Harga Karet Murah, Petani Beralih Tanam Gambir


Senin, 01 Februari 2016 - 01:45:51 WIB

PAINAN, HALUAN — Se­jumlah petani di Gantiang Mudiak Utara Surantiah, Kecamatan Sutera, Pesisir Selatan, menebang pohon karet milik mereka dan menggantinya dengan ta­naman gambir. Para petani tersebut melakukan hal itu karena karet dinilai tidak memberikan keuntungan.

Jefri (35) petani karet di Sutera mengungkapkan, ia sudah tidak sanggup lagi bertahan menjadi petani karet karena harga tidak kunjung naik bertahun-ta­hun dan produksi karet yang cenderung rendah. 

Dua hektare lahan ka­retnya sudah ia tebang. Hal serupa juga dilakukan oleh sejumlah pemilik lahan karet.

“Sudah bertahun tahun harga karet rendah. Saya harus menggantinya dengan tanaman gambir,” ujarnya kepada Haluan, Minggu (30/1).

Ia menuturkan, sebu­ruk-bu­ruknya harga gambir, lebih beruntung menaman gambir daripada menanam karet. “Produksi karet sa­ngat rendah. Harganya juga rendah, yakni Rp5.000 per kilogram. Untuk me­ngum­pulkan karet setempurung butuh waktu 10 hari, se­mentara produksi gambir jauh lebih tinggi dari itu,” sebut Jefri.

Pantauan Haluan di Gan­­tiang Mudiak Utara Su­ran­tiah, sekitar 10 hektare karet ditebang oleh petani dan menggantinya de­ngan ko­moditi gambir.

Saat ini, Harga gambir di Pessel tembus harga Rp21.­000 perkilogramnya. Ke­nai­kan harga terjadi akibat tingginya permintaan akhir-akhir ini.

Ujang Kemel (43), pe­tani gambir di Sutera me­nyebutkan, ia sudah dapat bernafas lega dengan harga yang ada saat ini karena harga gambir yang tidak me­nguntungkan telah terjadi beberapa tahun belakangan.

Selanjutnya Erman (45), petani gambir di Su­tera menuturkan, ia kini bisa menjual gambir kering ke­pada pedagang seharga Rp21.000 per kg. “Harga ini sudah memberikan ke­untungan bagi petani. Kami tidak lagi tekor ketika me­ngolah gambir, dan bisa me­nu­tupi biaya ope­ra­sional, mulai dari biaya perawatan, biaya panen hingga kempa. Dengan har­ga Rp21.000, kami tidak berhutang,” te­rangnya di Pasar Surantiah.

Sebelum harga naik, ia mengaku sangat  tertekan saat menjual produksi gam­birnya. Selama ini pedagang ha­nya mematok harga Rp11.000. Dengan harga sebesar itu, ia tak sanggup membiayai berbagi kebu­tuhan keluarga, misalnya biaya sekolah anak anak dan kebutuhan rumah tangga.

Menurut Chandra (37), pedagang pengepul di Su­ran­tia, kenaikian harga gam­­­bir terjadi karena harga di tingkat eksportir cukup baik. “Pasaran luar negeri sedang baik,” katanya.

Empat tahun sebe­lum­nya, kata Chandra, harga gambir malah sempat naik melebihi harga saat ini. Petani gambir ketika itu di Pessel bergairah merawat dan me­manen daun gam­birnya. Bah­kan, ladang gam­­bir yang selama setahun belakangan di­tinggalkan pe­miliknya kem­bali dikelola dengan baik.

Terjadinya kenaikan har­ga gambir di Pessel saat itu karena meningkatnya per­min­taan pasar luar negeri, terutama India, sementara produksi gambir sedikit. Selain itu, kenaikan harga gambir juga dipicu makin be­rtambahnya jumlah eks­portir gam­bir di Sumatera Barat. (h/har)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]