Transaksi Online Menjamur

Marosok,Tak Lekang oleh Waktu


Sabtu, 30 Januari 2016 - 01:01:12 WIB
Marosok,Tak Lekang oleh Waktu TRANSAKSI jual beli ternak dengan cara Marasok yang masih bertahan di Pasar Ternak Muaro Paneh, Kec. Bukit Sundi Kab. Solok. (YUTIS WANDI)

Berbicara tentang pasar pada era modern saat ini, tentunya dalam fikiran kita akan terbentang berbagai pemandangan dan ko nsep sebuah pasar dan pola pemasaran yang bersih, nya­man, mudah alias tidak ribet. Karena kebanyakan pasar mo­dern saat ini berkembang de­ngan pola mar­keting (pema­saran) yang lebih maju, me­manfaat­kan sistem dan teknologi modern pula tentunya.

Saat ini, transaksional juga sudah sangat canggih, karena dengan duduk manis di rumah pun, orang juga dapat membeli barang kebutuhannnya. Cukup dengan meng-klik satu atau dua item barang yang diinginkan yang tertera di monitor komputer atau ponsel pintarnya, maka jual beli terjadi. Label harga juga sudah tertera sehingga tak perlu tawar menawar yang kadang bikin kesal.

Meski sudah dikenal sejak terbukanya akses informasi me­lalui jaringan internet, namun model pasar dengan  transaksi online atau online shop ini, juga sudah menjadi kegandrungan mayoritas masyarakat yang hidup di daerah perkotaan sejak 10 tahun terakhir.

Bahkan, sejak akses internet masuk desa, masyarakat pun mulai belajar menawarkan hasil pertanian dan produk-produk kerajinan rumah tangga, melalui berbagai situs yang ada. Se­tidak­nya bagi masyarakat yang baru mengenal media sosial sekelas facebook pun, juga tak luput dari promosi dan pemasaran produk. Di dunia maya saat ini, agaknya tak hanya facebook, tweeter dan instagram saja yang dipakai sebagai media untuk me­nawar­kan barang-barang dan jasa, ada jutaan jenis medis sosial (med­sos) jumlahnya.

Kondisi ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan pasar tra­disio­nal. Dimana nyaris semua transaksinya dilakukan secara terbuka. Sebagaimana lazimnya sebuah pasar, ada penjual dan pembeli dan tentu sebuah ke­sepa­katan “ijab-qabul” antara penjual dan pembeli terhadap barang yang ditawarkan.

Dan ada yang lebih tra­disio­nal lagi. Meski ada penjual dan pem­beli, namun transaksinya tidak dapat diketahui. Soal harga barang, hanya kedua belah pihak saja yang tahu. Cara ini berlaku untuk jual beli ternak di Sumatera Barat.

“Transaksi dilakukan  secara sembunyi-sembunyi,  cukup dilakukan ‘berduaan’ antara penjual dan pembeli dengan menggunakan bahasa isyarat. Tanpa omongan, pedagang-pem­beli cukup bersalaman dan me­main­kan masing-masing jari tangan untuk bertransaksi,” kata H. Syafrizal Layang (53), salah seorang pedagang ”Toke Tara­nak” di Pasar Muaro Paneh.

Terkadang dibalas dengan anggukan dan gelengan kedua belah pihak tanda setuju atau tidak dengan penawaran yang diberikan, Sehingga calon pem­beli lain tak mengetahui nilai yang ditawarkan.

Masyarakat Minang biasa menyebut tradisi ini dengan se­butan marosok, atau dalam dia­lektika orang Solok di­ba­ca ma­rasok, yang berlangsung di hari jual-beli ternak at­au pakan tara­nak. Kedua tangan yang berjabat tidak terlihat orang di luar pen­jual-pembeli. Sebab, tangan yang bersalaman itu selalu ditutupi benda lain, seperti sa­rung, sapu tangan, baju, topi atau media lain yang dapat menutupi tangan yang sedang bertransaksi itu.

