Belum Diminati Masyarakat

Pertumbuhan Bank Syariah di Sumbar Melambat


Senin, 01 Februari 2016 - 01:46:51 WIB

PADANG, HALUAN — Pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia berada di bawah 5 persen. Berdasarkan data itu, pertumbuhan dana mau­pun pembiayaan bank syariah tidak begitu signifikan. Di Sumbar, perkembangan syariah jug­a belum begitu baik. Meski mayoritas ma­syarakat Sumbar beragama Islam, namun per­kembangan perbangkan syariah di provinsi ini juga kurang menggairahkan.

Hal itu dikatakan oleh Kepala Cabang Bank Nagari Syariah Padang, Mulyadi Bachiar kepada Haluan saat wawancara melalui Bbm, Minggu (31/1). 

Menurutnya, banyak fak­tor yang menyebabkan ku­rang bertumbuhnya per­ban­kan syariah di Sumbar. Salah satunya adalah mi­nimnya pengetahuan masyarakat ten­tang produk syariah, sehingga antusiasme masyarakat untuk meng­gunakan produk per­bankan syariah masih kurang.

“Masyarakat masih be­rang­gapan bahwa produk per­ban­kan syariah sebenarnya adalah duplikasi dari bank konvensional yang kemudian dipermak sedemikian rupa dan diberi label syariah. Se­bagian besar masyarakat ma­sih menganggap produk sya­riah sama saja dengan produk konvensional karena masih minimnya pengetahuan ma­syarakat tentang perbankan syariah. Oleh karena itu, perlu sosialisasi dan eduksi tentang perbankan syariah. Hal ini harus dilaksanakan oleh se­mua pihak yang berke­pen­tingan dengan perkembangan perbankan syariah, seperti pe­merintah, perbankan, per­guruan tinggi, media massa, dan sebagainya,” tuturnya pria yang akrab dipanggil Momon ini.

Ia menganalogikan pen­tingnya masyarakat muslim menggunakan produk bank syariah dibandingkan bank konvensional. Jika bank sya­riah adalah minuman mineral berharga Rp10.000, semen­tara bank konvensional ada­lah minuman beralkohol ber­harga Rp5.000, masyarakat mus­lim mesti memilih minu­man mineral karena kebu­tuhan akan kehalalan suatu produk. 

Meski demikian, me­nu­rut­nya, perbankan syariah se­baiknya tidak memaksakan kepada muslimuntuk beralih ke bank syariah. Akan tetapi, perbankan syariah harus le­bih mengerti akan kebutuhan ma­sya­rakat dan menyediakan ke­bu­tuhan masyarakat terse­but sesuai dengan hukum syariah.

Sementara itu, Ronny P. Sasmita, Analis Ekonomi Politik Financeroll Indonesia menuturkan, berdasarkan data Bank Indonesia yang ia amati, kinerja perbankan syariah di Sumbar hingga triwulan III 2015 semakin melambat. Hal ini bisa di­buktikan dengan indikator-indikator perbankan syariah yang mengalami konstraksi pertumbuhan pada triwulan III tahun lalu.

“Dari catatan yang ada, secara tahunan (year on year), per­tum­buhan aset bank umum syariah pada triwulan III 2015 mengalami kontraksi sebesar mi­nus 2,0 persen dengan nilai aset sebesar Rp4,87 triliun. Ini adalah lanjutan dari kontraksi yang lebih dalam dari triwulan se­be­lumnya sebesar minum 1,2 per­sen. Melambatnya per­tum­buhan aset umum syariah sejalan dengan terus ter­ko­reksi­nya pertumbuhan penya­luran pembiayaan yang di­la­kukan oleh perbankan syariah Sumbar. Selain itu, nilai rasio NPL yang terus meningkat, juga memberikan pengaruh terhadap pe­ning­katan nilai cadangan yang diperlukan bank dan pada akhirnya akan berdampak terhadap kinerja aset per­bankan,” terang pria asal Agam ini.

Ia melanjutkan, peng­him­punan dana pihak ketiga (DPK) per­­bankan syariah Sumbar mengalami kontraksi pertumbuhan pada triwulan III 2015. DPK bank umum sya­riah di Sumbar hanya mam­­pu tumbuh sebesar mi­nus 3,6 persen secara tahunan. Dugaan sementara saya, lam­batnya pertumbuhan DPK perbankan syariah adalah akibat dampak masih ting­ginya suku bunga DPK bank umum konven­sional. Dari data yang ada, penurunan pertumbuhan DPK bank umum syariah di Sumbar bahkan terjadi pada semua pro­duk DPK, terutama de­posito dan giro yang tumbuh negative. Jadi, saya menduga, persaingan imbal hasil dari suku bunga DPK bank umum konvensional dan besarnya sis­tem bagi hasil yang dita­warkan bank umum syariah masih menjadi pertimbangan masyarakat dalam me­nyim­pan dananya, selain belum terlalu populernya produk-produk perbankan syariah tentunya.

“Angka pembiyaan per­bang­kan syariah secara no­minal di Sumbar, saya  per­ha­tikan, terus mengalami penu­runan. Angkanya merosot menjadi Rp3,55 triliun dari sebelumnya sebesar Rp3,62 triliun atau terus mengalami kontraksi sebesar minus 3,6 persen secara tahunan pada triwulan III 2015. Kontraksi pembiayaan perbankan sya­riah terjadi pada jenis peng­gunaan pembiayaan modal kerja dan konsumsi, yang masing-masing terkontraksi sebesar minus 10,3 persen secara tahunan dan minus 3,4 persen secara tahunan. Secara sektoral, penurunan pem­biayaan sektor rumah tangga yang terkontraksi sebesar mi­nus 3,4 persen secara tahunan. Kontraksi pembiayaan sektor rumah tangga sangat ber­pengaruh terhadap kinerja pembiayaan bank syariah yang didominasi sektor ru­mah tangga menurun cukup tinggi,” jelasnya saat wawan­cara melalui Bbm.

Ia berkesimpulan, hampir di semua lini perbankan sya­riah tertinggal jauh dari per­ban­kan konvensional. Me­lambatnya pertumbuhan ki­nerja perbankan syariah dari sisi perekonomian Sumbar pun masih sangat bisa di­wajari pula, selain karena perlambatan ekonomi daerah dan tingginya tingkat kom­petisi yang diberikan per­ban­kan konvensional, secara so­sio­logis pun masyarakat Sum­bar meskipun sangat kental nuansa religiusnya, masih bisa dibilang belum terbiasa de­ngan sistem per­bankan sya­riah. Sedari dulu, ma­syarakat Sumbar dominan jiwa ko­mersialnya, dalam hal ini jiwa dagang, jiwa mencari untung. Jadi, jika perbankan syariah setempat tidak mampu me­la­kukan penetrasi lebih dalam kepada masyarakat, maka kinerjanya diperkirakan akan semakin melambat. (h/dib)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]