Ekonomi Sulit, Perceraian di Bukittinggi Meningkat


Selasa, 02 Februari 2016 - 18:20:16 WIB

BUKITTINGGI, HALUAN – Berdasarkan data Pengadilan Agama Bukittinggi, jumlah perkara yang diterima dari tahun 2014 hingga 2015 meningkat. Pada tahun 2014 tecatat sebanyak 698 perkara dan meningkat pada tahun 2015 sebanyak 731 perkara. Perkara yang paling dominan adalah perkara cerai gugat. Pada tahun 2014 tecatat sebanyak 393 perkara dan pada tahun 2015 sebanyak 400 perkara.

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Bukittinggi Dra. Elzawarti saat ditemui Haluan di ruang kerjanya, Selasa (2/2) mengatakan perkara cerai gugat (perkara cerai yang diajukan oleh istri) lebih tinggi dibandingkan dengan cerai talak (perkara cerai yang diajukan oleh suami). Hal tersebut terlihat dari perkara yang masuk pada tahun 2014, 393 perkara cerai gugat dan 169 perkara cerai talak, sedangkan pada tahun 2015 sebanyak 400 perkara cerai gugat dan 188 cerai talak.

“Faktor penyebab perceraian paling sering yaitu tidak harmonis, hal itu mencakup faktor ekonomi, poligami tidak sehat, krisis akhlak, cemburu, selingkuh, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan masih banyak lagi,” ujar Elzawarti atau yang akrab dipanggil An.

An menambahkan selain perkara cerai masih banyak jenis perkara yang masuk ke Pengadilan Agama Bukittinggi seperti perkara izin poligami, pencegahan perkawinan, penolakan perkawinan oleh PPN, pembatalan perkawinan, kelalaian atas kewajiban suami atau istri, harta bersama, penguasaan anak, nafkah anak oleh ibu, hak-hak bekas istri, pengesehan anak dan pencabutan kekuasaan orang tua. (h/wet)

 

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]