Atur Penggunaan Senjata Rakitan


Rabu, 24 Februari 2016 - 01:40:22 WIB

Dua orang pemburu hewan tewas tertembak senjata. Peristiwa ini terjadi di lokasi berbeda yakni Kabupaten Dharmasraya dan Agam. En­dang Junaidi (40) warga Gumarang Jorong I Kenagarian Tigo Koto Silungkang, Palembayan, Kabupaten Agam, secara tidak sengaja tewas tertembak mamaknya sendiri saat berburu kijang, di rimbo, Sitinjau Lauik, Kenagarian Salareh Aia, Sabtu, (20/2) pukul 10.00 WIB.

Korban tidak tertolong setelah me­ngeluarkan cukup banyak darah pada bagian kepala. Sementara lokasi kejadian sangat jauh, atau sekitar lima kilo meter dari pemukiman masyarakat. Sementara ma­mak korban pelaku salah sasaran, Hasan (60) masih menjalani pemeriksaan pihak kepolisian.

Sedangkan Ahfiler (45) warga Jorong Padang Candi, Kenagarian Sungai Dareh, Kecamatan Pulang Punjung tewas tertem­bak senjata api rakitan jenis gobok miliknya sendiri ketika berburu babi hutan, Minggu (21/2).  Kejadian nahas ini berlokasi di di salah satu kebun karet masyarakat di Jorong Kampung Surau, Kenagarian Gunung Selasih, Kecamatan Pulau Punjung, Dhar­masraya. Korban tewas dengan luka tembak di bagian kepalanya, akibatnya mata sebelah kanan keluar dari tempatnya. Anggota DPRD  Sumbar meminta Polres setiap kabupaten/kota  memiliki inisiatif untuk membuat aturan tentang pembatasan penggunaan senjata rakitan.

Sejauh ini, berkemungkinan baru satu daerah yang Polresnya menerapkan pem­batasan penggunaan senjata rakitan. Daerah tersebut adalah Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Di kabupaten Pessel masyarakat hanya dibolehkan menggunakan senjata rakitan pada saat tertentu saja. Salah satunya ketika ada kegiatan berburu babi yang memang menjadi hobi dari masyarakat. 

Jika tidak sedang berburu senjata rakitan tak boleh dipergunakan dengan sem­ba­rangan, namun mesti dititipkan ke ke­po­lisian setempat. Untuk mencegah penyalah­gunaan pada senjata rakitan. Hal seperti itu memang mesti dilakukan. Kabupaten/kota lain kita harap bisa menerapkan hal serupa. Soal kebiasaan masyarakat yang kerap menggunakan senjata rakitan ketika ber­buru, menurut dia, kebiasaan tersebut tak usah dilarang.

Sisi lain, sebaiknya biarkan masyarakat tetap dengan hobi berburunya, karena itu adalah bahagian dari kearifan lokal ma­sya­rakat Minangkabau, yang harus diawasi itu adalah penggunaan senjata dalam kegiatan tersebut. Selain aturan tentang waktu pemakaian, kepolisan di setiap daerah mesti melakukan pemeriksaan rutin  atas kelaya­kan senjata yang biasa dipakai masyarakat. Terutama yang biasa digunakan untuk kegiatan berburu.

Tak kalah penting, sosialisasi tentang kapan saja senjata rakitan ini boleh digunakan sebaiknya memang harus disam­paikan pada masyarakat. Dengan demikian peristiwa-peristiwa yang tak diinginkan seperti adanya masyarakat yang tertembak karena senjata rakitan  atau penyalah­gunaan senjata untuk hal yang mem­bahayakan bisa dihindari. Jika ma­syarakat pandai dalam membuat senjata rakitan, masyarakat juga harus pandai dalam hal pemanfaatanya. Tak hanya harus dilaporkan tentang kepemilikan, kata dia, penempatan senjata saat di rumah juga harus menjadi perhatian. **




Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat, 14 April 2017 - 21:33:47 WIB

    *PDRI, Chatib Sulaiman, dan Peristiwa Situjuah Batur*

    *PDRI, Chatib Sulaiman, dan Peristiwa Situjuah Batur* Dalam lembaran sejarah Indonesia, Sumatra Barat diposisikan sebagai daerah yang banyak melahirkan para pemikir dan penggegas kemerdekaan, sebut saja diantaranya Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, Tan Malaka, Sutan Syahrir, Muha.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM