HPN 2016 dan Profesionalisme Wartawan


Sabtu, 06 Februari 2016 - 04:02:52 WIB

Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) akan diselenggarakan 6-9 Februari 2016 di Lombok, Provinsi Nu­sa Tenggara Barat (NTB). Tema HPN 2016: “Pers yang Merdeka Mendorong Po­ros Maritim dan Pariwisata Nusantara”. Pre­siden RI Joko Widodo dijadwalkan ha­dir di acara puncak HPN 2016. Ke­hadiran pre­siden sudah menjadi rutinitas setiap ta­hun dalam peringatan HPN. Kehadiran pre­siden juga sekaligus meng­konfirmasi be­tapa pentingnya peran pers dalam kehi­du­pan bernegara. Karena itu pula pers di­no­batkan sebagai pilar keempat demo­kra­si.

HPN diselenggarakan setiap tahun pada tang­gal 9 Februari (bertepatan dengan hari ulang tahun Persatuan Wartawan Indonesia/PWI). HPN ditetapkan melalui Keputusan Pre­siden RI Nomor 5 Tahun 1985 yang ditan­datangani Presiden Soeharto pada 23 Ja­nuari 1985. Dewan Pers kemudian mene­tap­kan HPN dilaksanakan setiap tahun se­ca­ra bergantian di Ibukota provinsi se-Indo­ne­sia.

Tema HPN 2015 di Batam Provinsi Ke­pri: Pers Sehat, Bangsa Hebat. Sedang­kan HPN 2014 di Bengkulu mengusung  tema ‘Pers Sehat, Rakyat Berdaulat’.  Sebe­lum­nya, tema HPN 2013 di Manado, Sulawesi Utara; ‘Pers Bermutu, Bangsa Maju’. Jika ditelisik,  makna tema HPN 2013, tema HPN 2014 dan tema HPN 2015 sangatlah da­lam. Tema tersebut memberi isyarat  bah­wa peran pers sangat besar bagi rakyat dan bangsa.

Tema itu juga sekaligus meng­komfir­ma­si bahwa pers yang bisa membawa bangsa men­jadi maju, hebat dan rakyat berdaulat ada­lah pers yang bermutu dan pers yang se­hat. Bangsa yang hebat adalah bangsa yang me­miliki pers yang sehat, bukan pers yang sa­kit. Sebaliknya, pers tidak akan bisa mem­berikan kontribusi yang baik untuk me­majukan bangsa dan bagi terbentuknya rak­yat yang berdaulat, bilamana pers tidak ber­mutu dan pers tidak sehat. Pers yang ti­dak bermutu dan pers yang tidak sehat justru akan membuat bangsa ini menjadi bangsa yang tertinggal dan rakyatnya terjajah atau ti­dak berdaulat.

Sedangkan Tema HPN 2016, “Pers yang Mer­deka Mendorong Poros Maritim dan Pa­ri­wisata Nusantara”. Tema ini selain da­lam, juga sangat mengena dengan agenda pe­merintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla. Te­ma tersebut juga sangat tepat cocok de­ngan Provinsi Sumatera Barat, sebagai salah sa­tu daerah tujuan wisata terbaik di Tanah Air.

Dalam peringatan HPN Tahun 2016, selain menyukseskan tema yang telah ditentukan, kiranya juga patut kembali merevitalisasi tentang profesionalisme wartawan. Jika mau berjujur-jujur, sesung­guhnya wibawa  pers dan para wartawan sudah sangat ternodai, bila terlalu berle­bihan mengelompokan bahwa pers nyaris kehilangan kehormatan.

Kenapa kehilangan kehormatan, karena kehormatan itu telah diinjak-injak oleh wartawan bodrex, wartawan abal-abal, wartawan  bodong dan banyak lagi ungka­pan bagi orang-orang yang menjadikan profesi wartawan sebagai ajang atau media untuk memeras, menakut-nakuti atau bahkan ‘merampok nara sumber’. Keha­diran Dewan Pers dalam menjaga dan melestarikan kewibawaan profesi kewarta­wanan sangatlah penting. **

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 07 Februari 2018 - 09:59:39 WIB

    Minangkabau Summit: Peringatan HPN untuk Siapa?

    Minangkabau Summit: Peringatan HPN untuk Siapa? Menjelang akhir Januari yang lalu, Karni Ilyas kena rundung (bully) karena cuitannya di Twitter tentang kebiasaan buruk pemakaian bahasa Inggris di ruang publik..

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]