Sisi Lain Final IC-JSC di GBK (Bagian 3/Habis)

Kalah, Pendukung tak Rusuh


Kamis, 28 Januari 2016 - 04:37:58 WIB
Kalah, Pendukung tak Rusuh KENDATI kalah, para pendukung Semen Padang FC tak melakukan aksi yang memancing kerusuhan. (ANTARA)

Fenomena se­pakbola di Indonesia ada­lah rusuh saat ka­lah. Di sebagian klub, hal ini kerap jadi tontonan publik se­pakbola nasional. Apa yang bertentangan dengan me­re­ka, disosoh saja. Malam itu, saat Semen Padang kalah atas Mitra Kukar di pertan­dingan puncak Indo­nesian Championship Jen­deral Su­dirman Cup (IC-JSC), hal itu tak saya temu­kan

Hampir tengah malam pertandingan krusial bagi publik Sumbar baru selesai. Presiden saja, tak tahan untuk berlama-lama duduk di royal box, VIP Tribun Barat Gelora Bung Karno (GBK) menonton pertan­dingan ini. Ketika laga ma­sih tersisa kurang dari 10 menit, Jokowi memilih beranjak dari tempat du­duknya.

Banyak tokoh Sumbar yang menemani Presiden saat itu, terutama pejabat tinggi. Ada Ketua DPD Ir­man Gusman, ada Ketua KPU Husni Kamil Manik, Pj Gubernur Reydonnyzar Moenek, Walikota Padang Mahyeldi Ansharulah dan lainnya.

Ternyata, langkah presi­den, banyak diikuti suppor­ter Semen Padang. Ntah sebuah kebetulan. Tapi, saya meyakini hal ini sebagai sebuah kebetulan. Presiden me­ninggalkan arena karena dika­barkan harus berhadapan dengan padatnya agenda kerja, keesokan harinya. Sementara sebagian suporter merasa “tugas”nya mem­beri dukungan sudah ber­akhir.

Perilaku mereka, datar, tak ada sikap brutal ketika keluar dari stadion. Banyak pihak yang menyebut pendukung Semen Padang khususnya, dan pen­dukung sepakbola di Sumbar umumnya mentalnya egaliter. Seorang tokoh sepakbola di Sum­bar,bahkan menyebut, jika tim dukungannya bermain bu­ruk, pendukung tim asal Sumbar itu justru tak segan-segan men­dukung tim lawan.

“Mereka(pendukung Semen Padang) fair. Itu yang patut kita banggakan,”kata Husni yang sempat saya temui usai per­tandingan.

Husni sendiri, datang ke stadion mengenakan pakaian resmi turnamen. Sebagai iden­titas dukungannya untuk Kabau Sirah, Husni tak segan-segan membawa syal merah bertuliskan Semen Padang FC. Situasi royal box, katanya, cukup hangat juga. Bedanya tentu tak semeriah suporter di tribun umum.

“Bahkan, ada anggota DPR yang datang  ke stadion dengan baju merah yang jadi symbol dan ciri khas Semen Padang FC,” sebut aktifis mahasiswa di era 1998 lalu ini.

Saat saya ikut keluar sebelum laga berakhir, para tak satupun supporter menunjukkan gelagat brutal. Hanya saja, raut kecewa dari wajah, adalah hal yang sulit mereka sembunyikan.

Keluar dari sisi barat stadion, tepatnya di pintu XII suporter malah menyerbu kedai lontong malam yang berada sekitar 50 meter dari pinggir stadion. “Litak paruik wak dek-nyo,”umpat seorang suporter sambil me­mesan lontong sayur ala Padang.

Sambil makan, bersama te­man-temannya memang terlon­tar juga umpatan soal jalannya pertandingan yang penuh gengsi itu, karena mempertemukan dua pelatih asal Sumbar.

Tapi um­patan itu tinggal umpatan saja. Tak lebih. Mereka cenderung berdiskusi saling melemparkan pendapatnya. Tapi tetap saja, mereka cuma berdiskusi.

Di media sosial facebook, kendati umpatan-umpatan kesal bersileweran, ungkapan simpatik tetap bermunculan. Tanda kede­wasaan suporter  menjadi hal yang paling khas, kendati panpel menetapkan kelompok pendu­kung Arema jadi pendukung terbaik di ajang ini.

Hal ini tentunya bisa jadi modal besar bagi Semen Padang FC mengarungi laga-laganya setelah ini. Sebuah potensi yang mengkristal di lapangan se­pak­bola sebagai wujud kecintaan terhadap negeri, sekaligus ke­banggaan.

Beberapa orang pendukung asal Padang bahkan menye­but, sepenuh-penuhnya penonton Stadion H Agus Salim mem­berikan dukungan untuk Semen Padang FC, dukungan di GBK kali ini, jumlahnya tak akan pernah bisa disamai di Padang. Kapasitas stadion membatasi memang, tapi animonya sangat luar biasa.

Mereka rela meninggalkan anak keluarganya demi tim kesa­yangannya. Mereka rela mening­galkan pekerjaannya demi tim yang membuat dada mereka tegak. Seperti yang disampaikan Vembi Fernando Piliang, Kepala Jorong Spartack Jabodetabek, ia mendapat informasi ada rekan­nya asal Siak, Riau, Adit yang rela meninggalkan pekerjaannya un­tuk menonton Semen Padang.

“Dia nekad bang. Tanpa izin kabarnya dia meninggalkan pe­kerjaannya,”sebut Vembi lagi.

Menurutnya, Adit bekerja di lapangan minyak. Dia terbang dari Pekanbaru, Minggu pagi dan kembali lagi ke Riau, Senin subuh. “Sebuah pengorbanan demi….,”kata Vembi dalam chatingnya dengan saya.

Belum lagi cerita Roni yang mengkordinir lebih dari 300 pendukung yang berasal dari penjuru Jawa. “

Kebanyakan kera­bat yang datang dari Jakarta dan se­ki­tarnya. Awalnya saya mem­per­siapkan tiket sebanayk 85 lembar. Namun, jelang dekat per­tan­dingan, banyak yang minta to­long ke saya untuk disiapkan tiketnya,”kata Roni lagi

Ridho, pecinta Semen Pa­dang FC dari Bangkok, Thailand-pun tak membawa istri ke Ja­karta. Ia datang seorang diri ke Jakarta. Salam hormat untuk pendukung Semen Padang FC. Angkat topi untuk Semen Padang FC. (*)

 

Laporan:
RAKHMATUL AKBAR
 

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 09 Desember 2015 - 03:14:53 WIB

    Siap Kalah, Siap Menang

    Hari ini, Rabu 9 Desember 2015, rakyat Indonesia yang berada di 9 Provinsi, 224 Kabupaten dan 36 Kota akan mengikuti Pilkada serentak untuk memilih gubernur-wakil gubernur, bupati-wakil bupati dan walikota-wakil walikota. Mas.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]