Setelah Putusan MK


Kamis, 28 Januari 2016 - 04:08:36 WIB
Setelah Putusan MK

Usai sudah keputusan final Mahkamah Konstitusi, menyikapi enam gugatan pu­tusan Pilkada dari berbagai daerah di Sum­bar.Sebagaimana kita baca di berbagai me­dia, keenam daerah itu adalah; Kabupaten So­lok, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Lima­puluh Kota, Kabupaten Solok Selatan, Ka­bupaten Pasaman, dan Provinsi Sumatra Ba­rat.

Sebagaimana sebagian besar gugatan daerah-daerah lain di tingkat nasional, keenam guga­tan dari Sumbar pun berakhir sama, yaitu ditolak. Alhasil, keputusan MK secara tidak langsung memperkuat dan mensahkan keputusan ma­sing-masing KPUD di enam daerah bersangkutan.

Menariknya, respon dari penggugat dan tergugat sete­lah keputusan MK itu cukup beragam. Ada yang biasa-biasa saja, dingin. Ada yang kemudian mengadakan perte­muan, dihadiri (dan dispon­sori) oleh para perantau, dan kemudian saling berjabat tangan di depan kamera de­ngan tak lupa senyum renyah. Publik seperti diberi tahu bahwa kedua pasangan calon (paslon) sudah ‘berdamai’, dan aspek politik di daerah itu silakan untuk move on.

Namun, bisa kita simak dari pantauan media, rata-rata paslon lainnya, menyikapi secara dingin. Bahkan, kita, ada di antaranya yang masih memberikan sinyal keti­dak­puasan atas keputusan MK tersebut. Padahal, keputusan MK tersebut bersandar pada peraturan perundangan-unda­ngan yang jelas berlaku, yaitu Pasal 158 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pilkada (UU Pilkada) dan Pasal 6 Peraturan MK (PMK) Nomor 1-5 Tahun 2015, ten­tang selisih perolehan suara pasangan pemohon dan pasa­ngan peraih suara terbanyak yang dapat diajukan ke sidang perselisihan di MK.

Terlepas dari respon apa pun yang ditampilkan oleh peserta Pilkada 2015 lalu, kita tentu berharap ke depan ma­sya­rakat yang daerahnya me­nye­lenggarakan Pilkada (ada 13 daerah di Sumbar terma­suk level provinsi) segera bersiap menyaksikan pelan­tikan pasangan terpilih pada sekitar Februari tahun ini juga. Titik berangkat untuk menjalankan roda peme­rin­tahan berawal dari pelantikan pasangan definitif, selanjutnya kita semua haruslah men­du­kung sepenuhnya dan mem­berikan ruang kepada mereka untuk mulai bekerja.

Selanjutnya, marilah kita sama-sama bersikap kritis-konstruktif terhadap jalannya pemerintahan baru di 12 kota dan kabupaten ditambah ting­kat provinsi tersebut. Kita harus mampu melupakan segmentasi dan perbedaan pilihan selera politik kita. Semuanya itu harus dikubur agar kita memiliki mental yang realistis terhadap hari-hari yang membentang. Tanta­ngan sudah pasti tidaklah semakin mudah, sebaliknya semakin berat. Sinergi peme­rintah daerah, baik secara vertikal dengan pemerintah pusat, maupun horizontal dengan masyarakat harus dibangun setulus dan se­opti­mis mungkin.

Apalagi tahun 2016 ada­lah tahun dimulainya era perdagangan bebas di Asia Tenggara (MEA). Tentunya masing-masing daerah harus melakukan percepatan kiner­ja pembangunan di sana-sini. Ibarat sebuah kendaraan, gas­nya harus ditingkatkan, de­ngan kewaspadaan tinggi pu­la pada sisi rem dan ko­pleng. Terlalu gegabah dan ce­r­oboh dalam membangun pun bisa berakibat fatal, dan rak­yat tentunya menjadi kor­ban.

Pemimpin yang baru ter­pilih tidak semuanya meru­pakan wajah baru. Ada yang sudah berpengalaman me­mim­pin di jabatan yang sama, atau di level di bawahnya. Ini tentu modal yang bagus untuk menjalankan seluruh pro­gram, masa-masa penye­suai­an tentu tidak akan butuh waktu yang lama. Pemimpin butuh tim kerja yang mampu memberikan sokongan nyata, ki­ta berharap di minggu per­ta­ma tim kerjanya sudah cepat sinkron dan saling ber­ko­munikasi secara intensif de­ngan pasangan terpilih.

Pesan lain yang layak di­sam­­paikan, jangan terjebak de­ngan involusi politik. In­vo­lusi merupakan keadaan di ma­­na seluruh prasyarat se­buah kegiatan sudah terpe­nu­hi, namun minim terja­dinya pe­ru­bahan signifikan. Sing­kat­nya, involusi merupakan per­kembangan yang semu, se­olah-olah ada kegiatan dan ki­ner­ja, namun sesungguhnya ni­­hil makna dan perkem­ba­ngan nyata. Dus, dibutuh­kan ke­cerdasan pemimpin yang ti­dak saja menjalankan se­luruh pro­gramnya dalam rang­­ka memenuhi kewajiban le­gal-formal belaka. Harus ada pemaknaan yang tegas akan orientasi kerja. Apakah pro­ses dan tujuan sudah sin­kron?

