Puluhan Ribu Warga Jadi Korban

Sumbar Banjir


Selasa, 09 Februari 2016 - 04:25:53 WIB
Sumbar Banjir SATU unit mobil terseret arus di sungai di Solok Selatan. (JEFLI)

Tingginya volume hujan sejak tiga hari terakhir, menyebabkan air tak tertampung hingga belasan sungai di Sumbar meluap. Banjir dan longsor tak terhindarkan dan menimbulkan korban jiwa. Puluhan ribu warga merasakan dampak bencana ini.

PADANG, HALUAN — Hujan deras yang mengguyur Sumbar sejak Jumat (5/2) hingga Senin (8/2) menyebabkan banjir dan tanah longsor pada sepuluh kabupaten/kota. Dari data se­mentara, enam orang dilaporkan tertimbun long­sor di Solok Sela­tan dan seorang lainnya hanyut di Kabupaten Limapuluh Kota.

Hingga berita ini diturunkan, korban jiwa mencapai enam ora­ng. Namun, hal ini belum bisa dipastikan karena sebagian kor­ban masih dalam pencarian. Se­puluh daerah terdampak tersebut adalah Kabupaten Solok Selatan, Sijunjung, Solok, Limapuluh Kota, Pasaman, Tanah Datar, Dharmasraya dan Kota Solok, Sawahlunto serta Paya­kum­buh. (berita terkait halaman 2 dan 13)

Kepala Badan Penang­gulang­an Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, Zulfiatno melalui Ke­pala Badan (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Sumbar, Pagar Negara yang dihubungi Haluan Senin (8/2) di Padang mengatakan, hingga saat ini BP­BD Sumbar dan BPBD daerah masih melakukan pendataan terkait jumlah rumah terdampak banjir dan longsor tersebut. Dari data sementara, diperkirakan 1.500 rumah dan 6.000 warga terkena dampaknya.

"Dari 10 daerah ini yang ter­parah yaitu, Kabupaten Solok Selatan, Kota Solok, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Solok dan Limapuluh Kota. Kami sudah kirim bantuan berupa logistik seperti, makanan siap saji, family kid, paket kesehatan dan bantuan lainnya ke lima daerah ter­dam­pak ini," kata Pagar melalui sambungan telepon.

Wartawan Haluan di Lima­puluh Kota melaporkan, daerah tersebut dilanda banjir dan banjir bandang atau biasa disebut ga­lodo dan tanah longsor. Untuk bencana banjir, terjadi di sem­bilan kecamatan dan terparah menimpa kawasan Kecamatan Pangkalan Koto Baru dan Ke­ca­matan Kapur IX. Banjir yang terjadi di timur Limapuluh Kota itu, disebabkan meluapnya aliran sungai Batang Maek hingga 4 meter.

"Lebih dari 1.000 rumah terendam banjir di Kecamatan Pangkalan,"kata Kepala BPBD Kabupaten Limapuluh Kota, Nasryanto.

Camat Pangkalan, Rahmat Hidayat menyebutkan, kantor-kantor pemerintahan yang ada di ibu Kecamatan Pangkalan, se­perti kantor polisi, kejaksaan, koramil dan lainnya termasuk rumah ibadah serta empat se­kolah juga terendam banjir.

Pemerintah Kabupaten Lima­puluh Kota melalui camat Pang­kalan  telah mendirikan posko evakuasi korban banjir. "Ada 4 posko evakuasi yang kita dirikan di Kecamatan Pangkalan.  Satu posko sudah ditempati oleh korban banjir dan 3 posko lagi untuk persiapan evakuasi korban banjir,"ucapnya.

Ia menambahkan, setidaknya, banjir juga merendam sekitar 300 hektar  areal pertanian masya­rakat Kecamatan  Pangkalan. "Sawah, kolam dan perkebunan warga sudah rata dengan air. Kita masih mendata berapa hewan ternak warga yang dihanyutkan banjir ini,"ucapnya lagi.

