Toshiba-Panasonic Hengkang dari Indonesia

2.500 Pekerja Terancam Nganggur


Kamis, 04 Februari 2016 - 04:21:01 WIB
2.500 Pekerja Terancam Nganggur Pekerja melintas di dalam area Pabrik Toshiba, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (3/2). PT Toshiba Indonesia mengumumkan menutup pabriknya pada pertengahan Januari 2016 lalu akibat melambatnya pasar global. (ANTARA)

JAKARTA, HALUAN — Iklim investasi di Indonesia kian mendung.  Setelah dua perusahaan multinasional seperti Chevron Pacific Indo­nesia (CPI, biasa disebut Caltex) dan PT Ford Motor Indonesia hengkang, giliran perusahaan besar asal Jepang, PT Toshiba Indonesia dan PT Panasonic Lighting berhenti operasi Indonesia.

Tak pelak, ancaman PHK (pemutusan hubungan kerja) massal mengancam. “Sekitar 2.500 pekerja akan di-PHK,” ujar Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal dalam konferensi pers di Hotel Mega Proklamasi, Jakarta, Selasa (2/1/2016).

Said menjelaskan, ribuan pekerja itu terdiri atas sekitar 1.700 anggota KSPI di PT Panasonic dan 970 anggota KSPI di PT Toshiba. Ia merin­ci, sebanyak 600-700 pekerja dari Panasonic Lighting Pa­suruan di-PHK pada periode Desember 2015-Januari 2016. 

Sementara itu, Panasonic Lighting Cikarang-Bekasi, sejumlah 900-1.000 karyawan di-PHK untuk periode Januari 2016 sampai dengan Maret 2016.

Kedua pabrik Panasonic Ligh­ting ini resmi ditutup. Pabrik Toshiba di Cikarang-Bekasi pun mengumumkan ditutup pada pertengahan Januari lalu. Saat ini, pekerja tengah dalam proses negosiasi pesangon. Perusahaan akan resmi berhenti beroperasi pada Maret mendatang.

Di luar dua perusahaan elek­tronik raksasa ini, terdapat dua perusahaan elektronik lain asal Korea Selatan yang juga mengu­mumkan akan menutup pa­brik­nya di Indonesia, yaitu PT Sa­moin, yang telah mem-PHK 1.200 karyawannya, dan juga PT Starlink, yang mem-PHK 500 orang pekerja. Kedua perusahaan ini telah selesai beroperasi di Indonesia pada Januari kemarin.

Said Iqbal mengatakan, tutup­nya Panasonic Lighting dan juga Toshiba ini memberikan sinyal negatif terhadap investor asing yang akan datang ke Indonesia. Selain itu, yang paling buruk menurut Said adalah lantaran Kementerian Perindustrian tidak mengetahui penutupan pabrik ini.

Faktor lesunya industri elek­tronik ini, menurut Said Iqbal, di antaranya adalah kondisi pasar yang tidak kondusif. Melam­batnya pasar global turut meme­ngaruhi pasar domestik. Perlam­batan ini mengakibatkan barang produksi menjadi tidak laku di pasaran. Selain itu adalah karena menu­runnya daya beli masya­rakat.

Manajemen Panasonic Ligh­ting dan Toshiba mengklaim, penutupan pabrik bukan lan­taran upah buruh yang tinggi, melainkan karena sepinya pasar dan penurunan daya beli. 

Namun, kata Said, PP Nomor 78 Tahun 2015 mengenai pe­ngendalian upah terbukti menu­runkan daya beli masyarakat karena buruh pabrik merupakan pasar utama dari industri padat modal, seperti industri otomotif dan sebagainya. Dengan adanya pengendalian upah, daya beIi menjadi turun sehingga tingkat konsumsi masyarakat pun men­jadi lemah.

Dengan PHK, pelemahan daya beli ini, tingkat pertum­buhan ekonomi 2016 yang ditar­getkan mencapai 5,3 persen, menurut Said Iqbal, tidak akan tercapai dan hanya akan tumbuh sama seperti 2015 lalu, di level 4,7 persen.

Faktor lain ialah kegagalan paket kebijakan pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla di tingkat implementasi karena justru ba­nyak perusahaan yang tutup. Faktor ketiga, menurut Said Iqbal, adalah retorika paket kebijakan hanya untuk menye­nangkan investor. Padahal, kenya­taannya investor memilih wait and see untuk masuk ke Indonesia lantaran banyak yang hengkang.

Sementara itu, Menteri Pe­rin­dustrian Saleh Husin menga­ku belum mendengar kabar bahwa pabrik PT Panasonic Lighting dan PT Toshiba di Indo­nesia akan tutup tahun ini. “Saya baru dengar info tersebut, kami akan cek,” ujarnya kepada Tempo, Rabu, 3 Februari 2016.

Terpisah, Meski kondisi inves­tasi menunjukkan awan kelam, pemerintah ternyata ma­sih percaya diri iklim investasi masih baik.

Badan Koordinasi Pena­na­man Modal (BKPM) mencatat, komitmen investasi di sektor elektronik pada awal tahun ini tumbuh 85 persen atau senilai Rp 530 miliar. Tumbuhnya komitmen investasi tersebut merupakan salah satu indikator bahwa kepercayaan investor sektor elektronik di Indonesia tetap tinggi. 

“Komitmen ini merupakan salah satu indikator yang dipakai untuk menunjukkan bahwa dari sisi iklim investasi dan minat sebenarnya masih tetap tinggi. Ini yang akan didorong untuk segera direalisasikan,” ujar Kepala BKPM Franky Sibarani di Ja­karta, Rabi (3/2).

Franky menjelaskan, komit­men investasi di sektor elek­tronik tersebut salah satunya yakni perusahaan asal Cina yang memanfaatkan layanan izin 3 jam. Nilai investasi yang ditanam­kan yakni sebesar Rp 125 miliar dengan rencana penyerapan tenaga kerja sebesar 1.500 orang. Menanggapi adanya isu tutupnya dua raksasa elektronik yakni Panasonic dan Toshiba, Franky mengatakan, saat ini BKPM sedang melakukan komunikasi dengan perusahaan terkait.

“Berdasarkan komunikasi awal dengan perusahaan, mereka melakukan restrukturisasi untuk meningkatkan daya saing. Kebi­ja­kan pendukung yang dibutuh­kan untuk meningkatkan daya saing adalah ketersediaan gas dan penerapan SNI untuk produk yang dihasilkan,” kata Franky.  (h/kcm/sdn/rep)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 27 Januari 2020 - 18:43:27 WIB

    Tarif Ojol Kemungkinan Naik, Usulannya Jadi Rp 2.500/Km

    Tarif Ojol Kemungkinan Naik, Usulannya Jadi Rp 2.500/Km JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Evaluasi tarif ojek online terus dilakukan pemerintah. Sebelumnya, beberapa hari lalu, Kementerian Perhubungan baru saja mengumpulkan pihak driver ojol dengan beberapa pihak terkait..

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]