Mencermati Prioritas Pembangunan Sumbar


Rabu, 27 Januari 2016 - 04:06:57 WIB
Mencermati Prioritas Pembangunan Sumbar

Menurut Bappeda Sumatera Barat, Pemerintah Provinsi Sumbar akan memprioritaskan pengembangan sektor pariwisata, perdagangan dan UMKM, serta industri pengolahan berbasis pertanian untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Sebagaimana disam­pai­kan Kepala Badan Peren­ca­na­an Pembangunan Daerah (Bap­peda) Sumbar Afriadi Lau­din kepada media (18/1/16), tiga sektor itu meru­pakan prio­ritas pemba­ngu­nan eko­no­­mi daerah tahun ini, mengi­ngat keterbatasan sumber daya alam yang me­mang sudah men­jadi nasib provinsi Sum­bar.

“Fokusnya tetap di pari­wisata, perdagangan, UMKM dan industri kreatif, serta industri pengolahan,”, demi­kian ungkap beliau. Menu­rutnya, potensi ketiga sektor itu masih sangat besar di Sumbar, namun belum dike­lo­la dengan optimal karena keterbatasan SDM dan per­mo­dalan. Strategi yang akan dipakai adalah dengan kebija­kan pemberdayaan berke­lanjutan kepada masyarakat dan menggaet investasi untuk mengembangkan kawasan dan penguatan UMKM.

Dengan demikian, peme­rin­tah Sumbar sudah mem­bagi daerah ke dalam lima kawasan prioritas pengem­bangan pariwisata, untuk memudahkan pengembangan dan masuknya investasi sek­tor pariwisata. Apalagi, Sum­bar termasuk salah satu da­erah prioritas pengembangan pariwisata nasional, dengan ditunjuknya Mandeh di Pesi­sir Selatan sebagai percon­to­han kawasan pengembangan wisata bahari terpadu.

Selain itu, Sumbar juga me­miliki puluhan objek wi­sa­ta dengan kombinasi wisata alam, bahari, heritage, dan bu­daya yang tergolong leng­kap di Tanah Air. Disisi lain,  pe­ngembangan UMKM dan in­dustri kreatif diprio­ritas­kan de­ngan peningkatan pe­nya­lu­ran kredit usaha rakyat (KUR). Menurutnya, Pemda ju­­ga menjamin pembiayaan ke­­pada UMKM melalui Jam­­kri­­da sebagai penjamin pinja­man.

Berdasarkan konfirmasi dari Badan Koordinasi Pena­naman Modal (BKPM) Sum­bar kepada media,  peme­rintah Sumbar juga mem­berikan stimulus berupa ke­mu­dahan investasi untuk me­nunjang pertumbuhan eko­nomi daerah. Sampai saat ini, konon sudah ada 103 jenis perizinan di provinsi dan dilakukan secara terpadu melalui layanan perizinan terpadu satu pintu (PTSP) agar lebih singkat dan efisien. Selain itu, Pemda juga men­janjikan kemudahan investasi dengan membantu pem­beba­san lahan bagi penanaman modal di daerah Sumbar.

Menurut penuturan kepala BKPM Sumbar yang saya ikuti dari media,  proses pembebasan lahan di Sumbar tidak serumit yang diba­yang­kan banyak pihak, asal mau berdialog dengan masya­rakat. Dengan begitu, beliau berjanji akan fasilitasi kemudahan investasi dan mendapatkan lahan sekaligus.

Nah, jika dilihat dari track record wisata Sumbar, ber­dasarkan data dari BPS Sum­bar, jumlah wisatawan man­canegara (wisman) yang ber­kunjung ke Sumatera Barat melalui Bandara Inter­nasio­nal Minangkabau (BIM) dan Pelabuhan Teluk Bayur bulan November 2015 hanya men­capai 4.811 orang, mengalami peningkatan 21,61 persen dibanding bulan Oktober 2015 yang tercatat sebanyak 3.956 orang. Namun jika dibandingkan dengan bulan November 2014, wisman bulan November 2015 me­nga­lami peningkatan sebesar 9,89 persen.

