Sidang Dosen Bunuh Mantan Istri

Duke: Terdakwa Sosok Religius dan Sayang Keluarga


Kamis, 28 Januari 2016 - 04:31:58 WIB

PADANG, HALUAN — Dr. Duke Arie Widagdo, SH. MH, teman dekat semasa kuliah S3 Ilmul Khaer, ter­dakwa dalam kasus pem­bunuhan terhadap mantan istrinya Dewi Yulia Sartika, menyebut, tidak ada tanda-tanda keanehan dari prilaku terdakwa selama lima tahun dirinya berteman dekat de­ngan terdakwa saat mengam­bil kuliah S3 di Universitas Padjadjaran. Tidak hanya itu, di mata rekan satu angka­tan­nya, terdakwa juga dikenal sebagai sosok yang religius dan sayang terhadap keluarga.

Hal ini terungkap dalam sidang lanjutan pembunuhan yang dilakukan oleh Ilmul Khaer, dosen salah satu Per­gu­ruan Tinggi Negeri (PTN) Kota Padang terhadap man­tan istrinya yang juga meru­pakan karyawan Bank BRI Padang, Dewi Yulia Sartika, Rabu (27/1) di Pengadilan Negeri Padang.

“Saya kenal dekat dengan terdakwa. Selain satu kelas saat kuliah S3 di Universitas Padjadjaran, kos kami pun juga berdekatan. Hampir setiap hari saya bertemu de­ngan terdakwa Ilmul Khaer,” ungkap Duke Arie Widagdo yang dihadirkan sebagai saksi adecharge (saksi yang meri­ngan­kan) saat memberikan kesaksian.

Tidak hanya itu, dikata­kan saksi yang juga salah se­orang dosen di Universitas Go­rontalo ini, di setiap ke­sem­­patan, terdakwa juga ti­dak jarang mengingatkan te­man-teman lainnya untuk menjalankan salat lima wak­tu. “Terdakwa itu orangnya cu­kup religius. Kami sering di­ingatkan terdakwa untuk sa lat lima waktu,” sebutnya lagi.

Dalam beberapa kesem­pa­tan, sebut saksi, terdakwa ju­ga sering terlihat meng­hu­bu­ngi keluarganya baik itu anak maupun istrinya melalui vi­deo call. Terdakwa, kata sak­si ini lagi, juga tidak per­nah mem­punyai selingkuhan atau­pun wanita idaman lain se­perti yang diberitakan me­dia massa selama ini. “Ja­ngan­­kan untuk berselingkuh, se­lama lima tahun kuliah S3, wak­tu kami hanya habis un­tuk studi saja,” beber Duke lagi.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Badrun Zaini dan beranggotakan hakim Sri Hartati dan hakim Yoseana Roslinda serta Jaksa Penun­tut Umum (JPU) Dewi Elvi Susanti, Cs, saksi Duke juga mengatakan kalau dirinya ditunjuk oleh rekan seang­katan saat kuliah S3 untuk menemui terdakwa di Pa­dang. Tujuannya, selain mem­berikan support, juga ingin mendengarkan secara lang­sung penyebab terjadinya tragedi berdarah ini. “Dua hari usai tragedi pembunuhan tersebut, saya berangkat ke Kota Padang. Saya sempat bertemu terdakwa di RS Bha­yang­kara. Saat bertemu, ter­dak­wa nyaris tidak ingat dengan saya.

Namun beberapa menit setelah itu ia baru ingat dan langsung menangis sembari meminta maaf atas apa yang telah diperbuatnya,” ungkap saksi adecharge ini lagi.

Memang, lanjut Duke, saat bertemu dengan terdakwa, ia melihat kondisi fisik terdak­wa sangat lemah. Saat dita­nya­kan kepada dokter yang merawat terdakwa saat itu, diketahui kalau terdakwa dalam keadaan sakit akibat meminum cairan racun, dan terdakwa mengeluhkan dada­nya terasa panas. “Dokter juga mengatakan kalau bagian pembuangan terdakwa me­nga­lami luka bakar,” jelasnya di hadapan persidangan.

Kendati demikian, di ha­da­pan persidangan saksi de­ngan tegas membantah kalau terdakwa pernah berse­ling­kuh saat studi S3 di Bandung tersebut. Selain dikenal seba­gai sosok yang religius, ter­dak­wa juga sosok yang me­nye­nangkan dalam pergaulan sehari-hari.

Usai mendengarkan kete­rangan dari saksi adecharge ini, hakim akhirnya meminta JPU untuk menyiapkan tun­tu­tan pada sidang yang akan dilanjutkan pada hari Rabu (3/2) mendatang.

Perbuatan terdakwa di­atur dan diancam dengan dakwaan primair sebagai­ma­na diatur dalam pasal 340 KUHP. Kemudian ada lagi dakwaan subsidair dengan ancaman pasal 338 KUHP, dakwaan lebih subsidair de­ngan ancaman pasal 354 ayat (2) KUHP dan dakwaan le­bih-lebih subsidair dengan an­caman pasal 351 ayat (3) KUHP.

Sebagaimana diketahui, dalam dakwaan JPU sebe­lum­nya disebutkan, pembu­nuhan yang dilakukan oleh oknum dosen PTN Kota Pa­dang terhadap mantan istri­nya, Dewi Yulia Sartika (37) terjadi pada hari Sabtu, 4 April 2015 sekitar pukul 20.00 WIB di Jalan Koto Marapak No. 7, Kel. Olo, Padang Barat.

Terdakwa sendiri mening­gal­kan jasad istrinya dalam mobil yang diparkir di SPBU Simpang Pelawan, Sarola­ngun, sejak Minggu (5/4). Terdakwa telah menghabisi korban beberapa hari sebe­lumnya. Terdakwa dibekuk polisi setelah didapati sedang kesakitan di dalam WC SP­BU. terdakwa diduga hendak bunuh diri dengan menenggak racun serangga. Pembunuhan ini ter­ung­kap menyusul kecu­rigaan petugas SPBU ter­hadap mo­bil jenis Suzuki Katana yang teparkir lama di dekat WC SPBU, sementara pelaku ter­lihat mondar-man­dir kebi­ngungan.

Saat itu, petugas SPBU curiga saat mobil Suzuki Katana dengan plat nomor BA 1320 AT bolak balik dan teparkir lama, sejak Minggu sore. Karena curiga, akhirnya petugas SPBU Simpang Pela­wan, Sarolangun tersebut membuka paksa mobil itu. Mereka kaget karena di da­lam mobil ada mayat perem­puan tergeletak di kursi depan kiri.

Di dalam mobil juga dite­mu­kan barang berharga beru­pa sejumlah ATM, uang tunai Rp­9,4 juta serta uang ringgit dan satu lembar uang rial. Polisi juga menemukan pa­kai­an pelaku berlumuran darah. Pengakuan terdakwa pada penyidik Polri, usai mem­bunuh istrinya yang be­ker­ja di BRI Cabang Padang, terdak­wa kemudian sempat mem­bawa jenazah istrinya tersebut hingga ke luar Pro­vinsi Su­matera Barat. (h/hel)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]