Banjir Dipicu Tambang dan Illegal Logging ?


Selasa, 09 Februari 2016 - 04:24:18 WIB
Banjir Dipicu Tambang dan  Illegal Logging ? MATERIAL lumpur dan kayu gelondongan menghiasi sisa banjir bandang di Pasaman. (ICOL)

LIMAPULUHKOTA, HALUAN — Berbagai spe­kulasi penyebab bencana banjir dan longsor di sejumlah daerah di Sumbar mengemuka. Dugaan aktivitas penambangan hingga pembalakan liar mencuat sehingga memunculkan berbagai tanggapan.

Kritikan tajam dating dari Ketua Bidang Ling­kungan Hidup Bako HMI Sumbar, Pebriansyah. Kepada pers, ia mempertanyakan kenapa belakangan bencana banjir kerap terjadi di kawasan Timur Limapuluh Kota.

“Kenapa dahulu, tiga atau empat tahun terakhir tidak pernah banjir di timur Limapuluh Kota. Tetapi, sekarang malah bencana banjir menjadi-jadi. Ini disebabkab rusaknya ekosistem alam  di­sekitar Kapur IX dan Pang­kalan,”terangnya mahasiswa Pasca Sarjana UNP ini.

Kawasan tersebut seperti diketahui memang tengah di­pa­dati dengan aktivitas penam­bangan terutama di Kecamatan Kapur IX dan Kecamatan Pang­kalan Koto Baru.

Ekosistem yang rusak ter­sebut, tambahnya, disebabkan maraknya aktifitas tambang, penebangan hutan  secara mem­babi buta di timur Limapuluh Kota tersebut. “Alam sudah rusak akibat explo­retasi yang ber­le­bihan. Sehingga berdampak ter­hadap ling­kung­an,”terangnya  lagi.

Minimnya pengawasan dari masyarakat dan pemerintah daerah terhadap aktifitas tam­bang tersebut  turut mem­per­buruk kondisi alam Kabupaten Limapuluh Kota. “Batu sungai terus ditambang, sehingga men­ye­­babkan abrasi. Marak  pen­curian kayu hutan sehingga hutan tidak bisa lagi untuk menyimpan air hujan. Ya, seperti ini lah akibatnya. Hujan sedikit langsung banjir dan longsor”terangnya.

Untuk itu, pemerhati ling­kungan ini berharap kepada Pemerintah Provinsi Sumbar ataupun Pemkab Limapuluh Kota untuk menghentikan se­luruh aktifitas tambang di Lima­puluh Kota. “Ini sebenarnya bukan bencana tapi dampak dari aktifitas kerusakan alam oleh manusia. Untuk itu,  seluruh aktifitas tambang harus di­henti­kan . Caranya mencabut seluruh izin tambang yang ada di Kabu­paten Limapuluh secara tegas. Kalau tidak, sampai kapanpun banjir dan longsor akan terus terjadi,”terangnya.

Dengan beralihnya penge­lolaan dan pengawasan  pertam­bangan dari Pemerintah daerah ke Pemerintah Propinsi, Pebri berharap jangan ada lagi izin tambang yang diluarkan pe­merintah, apapun namanya.

Jika di Limapuluh Kota bagi­an Timur dihadapkan dengan dilema penambangan, Pasaman kembali dihadapkan dengan masalah klasik yang memicu banjir dan longsor, yakni dugaan pembalakan liar. Tampak dari sisa banjir, kayu gelondongan menyebar di lokasi banjir

Banjir melanda Kecamatan Panti. seperti diketahui, hulu-hulu sungai itu kini hutannya sudah banyak yang menjadi pe­ladang­an oleh warga, terutama kebun karet. Kayu gelondongan ini, diduga kuat hasil dari peram­bahan hutan (ilegal logging).

Namun, Kepala BPBD Pa­sa­man, M. Sayuti Pohan tidak mau berspekulasi penyebab banjir ban­dang itu, apakah karena ilegal logging? “Lebih tepatnya coba tanya ke Kadishut pasaman,” sebutnya.

Potensi banjir dan longsor serta galodo itu, pernah diungkap dalam hasil pantauan udara yang dilakukan oleh BPBD Provinsi pada awal Januari 2016 lalu. Titik yang dipantau oleh tim itu, Kecamatan Lubuk Sikaping dan Kecamatan Panti.

“Ada dua kecamatan yang kita pantau, Lubuk Sikaping dan Panti. Memang kami temukan sejumlah titik kantong air. Nanti hasil potret udara ini dievaluasi dan dianalisis dulu,” demikian ujar M. Sayuti Pohan, waktu itu.

Menurut M. Sayuti Pohan, pengambilan potret udara itu, meminimalisir dampak bencana alam, seperti banjir dan tanah longor. Oleh karena itu, pihak BPBD melakukan pemantauan kantong air atau embung yang ada di wilayah perbukitan di dua kecamatan itu. “Foto udara telah dilakukan terhadap kantong air. Memang ditemui ada titik kan­tong air yang diduga dapat me­nim­bulkan terjadi banjir dan tanah longsor,” katanya.

 Curah Hujan Tinggi

Sementara itu,  Badan Me­te­o­rologi Klimatologi dan Ge­ofisika (BMKG) Ketaping, Pa­dang menyebutkan, hujan yang mengguyur wilayah Sumbar bu­lan Februari ini diluar prediksi. Mengingat dari perkiraan se­belum­nya bulan ini sudah me­masuki musim kering.

“Ini sudah terbilang ekstrim, apalagi sudah menyebabkan ban­jir dan longsor. Kita prediksi bulan ini kering tapi malah hujan,” terang Kepala Seksi (Kasi) BMKG, Ketaping Padang, Budi Iman Samiaji kepada Halu­an di Padang Senin (8/2) malam.

Budi menambahkan, dua hari ke depan wilayah Sumbar masih akan diguyur hujan dengan inten­sitas sedang hingga lebat. Namun, sudah cenderung menurun di­ban­ding dengan kondisi pada hari sebelumnya. (h/ddg/col/isr)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]