Sementara itu jumlah wis­man bulan Januari – Novem­ber 2015 mengalami penu­runan sebesar 11,53 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Wisman bulan November 2015 ini memberikan kontribusi se­besar 0,62 persen terhadap total wisman yang berkunjung ke Indonesia (Wisman Na­sional 777.480 orang)

Namun disisi lain, dari Sumber yang sama, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang bulan No­vem­ber 2015 berdasarkan la­po­ran yang masuk mencapai rata-rata 57,10 persen atau mengalami penurunan sebe­sar 3,81 poin dibanding TPK Oktober 2015 yang tercatat sebesar 60,91 persen. Kota Bukittinggi menempati TPK ter­tinggi sebesar 72,07 persen dan disusul Kota Padang de­ngan TPK sebesar 61,62 per­sen. TPK terendah terjadi di Kab. Agam yaitu sebesar 25,41 persen. Sementara itu, TPK di Kab. Tanah Datar tercatat sebesar 37,21 persen.

Prioritas sektor pari­wisata yang diambil oleh pemerintah Sumbar kali ini layak dihor­mati, mengingat potensi sek­tor ini yang cukup besar dan prospektif. Tapi tidak berarti sektor yang utama terle­watkan begitu saja hanya karena ber­kaca pada prestasi yang dito­rehkan kawasan wisata Man­deh. Pergeseran yang cepat ke pariwisata akan mengganggu stabilitas daerah karena sela­ma ini pertanian menopang PDRB Sumbar dan menga­komodasi lapangan tenaga kerja paling besar dibanding sektor lain.

Dari sisi ekspor impor terlihat bahwa pertanian dan sub sektornya menyumbang angka yang tergolong cukup besar untuk komoditas non migas. Nilai ekspor Sumatera Barat yang seluruhnya berasal dari komoditi nonmigas pada bulan Desember 2015 senilai US$118,7 juta atau turun sebesar 6,55 persen diban­dingkan dengan ekspor bulan November 2015 yang tercatat US$127,0 juta. Sementara itu ekspor Sumatera Barat De­sember 2015 turun sebesar 17,74 persen bila diban­ding­kan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Se­dang­kan nilai ekspor kumu­latif Januari-Desember 2015 tercatat US$1.748,0 juta, juga mengalami penurunan sebe­sar 16,98 persen bila diban­dingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ekspor nonmigas bulan Desember 2015 terjadi pada beberapa golongan barang, nilai terbesar adalah golongan lemak & minyak hewan/na­bati sebesar US$77,7 juta disusul oleh golongan karet dan barang dari karet sebesar US$23,7 juta, dan golongan ampas/sisa industri makanan sebesar US$2,4 juta. Bila dilihat peranan golongan ba­rang terhadap total ekspor Desember 2015 tercatat 63,76 persen merupakan eks­por dari golongan lemak & minyak hewan/nabati, dan golongan karet & barang dari karet memberikan peran se­be­sar 19,26 persen.

Penurunan ini tentu sa­ngat bisa dipahami menginat harga sawit, salah satu komo­ditas non migas andalan Sum­bar, tergerus sangat dalam. Mendung menyelimuti bisnis kelapa sawit sepanjang tahun 2015. Hal itu terjadi akibat anjloknya harga minyak sawit di pasar internasional di kisaran rata-rata US$ 600 per metrik ton. Padahal tahun-tahun sebelumnya harga mi­nyak sawit berada dikisaran US$ 800 per metrik ton dan bahkan pernah tembus di atas US$ 1.000 per metrik ton.

Industri sawit mendapat banyak tantangan selama tahun lalu, mulai dari harga crude palm oil (CPO) global yang tidak bergairan sampai pada kasus kebakaran lahan perkebunan kelapa sawit. Harga rata-rata CPO tahun 2015 berada di angka US$ 614,2 per metrik ton. Harga rata-rata ini turun sebesar 25% dibandingkan harga ra­ta-rata 2014 yaitu US$ 818,2 per metrik ton.

Secara Nasional, sepan­jang tahun 2015 ekpor minyak sawit hanya US$ 18,64 miliar atau anjlok 11,67% di­ban­dingkan tahun 2014 yang sebesar US$ 21,1 miliar. Pe­nu­runan nilai ekspor sawit tersebut disebabkan ren­dah­nya harga sawit di pasar glo­bal. Padahal dari segi volume, ekspor CPO dan turunanya pada 2015 mencapai 26,40 juta ton atau naik 21% diban­dingkan total ekspor 2014 sebesar 21,76 juta ton.

