UMKM di Solok Sulit Berkembang


Selasa, 09 Februari 2016 - 03:33:26 WIB

AROSUKA, HALUAN—Per­soalan permodalan ma­sih menjadi faktor utama yang menjadi penghambat sulitnya UMKM ber­kem­bang di Kab. Solok. Ber­dasarkan data yang di­him­pun Haluan di Dinas Ko­perasi Perindustrian dan Perdagangan (Koperindag) Kab. Solok hingga  akhir Desember 2015 lalu ada sebanyak 12.847 UMKM yang aktif, namun belum mampu berkembang secara maksimal karena selain mo­dal yang dimiliki sangat terbatas juga beberapa per­soalan lain yang menjadi penghambat.

“ Untuk di kab. Solok, setidaknya ada 7 persoalan yang menjadi penghambat UMKM sulit berkembang. Diantaranya adalah per­soalan modal, perizinan, kemasan, SDM pelaku usa­ha, peralatan, promosi dan pemasaran,”kata kadis ko­perindag kab. Solok Har­wendi, SE kepada Haluan di ruang kerjanya, Jum’at (5/2) kemaren.

Khusus untuk masalah permodalan kata Harwendi, pihak pemerintah daerah memang tidak me­ngu­cur­kan bantuan modal untuk menstimulasi UMKM yang ada. Hal ini lantaran, selain terkendala oleh aturan peng­hapusan hibah dan ban­sos, anggaran yang ada di APBD kab. Solok juga sangat terbatas. “ Kalau UMKM yang ada dibantu melalui APBD, bisa habis dana APBD oleh dinas ko­perindag saja,” kata Har­wendi.

Namun hal itu bukan tanpa solusi, pihak kope­rindag jauh-jauh hari telah menjalankan program ke­mit­raan untuk mencarikan bapak angkat bagi UMKM yang ada. Para pelaku UM­KM dibawa untuk temu usaha dengan pihak per­bankan dan BU­MN, tar­getnya adalah untuk men­dapatkan kucuran modal melalui dana KUR dan CSR. Setidaknya, pada ta­hun 2014 lalu sebanyak 14 UMKM dapat dana sti­mu­lan dengan bunga ringan dari BUMN melalui dana CSR melalui program karya bina lingkungan (PKBL). Sedangkan untuk tahun 2015 belum ada data resmi dari pihak perbankan dan BUMN. “ Tugas kita sebagai pemerintah hanya memfasilitasi, sedangkan proses pengurusan dan pencairannya kita tidak ikut campur,” terangnya.

Harwendi menyebutkan UMKM yang paling banyak bergerak di bidang usaha makanan, yang berjumlah lebih dari 2000 UMKM. Ditambah dengan Industri kerjinan rumah tangga, se­perti sulaman, bordiran, PdanD dan  perbengkelan. Namun masih banyak ken­dala seperti packing pe­masaran. Disamping itu, SDM pelaku usaha yang belum mumpuni, jelas men­jadi penghambat dalam ma­ju dan berkembangnya usa­ha di tengah masyarakat. Seperti halnya dalam me­ngu­payakan dana stimulus berupa CSR dan KUR, ma­sih banyak UMKM yang belum mengantongi izin, padahal izin usaha meru­pakan salah satu per­syara­tan untuk mendapatkan bantuan.

Semua persoalan itu, kata Harwendi, satu persatu sudah mulai dijawab dengan program yang ada di dinas koperindag. Seperti so­sialisasi formalisasi izin usaha, beberapa UMKM juga sudah dibantu dengan packaging yang lebih repr­e­sentatif. Untuk peningkatan SDM, pihaknya juga telah melakukan pelatihan ter­hadap pelaku usaha namun belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh UM­KM  yang ada di daerah itu. Untuk tahun 2015 telah dialokasikan sebanyak 150 orang guna mengikuti pelatihan pengembangan usaha, disamping meberikan bantuan peralatan untuk 67 UMKM seperti seller. Se­mentara untuk promosi pi­hak koperindag  juga mem­bantu pembuatan merek, dan dipromosikan dalam pameran pameran yang dia­dakan.

Harwendi menyebutkan, sebenarnya lembaga keua­ngan yang ada di nagari sudah mampu menjawab kebutuhan UMKM yang ada. Namun terkadang ma­salah yang dihadapi terkait mental masyarakat yang kurang baik menjadi penghambat lembaga itu untuk juga berkembang. Pihaknya mencontohkan, masyarakat cenderung berutang kepada para tengkulak ketimbang taat dengan ketentuan koperasi. “ Kita anjurkan UMKM yang ada untuk bergabung dengan koperasi, hal ini untuk mengatasi per­moda­lan  untuk mendapatkan sumber lain selain dari bank ,” imbuhnya.

Mendorong pertum­bu­han UMKM ini, pihaknya juga berharap adanya DAK dari pemerintah pusat untuk memberikan stimulus dan merangsang perkembangan UMKM ini. Paling tidak dengan dana DAK 500 juta sudah mampu menjawab persoalan yang dihadapi umkm yang ada. “Pe­me­rintah pusat cukup mem­buatkan regulasi dan pe­ngawasan saja,  tak perlu ikut membeli barang,” ka­tanya.

Memajukan UMKM ka­­ta  Harwendi harus seja­lan dengan geliat sektor pari­wisata. Kalau pari­wi­sata bergairah, jelas akan ber­dampak kepada kun­jungan wisatawan. Hal ini secara otomatis juga akan mem­pengaruhi per­tum­buhan UMKM itu sendiri, karena adanya penjualan oleh-oleh.

 Lantaran itu, pihaknya menginginkan adanya pusat penjualan hasil kerajinan masyarakat. Paling tidak ada di setiap pintu masuk kab. Solok. Seperti Singkarak, Sungai Lasi, Surian dan Rest area Lubuk Selasih. Namun dalam pelaksanaan program yang ada harus dilaksanakan secara bertahap, karena keterbatasan anggaran yang ada. “Menghadapi MEA  yang sudah  di depan mata, kita menginginkan produk UMKM kab. Solok punya daya saing, agar tak ketinggalan dari produk dari luar,” bebernya. (h/ndi)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]