Pesawat Terbang, Televisi Rakitan dan “Ironman”


Senin, 01 Februari 2016 - 01:53:07 WIB
Pesawat Terbang, Televisi Rakitan dan “Ironman”

Karya anak bangsa, pada dasarnya harus dilindungi dan didukung penuh oleh Negara, karena inovasi dari generasi muda ini menentukan perubahan dari negara tersebut. Mulai dari pesawat terbang dari zaman Habibie dulu, dan akhir-akhir ini berupa televisi rakitan dari serang pria lulusan SD, dan “ironman” dari Bali yang banyak diperbincangkan kini.

Mengenai pesawat ter­bang, bak cerita melegenda bagi bangsa Indonesia. bahwa Indonesia pernah mem­pro­duksi pesawat terbang sendiri. Ketika itu, Presiden Suharto berencana untuk memulai proyek besarnya di Indonesia untuk membangun industri pe­sawat terbang. untuk me­rea­lisasikan rencana tersebut, Pada 1973 Presiden Suharto memerintahkan Letjen Ach­mad Tirtosudiro untuk me­manggil kembali Prof. Dr. Ing. BJ Habibie yang berada di Jerman.

Dan ya, hasilnya pada 10 Agustus 1995, sebagai hadiah kepada negara Indonesia, pada HUT ke-50 RI, IPTN mempersembahkan pener­bangan perdana (first flight) N-250 dengan pilot Capt. Erwin Danuwinata. Namun, krisis moneter berkata lain, ketika Soeharto meminta IMF untuk menalangi dana bantuan dalam pen­gem­ba­ngan N2130, IMF tak me­nga­bulkan secara cuma-cuma. Malah, IMF meminta kepada pemerintah Indonesia melalui klausul pinjaman untuk menutup IPTN. IPTN pun pada akhirnya ditutup dan dinyatakan bangkrut.

Selang beberapa generasi, Belum pudar ingatan dan kekecewaan terhadap pe­nutupan IPTN, kekecewaan kembali muncul. Kasus peng­hancuran televisi rakitan se­orang putera bangsa bernama Muhammad Kusrin bin amri, yang “hanya” lulusan SD (Sekolah Dasar)  sangat di­sayangkan. Televisi rakitan tersebut dimusnahkan oleh pe­tugas Kejaksaan Ka­ra­nga­nyar, Jawa Tengah. Lagi-lagi negara berada dalam posisi tidak mendukung karya anak bangsa.

Tak cukup karyanya di mus­nahkan petugas, Mu­ham­mad Kusrin pun harus me­nerima kenyataan bahwa di­rinya melanggar Pasal 120 (1) jo Pasal 53 (1) huruf b UU RI No. 3/2014 tentang Pe­rin­dustrian. Tak hanya itu, Kus­rin juga dinyatakan me­langgar Permendagri No. 17/M-IND/PER/2012 tentang Pe­ru­ba­han Permendagri No. 84/M-IND/PER/8/2010 tentang Pemberlakuan Standar Na­sional Indonesia terhadap tiga industri elektronika se­cara wajib.

Setelah beberapa waktu ke­mudian, setelah Indonesia “bersedih” karena karya te­levisi rakitan malah di mus­nahkan kejaksaan. Namun, kali ini kita berbangga dengan adanya sosok “Ironman” dari Bali. Wayan Sumardhana (31), yang pada pertengahan 2015 lalu terkena stroke hing­ga tangan kirinya lumpuh, sehingga menyulitkan pe­ker­jaannya sebagai tukang las. Kemudian, malah ia mem­buat Indonesia geger dengan im­provivasinya untuk meng­gantikan peran tangannya yang lumpuh. Ya, ia membuat seperangkat alat, sehingga julukan “Ironman” dari Bali pun melekat padanya.

Dan hebatnya lagi, Wayan mengklaim bahwa untuk meng­­­gerakkan alat tersebut menggunakan perintah otak. Alat yang berada bak mahkota di kepalanya yang berfungsi memindai aktivitas gelombang otak, yang diterjemahkan da­lam bentuk gerakan. Uniknya, untuk kecanggihannya, me­mang perlu di apresiasi, karena Wayan hanya jebolan Sekolah Teknik Menengah Rekayasa, Den­pasar. Karyanya yang de­mikian menjadi tidak lumrah jika melihat latarbelakangnya, karena biasanya yang mem­buat alat-alat dengan me­min­dai gelombang otak itu adalah para ahli, semisal oleh para ahli Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA), sebuah lembaga di bawah Departemen Pertahanan Ame­rika Serikat. Sehingga, kemu­dian muncul isu yang me­nya­takan inovasi wayan ini sebagai hoax.