Proyeksi awal produksi CPO dan turunnya sepanjang tahun lalu mencapai 32,5 juta ton, termasuk biodiesel dan oleochemical. Produksi itu tercatat naik 3% diban­ding­kan total produksi tahun 2014 sebesar 31,5 juta ton. Dengan lain perkataan, pros­pek industri minyak sawit ta­hun 2016 ini masih men­dung.

Bukan hanya soal harga sawit yang kemudian mengi­kis kapitalisasi ekspor Sum­bar, pemerintah daerah juga harus berkaca pada kondisi tenaga kerja yang masih sangat dominan di sektor pertanian, salah satunya perkebunan sawit dan petani independen yang hidup dari sawit. Para petani ini kian hari kian mengeluh soal harga jual buah sawit. Ini artinya bahwa terjadi penurunan pendapatan dari usaha pribadi yang mereka lakukan. Arti lanjutannya adalah ancaman penurunan daya beli dan tingkat kon­sumsi yang kemudian menjadi ancaman pertumbuhan eko­nomi daerah.

Jadi, prioritas pada indus­try pengolahan pertanian akan mengarah pada indus­trinya alias hilir, sementara sisi hulu, terutama yang dila­koni petani yang fokus pada perkebunan sawitpun harus pula mendapatkan perhatian yang cukup sebagaimana sebe­lumnya saya bahas.  Dan pertanian secara umum, se­mes­tinya tak pula terabaikan. Selain sumbanganya pada PDRB yang masih sangat tinggi, penyerapan tenaga kerjanya juga masih yang tertinggi dibanding sektor lain. Lihat saja data muta­khirnya, lapangan pekerjaan untuk sektor Pertanian, Per­kebunan, Kehutanan, Per­bu­ruan dan Perikanan sampai Agustus tahun 2014 ber­jum­lah sekitar 818 714 dari total lapangan pekerjaan 2 180 336. Artinya, pemerintah daerah harus benar-benar prudent dalam menetapkan prioritas.

Pendek kata, prioritas sudah ditetapkan, pergeseran ke sektor pariwisata sangat layak diapresiasi, tapi harus tetap memberi perhatian yang proporsional kepada sektor lain yang selama ini cukup bermain di dalam kehidupan ekonomi Sumbar. Fokus pada pariwisata adalah fokus kepa­da infrastruktur pendukung, modal dan mitra, promosi dan branding, serta  SDM yang akan melakoninya. Ini bukan pekerjaan mudah, bah­kan sangat sulit. Jadi sebaik­nya tidak dipersulit dengan pergeseran yang drastik yang justru mengganggu stabilitas ekonomi daerah. Pemda tidak hanya butuh rencana strategis yang mapan dan proyeksi teknis yang terukur untuk ekonomi pariwisata Sumbar, tapi juga rencana strategis peralihan prioritas agar ter­jadi ”soft landing” di sektor pariwisata tanpa ada “hard landing” di sektor yang lain, terutama pertanian berserta turunannya. ***

 

RONNY P. SASMITA
(Analis Ekonomi Politik Internasional Financeroll Indonesia)
 

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 01 Maret 2016 - 11:32:01 WIB

    Mencermati Dinamika Harga Minyak Dunia

    Mencermati Dinamika Harga Minyak Dunia Beberapa waktu lalu, departemen commodity strategy RBC Capital and Global Markets pernah mengungkapkan tentang tiga skenario kemungkinan harga minyak untuk tahun ini, terutama untuk varian WTI..
  • Rabu, 06 Januari 2016 - 03:13:43 WIB

    Mencermati Angka Kemiskinan dan Inflasi

    Mencermati Angka Kemiskinan dan Inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan terjadi penurunan jum­­lah pen­du­duk miskin pa­da September 2015. Pada pe­riode itu jum­lah pen­du­duk miskin di Indonesia se­banyak 28,51 juta orang atau 11,13% dari total pe.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]