Tsunami dan Kesimpangsiuran Penggunaan Istilah


Sabtu, 05 Maret 2016 - 03:24:02 WIB
Tsunami dan Kesimpangsiuran Penggunaan Istilah

Sebagian besar masyarakat yang tinggal di sepanjang pantai di Sumatera Barat, berhamburan keluar rumah dan mengevakuasi diri ke tempat yang jauh dari pantai. Mereka mengungsi karena gempa besar yang terjadi pada Rabu 2 Maret malam yang berpusat di  Samudera Hindia atau tepatnya di 682 km di sisi barat daya Kepulauan Mentawai, yang dikabarkan oleh BMKG berpotensi tsunami.

Kesimpangsiuran infor­ma­si beredar saat awal-awal pe­ristiwa ini terjadi dan dikla­ri­fikasi sesudahnya oleh pihak yang memiliki legalitas. Salah sa­tunya adalah kekuatan gem­pa. Gempa yang awalnya di­in­formasikan oleh BMKG ber­­kekuatan 8,3 SR, kemu­di­an diklarifikasi menjadi 7,8 SR.

Ada lagi kesimpangsiuran yang terjadi dalam hal pembe­ritaan tentang gempa tersebut, yakni kesimpangsiuran peng­gunaan istilah oleh media. Ada istilah yang kurang tepat digunakan, misalnya penye­butan tsunami untuk gelom­bang yang tingginya hanya puluhan sentimeter.

Saya kutip dari laman jawapos.com, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penang­gu­langan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho me­nye­butkan, berdasarkan data BMKG, Australia terkena dampak gempa paling besar. Imbasnya adalah munculnya tsunami dengan skala kecil. Di Australia yang terkena tsunami yakni Pulau Kokos dengan ketinggiannya 10 cm. Se­dangkan di Mentawai ha­nya terdeteksi tsunami se­tinggi 5 cm.

Tepatkah penggunaan isti­lah tsunami untuk gelombang yang tingginya hanya 5 hingga 10 sentimeter?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ke­empat (Pusat Bahasa: 2008), tsunami berarti gelombang laut dahsyat (gelombang pa­sang) yang terjadi karena gempa bumi atau letusan gunung api di dasar laut (bia­sanya terjadi di Jepang dan sekitarnya).

Istilah “tsunami” berasal dari bahasa Jepang karena negara tersebut sering terkena tsunami. Dari banyak sumber, tsunami terdiri dari dua suku kata, yakni tsu (pelabuhan), dan nami (gelombang) atau ombak besar di pelabuhan. Kurang lebih artinya perpin­dahan badan air yang dise­babkan oleh perubahan per­mukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bu­mi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung be­ra­pi bawah laut, longsor bawah laut, atau atau hantaman me­teor di laut. 

Berdasarkan definisi itu, jelas bahwa tsunami adalah gelombang laut dahsyat. Me­mang tidak disebutkan ukuran minimum tinggi gelombang laut yang bisa disebut sebagai tsunami. Tetapi yang jelas, gelombang dahsyat dalam definisi itu menyiratkan bah­wa gelombang tersebut mam­pu menyebabkan kerusakan di darat. Gelombang yang mampu menyebabkan keru­sakan sudah pasti berukuran tinggi, mesti tidak setinggi tsunami yang menghantam Aceh pada tahun 2004, yang tinggi gelombangnya men­capai 30 meter.

Sementara dari berita di la­man jawapos.com pada Ka­mis 3 Maret itu, Sutopo Pur­wo Nugroho mengatakan, “me­mang betul terjadi tsu­na­mi tetapi tidak besar dan tidak me­rusak atau meng­han­cur­kan infrastruktur serta tidak menimbulkan korban jiwa,” katanya dalam kon­ferensi pers di Gedung BN­PB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur.”

Terjadi tsunami, tapi tidak besar dan tidak merusak. Pernyataan yang aneh bila disesuaikan dengan definisi tsunami menurut KBBI.

Rasanya lebih tepat jika gelombang setinggi 5 hingga 10 sentimeter itu disebut sebagai gelombang laut saja, tepatnya gelombang laut yang dipicu oleh gempa. Apabila disebut ombak, tidak tepat, karena definisi ombak me­nu­rut KBBI adalah gerakan air laut yang turun-naik atau bergulung-gulung. Ombak, seperti yang kita ketahui, tidak dipicu oleh gempa, tapi ka­rena ditiup angin.