Political Will

Ketika Go-jek dihentikan pengoperasiannya oleh Ke­men­terian Perhubungan, Pre­siden Jokowi kurang kebih mengatakan seperti ini, “Go-jek itu ada karena dibutuhkan masyarakat, jadi hukum ja­ngan sampai mengindahkan kebutuhan masyarakat”. Nah, secara tidak langsung, ucapan-upa­can seperti itu men­cer­minkan adanya political will dari negara.

Yang patut disesalkan, adalah ketika negara tak mam­pu mengakomodir dan mem­fasilitasi inovasi dan karya anak bangsa. Dan dengan kakunya, negara malah meng­hancurkan karya kreatif anak bangsa dan bahkan “tega” menceploskan anak bangsa yang inovatif ke jerusi besi. Negara tak cukup bijak me­nyi­kapi masalah ini, karena cara seperti pelatihan dan pem­binaan tidak menjadi pilihan. Bisa dibayangkan, seorang yang hanya lulusan Sekolah Dasar mampu me­rakit televisi dari alat elek­tronik bekas. Feno­mena ini seharusnya me­nya­darkan ne­gara akan potensi anak bangsa. Jika pelatihan dan pembinaan dilakukan, SNI bukan men­jadi hal yang mus­tahil untuk dicapai oleh putera bangsa “lulusan SD” tersebut. Be­gi­tupun dengan fenomena Iron­man dari Bali ini. Ter­lepas dari isu hoax tersebut, tapi pe­merintah harus sece­patnya mengecek kebenarannya, dan jika benar menjadi kewajiban pemerintah untuk men­du­kung dan melindungi karyanya.

Kasus ini tentu menjadi antitesis dari pemerintah dalam menyonsong MEA. Karena mematikan krea­tivi­tas masyarakat, terlebih ge­nerasi mudanya. Dalam meng­hadapi MEA, sudah tentu inovatif dan kreativitas dari masyarakat di tuntut, hal ini demi bisanya masyarakat Indonesia untuk bersaing dalam kancah MEA. Sehin­g­ga, kasus penghancuran te­levisi rakitan karya anak bangsa tersebut tidak dapat dibenarkan lagi. Karena un­tuk bersaing dalam MEA, ne­gara harus membantu ma­sya­rakat untuk bersaing dengan cara memberi pelatihan dan pembinaan kepada putera-puteri bangsa untuk men­ciptakan hal-hal yang inovatif.

Political will atau ke­inginan politik harus ada dari negara untuk melindungi karya pu­tera-puteri bangsa. Aspek hu­kum tidak akan men­j­adi per­soalan jika keinginan politik ada, karena tentu akan ada kebijakan yang pro karya putera-puteri bangsa yang dihasilkan dari keinginan politik tersebut. Keinginan politik tersebut harus mampu mengalahkan kekuatan kaum kapitalis yang menutup celah karya anak bangsa, artinya posisi tawar negara harus ditingkatkan. Tidak bisa di­pungkiri, rasa cinta tanah air amat ber­pe­ngaruh disini, ka­rena mereka yang tidak cinta akan tanah airnyalah yang “tega” meng­gadaikan tanah airnya ke asing, atau meng­hancurkan generasi mudanya demi hal-hal yang komersial. Pun de­mikian dengan para konglomerat ini, untuk itu political will dibutuhkan, yaitu political will yang ber­basis kepentingan bangsa, bukan kaum kapitalis.

Posisi Indonesia tidak boleh kalah ketimbang ke­kuatan kapitalis atau si pe­miliki modal. Karena, jika kalah maka tersingkirlah karya-karya anak bangsa. Se­hingga itu menjadi bukti konkreat bahwa kekuatan kapitalis tidak menginginkan posisinya tergusur oleh karya dan inovasi anak bangsa tadi. Untuk itu, mari bersama mendukung karya anak bang­sa. Karena mereka pelanjut estafet keberlangsungan ne­geri ini. (*)

 

IKHSAN YOSARIE
(Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik,
Analis Kebijakan Publik Litbang HMJ-IP FISIP Unand)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 09 Januari 2016 - 03:07:37 WIB

    Jangan Diam Lagi, Saat Kehilangan di Bagasi Pesawat

    Praktik pencurian barang penumpang di Bagasi pesawat udara ternyata bukan dongeng lagi. Tapi nyata dan praktiknya sangat sis­tematis. Aksi pencurian yang sitematis itu dibongkar oleh tim kepolisian Bandara Soekarno-Hatta di .

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]