Sebagai contoh, tiap tahun pemerintah provinsi menda­pat­kan kucuran DIPA dari pemerintah pusat. Dana itu mesti digunakan sesuai de­ngan berbagai macam proyek dan kegiatan, baik fisik mau­pun non fisik. Selama ini para kepala daerah lebih banyak memutar otak bagaimana agar dana itu terserap agar kemudian di tahun-tahun berikutnya kucuran dalam jumlah yang lebih tinggi dapat diraih. Ironisnya, beberapa tahun terakhir terjadi penye­rapan dana dari pusat yang di bawah standar. Ditengarai para kepala daerah menga­lami kehati-hatian yang berle­bihan, takut ‘terjebak’ dalam korupsi.

Kita berharap, menyikapi fenomena di atas, pemimpin pro aktif mengko­mu­nika­sikan segala hal ke peme­rintah pusat. Sudah rahasia umum, rata-rata pejabat da­erah merasa dirinya enggan, malas, atau malah merasa tidak penting untuk sering-sering bertanya kepada pe­jabat pusat akan hal-hal apa yang bisa jadi tidak jelas atau membingungkan. Egoisme sektoral yang sebenarnya kontra produktif itu harus mulai dihilangkan kalau me­mang ingin menunjukkan ke­pedulian yang tinggi terha­dap kinerja kepemim­pinan­nya.

Sekali lagi, kepiawaian komunikasi politik yang ter­bu­ka, konstruktif dan inter­aktif memang akan selalu dituntut dari seluruh pemim­pin. Pemimpin di negeri ini hanya didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, oleh karena itu janganlah mencip­takan jarak dengan masya­rakat. Kritikan yang kon­struk­tif pun harus diterima sebagai ‘obat’ mujarab agar ‘kesehatan’ kepemimpinan para pejabat daerah tetap terjaga, dan jika pun ada ‘demam’ cepat teratasi secara alamiah. Selamat memimpin, berbenah, dan berbuat! ***

 

MOHAMMAD ISA GAUTAMA
(Pengajar Komunikasi Politik, Universitas Negeri Padang)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 16 Oktober 2019 - 11:54:07 WIB

    Merdeka! Nenek Adimar Bisa Menikmati Listrik Setelah Berusia 81 Tahun

    Merdeka! Nenek Adimar Bisa Menikmati Listrik Setelah Berusia 81 Tahun PADANG, HARIANHALUAN.COM -- Adimar, nenek berusia 81 tahun di Kelurahan Sungai Pisang, Kecamatan Bungus Teluk Kabung tak henti mengucap syukur. Kunjungan PLN ke rumah kayunya pada hari itu membuatnya benar-benar merdeka..
  • Selasa, 09 Oktober 2018 - 18:01:44 WIB

    Kisah Haru Indriana Sartika,  Selamat Setelah Puluhan Menit Bertahan dari Terjangan  Tsunami

    Kisah Haru Indriana Sartika,  Selamat Setelah Puluhan Menit Bertahan dari Terjangan  Tsunami HARIANHALUAN.COM-Indriana Sartika Yotokodi terus memanjatkan rasa syukurnya karena masih diberi keselamatan oleh Allah SWT. Bayang-bayang bencana tsunami dan gempa masih tergambar jelas dalam memorinya, bahkan kerap muncul da.
  • Kamis, 06 September 2018 - 08:43:50 WIB

    Yang Duduk dan Terduduk Setelah Pilkada

    Yang Duduk dan Terduduk Setelah Pilkada  Pilkada serentak telah selesai. Bahkan sekarang telah pula memasuki tahapan  Pilpres dan Pileg serentak, yang bakal berangsung tahun 2019 nanti. Kembali kepada Pilkada serentak beberapa bulan lalu, pemenang Pilkada Gubernu.
  • Kamis, 02 Agustus 2018 - 15:03:59 WIB

    Sauqi Putra Dylan, Butuh Uluran Tangan Setelah Terbentur Sistem BPJS

    Sauqi Putra Dylan, Butuh Uluran Tangan Setelah Terbentur Sistem BPJS DALAM usia yang masih belia,  Sauqi Putra Dylan sudah menerima setumpuk beban. Sejak berusia 1,5 tahun, ia sudah ditinggal pergi ibunya, Melani Adresia yang menghadap Illahi. Satu setengah tahun kemudian, ia yang harus terba.
  • Senin, 11 Juni 2018 - 15:17:09 WIB
    KISAH EBY, WAKIL SUMBAR DI AJANG PUTRI MUSLIMAH 2017

    Menemukan “Hidup” Setelah Berhijab

    Menemukan “Hidup” Setelah Berhijab Tahun 2015, Febri Wahyuni Sabran mantapkan hati untuk berhijab. Seminggu setelah itu, dalam tidur, ia bermimpi naik haji. Mimpi nan terus terngiang dan menjadi puncak keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu dekat dengan umat.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]