Ombak, meski ada yang berukuran besar, yang digu­nakan oleh peselancar untuk berselancar menggunakan papan selancar, tidak bisa disebut sebagai tsunami kare­na kemunculannya tidak dipi­cu oleh gempa, seperti yang saya sebutkan di atas. Gelom­bang setinggi 10 meter disebut ombak karena disebabkan oleh kekuatan angin di pantai tersebut sehingga men­cipta­kan gelombang yang tinggi. Akan tetapi, gelombang se­ting­gi 10 meter dapat disebut sebagai tsunami karena pemi­cunya adalah gempa. Terlihat jelas bahwa tsunami dan om­bak adalah sama-sama gelom­bang. Yang membedakan kedua istilah itu adalah pe­micunya dan kerusakan yang diakibatkannya.

Selain menyebut gelom­bang setinggi 5 hingga 10 sentimeter itu sebagai tsuna­mi, ada juga yang menye­butnya sebagai tsunami kecil. Istilah ini juga keliru karena gelombang disebut tsunami bukan soal ketinggiannya, tetapi apakah gelombang tersebut menimbulkan keru­sakan atau tidak.

Saya menyarankan, jika ada tsunami setinggi 5 hingga 10 sentimeter, masyarakat sebaiknya mengambil ember besar, kemudian menampung tsunami itu, lalu beramai-ramai membuat tagar #ka­mi­tidaktakut di media sosial. 

Asal kutip

Selain kekeliruan peng­gunaan istilah oleh Kepala Pusat Data Informasi dan Hu­mas BNPB, kesalahan juga ter­dapat pada wartawan yang asal mengutip istilah dari na­rasumber. Penggunaan isti­lah tsunami untuk menyebut ge­lom­bang setinggi 5 hingga 10 sentimeter itu tak hanya di­lakukan oleh jawapos.com, te­tap juga oleh banyak laman me­dia daring. Silakan buk­ti­kan sendiri dengan mencari di mesin pencari. Ketik saja ka­­ta kunci “Gempa Sumbar, Aus­­tralia dan Mentawai Tsu­na­mi.”

Hal seperti ini sering ter­ja­­di dalam pemberitaan oleh me­dia-media di Indonesia. Contoh kekeliruan lainnnya adalah penggunaan istilah “banjir” dan “genangan air”.

Dalam KBBI, banjir ber­arti 1. berair banyak dan deras, kadang-kadang me­luap (tentang kali dan seba­gainya); 2.  air yang banyak dan mengalir deras; air bah.

Banyak wartawan meng­gu­nakan istilah banjir untuk menyebut genangan air di sebuah kawasan. Padahal, genangan air tersebut terjadi karena penyumbatan drai­nase, dan genangan tersebut surut dengan cepat setelah hujan reda.

Banjir sudah pasti gena­ngan air, tapi genangan air belum tentu banjir.

Perihal penggunaan isti­lah yang berlebihan sehingga ti­dak sesuai dengan fakta dari se­buah peristiwa yang terjadi, ada­lah kebiasaan buruk me­dia kita, terutama dalam mem­­ber judul berita. Tujuan­nya barangkali untuk menjual pro­duk berita karena masya­ra­kat tertarik membaca judul be­rita yang berhubungan de­ngan sebuah peristiwa yang bia­sa, dengan dasar rasa pena­sa­ran dan keprihatinan. Ka­lau benar tujuan media seper­ti itu, berarti berita tidak lagi men­cerdaskan masyarakat, te­ta­pi membodohi ma­sya­rakat ten­tang makna sebuah istilah.

Sampai kapan media kita mendulang keuntungan de­ngan menyebarkan istilah yang tidak tepat kepada ma­sya­rakat? Sampai kapan war­tawan “menyerah” pada isti­lah yang digunakan oleh nara­sumber, dan mengutipnya bulat-bulat seperti makan onde-onde? (*)

 

HOLY ADIB
(Wartawan Haluan dan Pemerhati Bahasa Indonesia)




Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM