolahan lebih baik, pemeliharaan lebih baik, program-program bantuan alat pertanian dari peme­rintah, dan sebagainya.

“Selain itu, teknis pem­berdayaan sektor pertanian juga bisa dilakukan dengan pendekatan kawasan, yakni mendorong kawasan yang potensial untuk me­ngem­bangkan komoditas. Artinya, kawasan potensial atau pro­duktif tersebut, dioptimalkan pengelolaannya, karena bica­ra kawasan, akan ada efisiensi dalam pengelolaan usaha tani. Contohnya untuk per­kebu­nan, lahan yang potensial untuk pengembangan kakao terus kami dorong untuk dikembangkan. Termasuk mendorong pemanfaatan la­han pekarangan yang selama ini belum dimanfaatkan. Se­bab, kalau bicara pertanian, perluasan areal sangat ter­batas, karena lahan semakin berkurang, sementara jumlah penduduk bertambah. Jadi, lahan yang ada diintensifkan pemakaiannya,” jelasnya.

Untuk sektor pariwisata, kata Afriadi, pen­dekatannya adalah pen­de­ka­tan kawasan yang saling me­miliki keter­kaitan. Con­toh­nya, Kota Pa­dang sebagai ka­wasan utama pariwisata Sum­bar, daerah pendu­kung­nya adalah Pesisir Selatan, Pa­dang Paria­man, dan Kota Pa­riaman. Jadi, mengem­bang­kan kawasan ti­dak hanya Pa­dang, kalau bisa saling bersi­ner­gi. Sebab kalau misal­nya orang berwisata ke Pa­dang, ka­lau ada objek yang menarik di daerah lain yang dekat dengan Padang, ia akan me­ngun­jungi objek wisata terse­but.

Terkait populernya Ka­wa­san Wisata Bahari Terpadu (KWBT) Mandeh dan Pantai Carocok Painan di Pesisir Selatan dibandingkan daerah lain, Afriadi mengatakan, me­mang ada objek wisata ter­tentu yang bisa diangkat, seperti KWBT Mandeh, un­tuk mendorong objek wisata di daerah lain di Sumbar. Hal seperti itu akan dimasukkan dalam rancangan pemba­ngu­nan Sumbar untuk lima tahun ke depan.

“Kalau Mandeh maju, mau tidak mau, Padang akan mendapatkan manfaat karena wisatawan akan melalui Pa­dang untuk menuju Pesisir Selatan. Kemudian, pengi­napan juga lebih banyak dan representatif di Padang,” tuturnya.

Sementara itu, dari sektor per­dagangan, untuk ekspor, Sum­bar diakui turun karena ko­miditas ekspor Sumbar ba­ru sebatas barang setengah jadi seperti getah gambir, getah karet, CPO, dan seba­gainya. Kalau industri di negara tu­juan ekspor tersebut ter­kena dampak ekonomi, per­­min­taan akan barang terse­but juga turun. Untuk hal ini, so­lusinya adalah mencari pa­sar baru dan tak tertumpu de­ngan pasar yang ada. Dinas Per­dagangan bersama Ke­men­­terian Perdagangan mesti me­ngembangkan pasar terse­but.

Mengenai ekspor barang sudah jadi, Afriadi menu­turkan, hal itu mungkin saja dilakukan di Sumbar. Akan tetapi, hal itu dilakukan oleh pihak swasta melalui investasi yang berkaitan dengan kalku­lasi (hitungan) bisnis. Peran pemerintah hanya menye­diakan regulasi (aturan) dan pelayanan. Sementara dunia usaha yang akan menanam investasi seperti itu tak hanya mempertimbangkan keter­sediaan bahan baku, tapi me­mi­liki banyak hitung-hitu­ngan bisnis, seperti pangsa pasar, tenaga kerja, teknologi, dan sebagainya. Harapan pe­me­rintah memang meng­ha­rapkan peran dunia usaha yang demikian, sehingga hasil perkebunan atau hasil olahan perkebunan yang setengah jadi, ada yang menampung.

Usaha industri produk olahan jadi di Sumbar selama ini, kata Afriadi, kurang eko­nomis karena apabila du­ku­ngan dari pemerintah kurang, usaha tersebut berhenti. Akhir­nya, usaha tersebut ha­rus disubsidi tersebut sehing­ga usaha tersebut tidak efisien. Hal itu disebabkan oleh ba­nyak faktor, misalnya, skala produksinya kecil, sementara biaya operasional usaha ter­sebut besar, sehingga meng­akibatkan kerugian.

Sementara itu, analis eko­nomi politik di Finan­ceroll Indonesia, Ronny P. Sasmita mengatakan, prio­ritas sektor pariwisata yang diambil oleh Pemerintah Pro­vinsi Sumbar kali ini layak dihormati, mengingat potensi sektor ini yang cukup besar dan pros­pektif. Tapi, tidak berarti sektor yang utama terle­watkan begitu saja karena berkaca pada prestasi yang ditorehkan KWBT Mandeh. Pergeseran yang cepat ke pariwisata akan mengganggu stabilitas daerah karena sela­ma ini pertanian menopang PDRB Sumbar dan meng­akomodasi lapa­ngan tenaga kerja paling besar diban­dingkan sektor lain.