Tingginya banjir tersebut,  merendam akses jalan Sumbar-Riau bahkan kendaraan roda empat. "Tinggi air di jalan raya rata-rata mencapai 2 meter lebih. Akses jalan lumpuh total sejak Senin pagi," Kata Kapolres Lima­puluh Kota AKBP Bagus melalui AKP Riky Kasatlantas Polres Limapuluh Kota.

Ratusan kendaraan  terjebak di tengah-tengah banjir yang menghadang Kecamatan Pang­kalan Koto Baru. Akibatnya banjir menyebabkan macet pan­jang di ruas jalan Sumbar-Riau. "Macet sudah mencapai 2 kilo­meter lebih dari kedua sisi jalan. Baik dari Sumbar menuju Riau atau sebaliknya,"terangnya.

Untuk sementara, Polres Limapuluh Kota mengalihkan arus lalulintas Riau-Sumbar melalui Kabupaten Dharmasraya via Kiliran Jao.

Luapan Batang Maek juga makan korban. Seorang warga, Padri (16) belum ditemukan setelah terseret derasnya arus sungai tersebut. "Korban Padri belum ditemukan. Sudah sehari lebih dilakukan upaya pencarian tetapi belum membuahkan ha­sil,"terang Nasryanto

Banjir juga terjadi Kecamatan Harau akibat luapan Batang Sinamar yang mengakibatkan ratusan rumah terendam. Batang Sinamar yang betemu dengan Batang Mungo, juga merendam ratusan hektar areal pertanian masyarakat Nagari Mungo Keca­matan Luak hingga Kecamatan Lareh Sago Halaban.

Hampir, seluruh kecamatan yang dilalui Batang Sinamar mengalami banjir hingga me­ren­dam areal pertanian masyarakat. Seperti dari Gunuang Omeh, Kecamatan Suliki, Kecamatan Guguak, Kecamatan Paya­kum­buh, Kecamatan Harau, Keca­matan Luak, Kecamatan Lareh Sago Halaban.

Selain banjir, banjir bandang juga mendera Limapuluh Kota, tepatnya di Kecamatan Kapur IX. Berbagai material seperti kayu dan lumpur turut dibawa arus air yang mengalir di sungai Batang Maek, Kapur IX. "Ada 4 unit rumah yang berada di pinggir Batang Mahat Kapur IX ,  rusak berat setelah disapu banjir ban­dang. Derasnya aliran air, juga merusak satu unit jembatan gan­tung hingga nyaris putus. Trans­por­tasi masyarakat disana juga terputus,"terang Ke­pala BPBD  Kabupaten Lima­puluh Kota Nasryanto.

Banjir bandang tersebut, merusak 3 unit rumah di Nagari Sialang dan 1 unit rumah serta 1 unit jembatan gantung di Nagari Durian Tinggi. Sampai sekarang arus air Batang Maek Kapur IX masih tinggi mencapai 2 meter.

Tak hanya banjir bandang. Di Kecamatan Bukit Barisan, se­puluh ribuan warga setempat terisolir akibat longsor. Akses jalan yang berada di tiga nagari pada kecamatan tersebut, yakni Nagari Baruah Gunuang, Nagari Naniang dan Nagari Koto Tangah terputus akibat hondoh oleh material longsor.

"Seluruh akses jalan peng­hubung ke nagari ini putus se­telah dilanda tanah longsor. Tidak jalan alternatifpun tidak ada. Akibatnya ada 6.000 pen­duduk disini tidak bisa kemana-mana lagi,"terang Iswarman Wa­linagari Baruah Gunuang pada Senin (8/2) kemarin.

Ada 15 titik pada ruas jalan yang menghubungkan tiga nagari di Kecamatan Bukit Barisan putus dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan. Ada beberapa ruas jaln yang ambalas akibat longsor dan ada juga yang tertimbun oleh material longsor.