Pedagang dan pembeli tawar-menawar sapi dengan meng­guna­kan kode jari-jari tangan di bawah kain. Jari-jari tertentu me­nunjuk­kan angka dalam ju­ta­an, ratusan ribu, hingga puluhan ribu.

“Semisal, pedagang ingin menjual ternaknya seharga Rp 6,4 juta, maka dia akan memegang telunjuk pembeli yang me­la­mbangkan sepuluh juta rupiah. Setelah itu, empat jari yang lain digenggam dan digoyang ke kiri. Ini berarti Rp 10 juta dikurangi Rp 4 juta. Sedangkan untuk menunjukkan Rp 400 ribu, empat jari yang digoyang tadi di­geng­gam lagi dan dihentakkan. Bila di­sepakati, transaksi berakhir de­ngan harga Rp 6,4 juta,” terangnya.

Sewaktu tawar menawar ber­langsung, penjual dan pembeli saling menggenggam, memegang jari, menggoyang ke kiri dan ke kanan. Jika transaksi berhasil, setiap tangan saling melepaskan. Sebaliknya, jika harga belum cocok, tangan tetap meng­geng­g­am erat tangan yang lain seraya menawarkan harga baru yang bisa disepakati.

Seperti yang dilihat di Pasar Ternak Muaro Paneh, Keca­matan Bukit Sundi Kab. Solok. Pada pasar yang hanya berak­tivitas setiap hari Senin ini, ada ratusan pedagang dan pembeli yang berseliweran di areal lebih dari dua hektar ini yang datang dari berbagai daerah di penjuru Ranahminang. Bahkan ada yang datang dari Jambi dan Riau. Hentakan kaki dan lenguhan suara ratusan ternak yang terpaut berjejer rapi di bawah tenda pemilik lapak menjadi pe­man­dangan akrab di pasar ternak ini.

Menurut Syafrizal Layang, transaksi Marasok seperti itu memang jamak dilakukan di setiap pasar ternak yang ada di Ranah Minang hingga ini, tentu saja dengan cara yang disepakati ma­syarakat masing-masing daerah.

“Tujuannya agar orang lain tak melihat proses transaksi tersebut. Dengan begitu, harga ternak hanya diketahui antara penjual dan pembeli. Kalau sepakat, dibalas dengan anggukan, dan ternak yang ditawar sudah bisa dibayar dan dibawa pulang,” terang Syafrizal.

Pihaknya juga tidak me­nge­tahui secara pasti, kapan marosok ini bermula. Bahkan ada pe­daga­ng ternak yang mengakui, tradisi ini konon sudah dimulai sejak zaman raja-raja di Minangkabau dan di­terima secara turun temurun.

“Sejak kecil saya sering diajak bapak saya ke pasar taranak ini, cara jual beli ini juga sudah ada,” terang Syafrizal yang mengaku mendapat keahliannya ini dari almarhum bapaknya.

Meski harga ternak cen­de­rung mengalami kenaikan dan berfluktuasi setiap tahunnya, namun kode-kode melalui jari itu tidak pernah mengalami peru­bahan. “Masih tetap (kode jari). Yang berubah-ubah itu kan harga­nya saja,” kata Syafrizal sembari tertawa.

Hal senada diungkapkan Tas­wir Pakiah Malano (64), juga salah seorang pedagang ternak di pasar itu. Sejak dirinya be­rak­tivitas di pasar itu sekitar 30 tahun silam, tradisi ini masih bertahan hingga sekarang. Ba­h­kan tradisi ini seakan tak ter­pengaruh oleh model tran­sak­si online yang mulai digemari masyarakat saat ini.

Menurutnya, bertahannya tradisi marasok ini tak lepas dari filosofi yang terkandung di­dalamnya. Karena dengan cara ini penjual dan pembeli dituntut untuk saling menghargai antara sesama, dan bebas dari intervensi pihak lain.

“Ini bukan soal uang banyak, karena umumnya yang datang kesini punya uang banyak, tapi ini lebih kepada rasa saling meng­hargai antar sesama” jelasnya. (***)

 

Laporan :
YUTIS WANDI

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]