Awal Tahun, Inflasi Sumbar 0,05 Persen


Kamis, 04 Februari 2016 - 03:33:29 WIB

PADANG, HALUAN — La­ju inflasi Sumatera Barat (Sumbar) pada Januari 2016 relatif rendah. Tercatat la­ju inflasi bulanan Sumbar pada awal 2016 sebesar 0,05 per­sen atau menurun sig­nifikan dibandingkan De­sember 2015, yakni 1,79 persen. Secara tahunan, laju inflasi Sumbar berada pada angka level 2,97 persen.

Dibandingkan dengan provinsi lain se-Indonesia, Sumbar menempati posisi ke lima sebagai provinsi dengan laju inflasi terendah pada Januari 2016 setelah Provinsi Gorontalo, Sula­wesi Tengah, Sulawesi Utara dan Sulawesi Barat. Namun demikian, Sumbar masih merupakan provinsi dengan inflasi terendah di regional Sumatera.

Kepala Bank Indonesia Puji Atmoko, Rabu (3/2) menyebutkan, secara spa­sial, inflasi Kota Padang dan Bukittinggi dalam hitungan bulanan tercatat sebesar 0,02 persen  dan 0,30 persen  yang berada pada posisi ke-22 dan ke-18 dari sebanyak 23 kota sampel inflasi di regional Sumatera.

“Komoditas administered prices atau harga barang-barang yang diatur pe­me­rin­tah, menjadi sumber utama meredanya tekanan inflasi Sumbar. Kelompok ad­mi­nis­tered prices mencatatkan deflasi bulanan sebesar 0,77 persen pada Januari 2016, sebagai akibat dari kebijakan penurunan harga BBM, baik untuk jenis bahan bakar ben­sin maupun solar,” terangnya.

Selain itu, kembali no­r­malnya harga tiket angkutan udara setelah pola musiman akhir tahun lalu juga turut membantu menahan laju membaiknya laju inflasi Sumbar ke level yang lebih tinggi. Namun demikian, penurunan laju inflasi yang lebih rendah tertahan ka­rena terjadinya kenaikan harga pada kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food), terutama bawang merah, cabai merah dan daging ayam ras.

Menurutnya, ber­ku­rang­nya pasokan cabai merah dan bawang merah akibat cuaca dan tingginya per­mintaan pada akhir 2015, menjadi penyebab kenaikan harga komoditas tersebut pada Januari 2016. Di sisi lain, tekanan inflasi dari kelompok volatile food juga disumbang oleh pe­ning­katan harga pakan ternak, terutama yang berasal dari komoditas jagung, seiring de­ngan kebijakan pem­batasan impor jagung secara nasional.

Kondisi tersebut ber­pe­ngaruh terhadap terjadinya kenaikan harga jual pada komoditas ayam potong.

Tekanan inflasi Sumbar diperkirakan moderat tidak cukup tinggi hingga tri­wulan I tahun 2016. Risiko pengalihan pelanggan listrik rumah tangga dari 900VA menjadi 1300VA dapat di­mi­nimalkan, apabila pe­me­rintah tetap konsisten dalam melakukan penyesuaian pe­nurunan harga BBM seiring dengan cenderung turunnya harga minyak dunia yang cenderung menurun. Na­mun demikian, yang perlu diwaspadai adalah potensi risi­ko terbatasnya pasokan ko­moditas pangan dari dae­rah-daerah sentra produksi di Jawa ke Sumbar. Per­geseran musim tanam di Jawa akibat dari fenomena el nino serta intensitas hujan yang tinggi di awal 2016, dapat berdampak pada ter­jadinya gagal panen di se­jum­lah sentra produksi, se­hing­ga menyebabkan ter­ganggunya pasokan ko­moditas terkait ke Sum­bar. (h/win)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]