Sementara itu, lanjut Ronny yang diwawancarai Haluan melalui BBM, kinerja pariwisata sangat jeblok. Ting­kat kunjungan dan tingkat hunian hotel masih terbilang jauh dari harapan. Infra­struk­tur pendukung minim, Sum­ber Daya Manusia (SDM) kurang, promosi kurang, ke­mitraan untuk memajukan sektor pari­wisata juga kurang, sehingga investasi di sektor ini terpan­tau rendah, yang ber­akibat pada kecilnya penye­rapan tenaga kerja.

Jumlah wisatawan man­canegara (wisman) Januari-November 2015 mengalami penurunan sebesar 11,53 per­sen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebe­lumnya. Kunjungan wisman November 2015 memberikan kontribusi sebesar 0,62 per­sen terhadap total wisman yang berkunjungan ke Indo­nesia (Wisman nasional 777.480 orang).

“Prioritas Pemda kan pa­ri­­wisata, perdagangan, UM­KM, perdagangan, dan in­dustri pengolahan produk per­tanian. Nah, sementara waktu, PDRB Sumbar itu mayoritas dari pertanian, termasuk in­dus­tri pengolahan pertanian. Ini kan hilir. Hulu bagai­mana? In­dus­tri hulu perlu diperhatikan karena mayo­ritas penyerapan tenaga kerja ada di sektor pertanian, ter­utama hulu, yakni petani, pekebun, dan nelayan. Turun­nya lapangan pekerjaan untuk sektor per­tanian, perkebunan, kehu­tanan, perburuan, dan peri­kanan sampai Agustus 2014 berjumlah sekitar 818.­714 dari total lapangan peker­jaan 2.180.336. Artinya, peme­rintah daerah harus benar-benar prudent dalam me­ne­tapkan prioritas,” terang­nya.

Intinya, lanjut Ronny, per­ge­seran prio­ritas ke pari­wisata ini harus di­sikapi dengan sa­ngat hati-hati kare­na sektor per­tanian sedang terpukul har­ga ko­moditas yang rendah. Ke­­mudian, sek­tor pariwisata be­lum ada jaminan akan serta mer­ta memberikan kon­tri­bu­si pada pendapatan daerah dan pada perbaikan kehi­du­pan masya­rakat karena ma­yo­ritas ma­sya­rakat masih ber­ku­tat di sektor pertanian.

“Pergeseran ini harus be­nar-benar hati-hati karena pergeseran prioritas ber­imbas pada penumpukan anggaran ke sektor pari­wisa­ta. Pemda harus ekstra kerjas bekerja untuk memulai re­bran­­ding semua kawasan wisata, lalu menyiapkan SDM dan infra­struktur pen­du­kung, dan ke­mu­dahan in­ves­tasi. Tapi di sisi lain, pertanian jangan hanya ter­fokus pada industry pengo­lahan bahan pertanian. Ke­hi­du­pan tenaga kerja di sek­tor pertanian harus diper­ha­tikan karena ini me­nyang­kut mempertahankan tingkat konsumsi masyarakat,” im­buh­nya. (h/dib)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 05 Agustus 2020 - 06:06:09 WIB

    Realisasi PAD Sumbar dari Sektor Pajak Tembus Rp811 Miliar

    Realisasi PAD Sumbar dari Sektor Pajak Tembus Rp811 Miliar HARIANHALUAN.COM - Selain Monitoring Control for Prevention (MCP), Kepala Satgas Koordinasi Pencegahan Wilayah IX KPK Sugeng Basuki mengatakan, realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sumbar dari sektor pajak hingga Juni 2020,.
  • Selasa, 28 Juli 2020 - 09:24:54 WIB

    Kini KUR Dapat Dinikmati Seluruh Sektor Ekonomi

    Kini KUR Dapat Dinikmati Seluruh Sektor Ekonomi HARIANHALUAN.COM - Komite Kebijakan Pembiayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) telah menghapus pembatasan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) ke sektor non produksi atau perdagangan. Hal ini dilakukan dalam rangka me.
  • Jumat, 05 Juni 2020 - 13:06:52 WIB

    Gara-gara Covid-19, Jutaan Pekerja Sektor Penerbangan Terancam

    Gara-gara Covid-19, Jutaan Pekerja Sektor Penerbangan Terancam HARIANHALUAN.COM - Dampak pandemi COVID-19 telah menghancurkan bisnis maskapai penerbangan. Kini dampak dari merebaknya virus Corona menyebar ke perusahaan-perusahaan yang terkait dengan mereka, sehingga mengancam tenaga kerj.
  • Sabtu, 04 April 2020 - 08:10:36 WIB

    Waspada! Pekerja di 5 Sektor Ini Rawan Risiko PHK Akibat Corona

    Waspada! Pekerja di 5 Sektor Ini Rawan Risiko PHK Akibat Corona JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Wabah corona telah berdampak signifikan terhadap ekonomi global dan nasional. Tak ayal, kecemasan terhadap lahirnya krisis yang berujung pemecatan masif pun muncul di kalangan pekerja berbagai sekt.
  • Selasa, 18 Februari 2020 - 09:52:27 WIB

    Kemenkeu Sediakan Insentif untuk 18 Sektor Penerima Tax Holiday

    Kemenkeu Sediakan Insentif untuk 18 Sektor Penerima Tax Holiday JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengutarakan APBN 2020 diarahkan untuk mendukung pencapaian sasaran pembangunan namun tetap adaptif menghadapi risiko perekonomian setelah dinamika .

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]