Pesisir Selatan Hingga Larut Malam

Rabab-pun Tergusur Tarian nan Eksotis


Rabu, 10 Februari 2016 - 15:55:11 WIB

Laporan : Haridman Kambang 

Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) yang berada di selatan Kota Padang Provinsi Sumatera Barat saban waktu terus mengalami perkembangan. Kawasan destinasi wisata barupun bermunculan disepanjang garis pantai yang berdampak pada berkembangnya usaha penyediaan jasa dan barang oleh masyarakat lokal. Toko, kedai, pusat-pusat perbelanjaan mini, penginapanpun menjamur dibanyak tempat. Pessel yang dulu lengang, kini sudah ramai.

Jalan tunggang  (tunggal) Padang - Bengkulu adalah urat nadi utama ekonomi daerah itu. Dan bermigrasinya orang luar ke daerah ini atau perantau pulang pergi melalui jalan tunggal tersebut secara perlahan tapi pasti masuk pula inovasi tradisi dan "perangai" baru ke Pessel. Posisinya yang diapit Provinsi Bengkulu dan Jambi di bagian selatan makin memperbesar kemungkinan bercampurnya perangai tersebut ditambah makin pesatnya perkembangan teknologi hiburan dan komunikasi.

Pergeseran nilaipun dari waktu ke waktu terus terjadi. Kegiatan yang awalnya tabu dan sulit diterima masyarakat kini sudah jadi "pakaian" atau setidaknya bukan barang aneh lagi. Salah satunya adalah soal hiburan diperhelatan, atau kegiatan pemuda mengisi momen tertentu. 

Ninik mamak sudah sulit menolak permintaan anak kemenakan mengganti musik tradisi rabab dengan alat musik elektronik atau orgen tunggal. Rabab tidak banyak peminat, sementara musik program bisa membuat banyak orang bertahan diperhelatan hingga pagi.

Selaku penguasa di helat kemenakan, suara ninik mamak justeru terkadang sering hilang bila ada permintaan menggelar bunyi-bunyian berupa musik program. Ninik mamak hanya bisa berpesan jaga keamanan dan berpakaianlah yang sopan. Dan akhirnya musik tradisi yang selama ini melekat dengan perhelatan adat mulai ditinggalkan. Gantang telah ditukar orang penggalas, jalan dialih orang lalu, demikian pantun lamanya.

Perhelatan yang nota bene adalah adat kemudian dijadikan selubung pertunjukan nyanyian dan tarian yang tak sesuai akidah dan adat. Rasa malu kemudian dikesampingkan. Rasanya nyaris tidak ada tempat di Pessel yang tidak "menerima" tarian mengumbar aurat di orgen tunggal. 

Bermodal pentas berukuran 5 x 4 meter tuan rumah sudah bisa memberikan hiburan dari malam hingga pagi. Selepas pukul 21.00 WIB atas perintah tuan rumah pertunjukkanpun sudah dimulai, dua atau tiga orang penyanyi harus membawakan tembang-tembang populer. Suasana itu berlangsung hingga pukul 00.00 WIB.

Setelah larut malam, pertunjukkan yang dinanti-nantikan tiba. Para biduan berumur sekitar 20 tahun yang telah menahan diri berjam-jam membawakan lagu-lagu melankolis itu kemudian merubah penampilan dalam waktu amat singkat di atas pentas. Selendang tipis yang sebelumnya dijadikannya rok ditanggalkan, begitu pula atasan berupa jaket atau baju penutup dibuka. Jadilah para biduan itu berpakaian lebih mirip atlet renang ketimbang penyanyi, memakai celana ketat dan atasannya kutang belaka.

Seketika suasana sekitar pentas mendadak berubah. Undangan dan siapapun yang hadir merapat ingin menyaksikan aksi perempuan - perempuan penghibur tersebut dari dekat. Tidak terkecuali sejumlah anak berumur sekitar 9 atau 10 tahun-an, mereka sengaja menahan kantuk berjam-jam menunggu pertunjukkan tengah malam. Tidak satupun yang canggung dengan suasana itu. Sudah tidak adalagi rasa-peresa. Mamak, semenda, perempuan, pemuda tidak lagi merasa risih bercampur - baur.

Lalu musik dengan dentuman keras dari pengeras suara besar dengan tempo cepat memecah malam dan merubah suasana. Di bawah siraman kedap-kedip lampu warna-warni para biduan itu tampak mengikuti hentakan musik dengan gerak takkaruan. Meliuk, menungging sembari menggoyang pantat dan pinggul (maaf), binal, berteriak, mengerang, menyodorkan yang tak patut ke penonton. 

Entah tarian jenis apa yang sedang mereka bawakan, makin lama makin liar saja. Peralatan apapun yang  ada dipentas dijadikan tempat bergoyang misalnya tiang pentas, kotak speaker dan lain-lain. Satu orang sembari jongkok memainkan rambut tergerai dan kepala menggeleng lalu mengangguk kuat, satunya lagi bak orang kayang dan kemudian menjalar di lantai pentas sembari ditindih yang lain. Durasinya bisa satu jam lebih. Lantas di luar pentas penontonpun berjingkrak-jingkrak. Inilah rupanya pertunjukkan "hebat" yang di tunggu-tunggu itu.

Itulah gambaran malam Pesisir Selatan kini. Anak-anak muda yang menunggu malam, lalu mencari titik-titik hiburan yang menggelar pertunjukkan tarian "setan". 

Mana ninik mamak bak kayu besar tengah koto itu? Mana bundo kanduang? Mana alim-ulama dan cadiak pandai? Parikpaga kita telah runtuh, tidak sanggup melawan arus! Perangan anak kemenakan tidak seperti yang diharapkan.

Tradisi rabab Pasisia yang sarat akan nilai dan pesan moral semakin tersingkir saja. Bila ada pertunjukkan seni tradisi, bisa dipastikan pesta tidak meriah. Hanya beberapa orang saja yang setia menunggu hingga kaba selesai, mereka adalah orang tua yang dibesarkan dimasa rabab sedang dipuncak kejayaan. Anak muda tidak tertarik lagi dengan ratok sikambang manih yang biasa dibawakan mendiang Pirin Asmara. Anak muda kita tak kenal balagham, lagu anak balam, raun sabalik dan lain-lain. (*)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]