"Longsornya saling berantai dengan jarak yang berdekatan. Ada 15 titik, sehingga tidak bisa dilalui,"ucap Walinagari Baruah Gunuang. Sementara Camat Bukit Barisan Hidayat menga­takan, ada 10 ribu lebih penduduk yang berada di 3 nagari tersebut.

Banjir Bandang di Pasaman

Di Pasaman, bencana men­ye­babkan banjir bandang terjadi di Jorong Lambak dan Lundar Kecamatan Panti, Minggu (7/2) sekitar pukul 22.00 wib. Marlina (40) warga Lambak, kepada Haluan menyebutkan, kejadian itu terjadi pada Minggu malam sampai Senin, pukul 03.00 wib dini hari. "Ada masjid yang kena dan puluhan rumah warga," kata Marlina.

Kayu-kayu gelondongan ber­serak­kan ke pemukiman warga, sekitar 65 unit rusak berat dan sedang di Lambak, 3 unit di Lundar dan satu masjid di­lapor­kan rusak tempat MCK akibat diterjang arus banjir bandang itu. Selain itu, 3 unit jembatan roboh di Lundar dan 1 unit jembatan putus di Lambak.

Kepala Badan Pe­nang­gulang­an Bencana Daearah M. Sayuti Pohan menyebutkan, benar telah terjadi banjir bandang di Jorong Lambak dan Lundar Kecamatan Panti. Dia bersama anggota turun menuju lokasi. "Data korban belum bisa didapatkan karena kami masih dalam perjalanan menuju lokasi. Malam tadi tim tidak bisa menembus lokasi karena akses terputus dan arus sungai besar. Baru hari Senin (8/2) pagi kami bisa ke lokasi," terang M. Pohan.

Menurut Pohan, banjir ban­dang ini karena meluapnya sungai Batang Lundar dan Batang Lam­bak yang berhulu di puncak Bukitbarisan di daerah itu.

Selain banjir bandang, juga terjadi banjir besar di sejumlah titik di daerah lain di Kabupaten Pasaman, seperti Nagari Muara Sungai Lolo, Ganting, Lan­sat­kadap, Tarung-Tarung, Mapun, Aia Salo Petok.

"Di daerah ini hanya banjir saja, sekitar 37 unit rumah te­ren­dam banjir, lumpur m­emenuhi rumah warga, sedangkan di Mua­ro Sungai Lolo, sejumlah jem­batan me­nga­lami kerusakan, namun kami belum bisa men­capai lokasi karena terjadi pula longsor di Bangkok sehingga akses ke Sungai Lolo terhambat," urai Pohan.

Empat Nagari di Dharmasraya

Curah hujan yang tinggi dan merata di Sumbar juga berimbas ke Dharmasraya. Setidaknya di daerah ini ada empat nagari yang kebanjiran akibat luapan Sungai Batang Hari, yakni Kenagarian Gunung Selasih Jorong Lubuk Bulang, di Nagari Siguntur, dan Nagari Ampek Koto Lamo Pulau Punjung Jorong Pasar lama, serta Nagari Sitiung.  

Luapan sungai batang hari di Kabupaten Dharmasraya akibat hujan deras selama dua hari itu tidak menimbulkan korban jiwa, menyebabkan genangan air men­capai ketinggian sekira lebih kurang 2 meter di depan halaman rumah warga terkena banjir.

"Rumah warga pada empat Nagari yang terkena banjir luapan air sungai rata-rata rusak ringan karena kemasukan air luapan dan sedikit lumpur. Dan sekira pada siang harinya telah tampak air sudah mulai surut," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Penang­gulangan Bencana pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Dharmasraya Suwandi.

Selain ratusan rumah warga yang terkena banjir juga ada tiga Mussallah tempat ibadah umat islam ikut terendam banjir, yakni Mussallah Istiqomah di Jorong Pasar lama, Pulau Punjung, dan Mussallah Nurul Yakin di pe­layang­an Pulau Punjung, serta salah satu Mussallah di Jorong Lubuk Bulang. (h/ddg/col/tos/mg-bdr/isr)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]