Sumber Energi Pembangkit Listrik

Pemanfaatan Thorium Butuh Waktu 40 Tahun


Sabtu, 06 Februari 2016 - 03:58:12 WIB

JAKARTA, HALUAN — Ke­pala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Su­listio Wisnubroto menga­ta­kan, pemanfaatan thorium sebagai sumber energi pem­bangkit listrik membutuhkan waktu hingga 40 tahun.

“Thorium itu tidak bisa langsung dipakai, harus diu­bah dulu jadi uranium dan prosesnya tidak mudah. Kalau dalam istilah teknis disebut bahan ‘fertil’ (membiak atau tidak bisa membelah diri) harus diubah dulu dengan direaksikan dengan neutron,” katanya di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, butuh waktu 40 tahun untuk mengem­bang­kan dari tahap eksperimen hingga sampai menjadi ko­mersial.

“Sebagai contoh belum ada negara besar yang sudah memanfaatkan thorium se­cara komersial. Alasannya butuh waktu untuk merubah thorium menjadi uranium, dan itu juga masih butuh uranium,” ujarnya.

Negara yang saat ini cukup maju melakukan eksperimen thorium adalah India, yang menurut dia, untuk menda­patkan uranium. “Tapi saat saya tanya teman-teman dari India, mereka katakan butuh waktu beberapa dekade untuk bisa sampai pembangkit listrik tenaga thorium dapat bero­perasi,” katanya.

Djarot mengatakan Batan sebagai organisasi penelitian dan pengembangan (litbang) tentu juga harus dapat menje­laskan kondisi sebenarnya dari perkembangan PLTT tersebut di dunia, jangan sampai In­donesia terjebak dengan ter­bu­ru-buru membuat kepu­tusan ingin mengem­bang­kannya dengan tidak mem­perhatikan prosesnya.

“Kadang ada perusahaan luar yang menawarkan seolah (pembangkit listrik) thorium itu bisa diimplementasikan dengan cepat, misal hanya butuh lima tahun langsung bisa jadi. Kami selalu katakan hati-hati ya, karena jika ini diimplementasikan dan ter­nyata gagal nanti program nuklir lainnya bisa terpe­ngaruh,” ujar dia.

Meski demikian, ia me­nga­takan pihaknya sadar ba­nyak yang begitu antusias dengan teknologi pembangkit listrik dengan menggunakan thorium ini, termasuk sejum­lah menteri di Kabinet Kerja. Namun, banyak tahapan yang perlu dilakukan terlebih dulu misalnya dimulai dari meng­kaji membuat bahan bakarnya terlebih dulu, lalu mencoba thorium dengan meng­guna­kan reaktor daya eksperimen (RDE).

Sementara itu, pakar pem­bangkit listrik dengan tenaga thorium dari International Atomic Energy Agency (IA­EA) Matthias Krause menga­takan, ada beberapa kelebihan thorium dibanding uranium yakni jumlahnya tiga hingga empat kali lipat dibandingkan uranium di dunia. Sifat fisik­nya jauh lebih baik dan lebih stabil dibanding uranium, meski membutuhkan biaya lebih tinggi dan lebih rumit dalam mengolahnya.

Hal positif yang dimiliki pembangkit listrik dengan thorium dibanding dengan uranium, menurut dia, reak­tornya lebih aman meski se­benarnya keamanan sebuah reaktor bergantung dengan teknologi yang digunakannya bukan dengan apa yang dita­ruh di dalamnya.

Thorium dapat digunakan di semua teknologi sama yang dapat digunakan uranium, dan limbahnya bisa kurang bera­cun dibanding limbah ura­nium setelah 300 tahun.

Alasan belum ada thorium yang dikembangkan secara komersial sejauh ini di dunia, menurut Krause, karena tidak dapat digunakan secara lang­sung, harus dikombinasikan dengan neutron dan prosesnya rumit.

“Biasanya saat negara itu harus menggunakannya saat itu mereka akan berinvestasi, dan saat ini hanya India yang pada tahap harus menggu­nakannya,” katanya.  (h/ans)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat, 27 Juli 2018 - 10:35:15 WIB

    Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan untuk Kedaulatan Energi di Indonesia

    Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan untuk Kedaulatan Energi di Indonesia JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) merupakan penentu tercapainya kedaulatan energi di Indonesia. Dalam janji politik Pemerintahan Jokowi–JK yang dikenal dengan Nawacita, sektor energi .
  • Selasa, 06 Desember 2016 - 01:19:32 WIB

    Pemanfaatan Dana Desa Harus Sesuai Kebutuhan Rakyat

    KUTAI, HALUAN — Dana desa merupakan salah satu program pemerintahan Jokowi dan JK yang bertujuan untuk menyejahterakan rakyat dan pembangunan daerah. Karena itu, pemanfaatan dana tersebut harus sesuai dengan kebutuhan masya.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]