Rama-Rama Terbang Petang


Sabtu, 12 Maret 2016 - 01:28:48 WIB
Rama-Rama Terbang Petang

Seekor rama-rama ter­bang rendah. Ia datang dari arah ya­ng entah.  Rama-rama itu besar, seukuran telapak tangan. Kepaknya hitam serupa malam awal bulan. Ia mengibaskan sayapnya per­la­han, satu-satu, dan men­dekat seperti mengendap-endap, seperti menyerap setiap derik kebisingan dan menyirep telinga dalam kesenyapan yang pekat.

Ketika itu, Ramzi se­dang bersitekun mengasah aritnya. Ia terus saja ter­senyum, sambil sesekali merasakan ketajaman mata arit dengan ibu jarinya.

Baca Juga : Beragam Tradisi Unik Masyarakat Adat Indonesia di Bulan Rajab

“Besok akan menjadi mula dari hari yang sem­purna,” Ramzi bicara pada dirinya sendiri.

Setelah menunggu se­kian lama, hari panen itu datang juga. Ini adalah pa­nen padi pertama dari hasil garapan tangannya sendiri. Sawah itu awalnya milik orang tua Rokaya, istrinya. Sebab Ayah Rokaya tak lagi sanggup untuk mengelola, ia menyerahkan urusan lahan kepada Rokaya dan suami­nya dengan sistem bagi hasil delapan puluh-dua puluh.

Baca Juga : Ini Daftar Hewan Langka yang Perlu Kamu Lihat Sebelum Punah

Ramzi tak dapat meng­gambarkan seberapa besar kebahagiaan yang ia miliki sekarang, esok, dan ke de­pan­nya. Selama berumah tangga bersama Rokaya, mereka selalu hidup pas-pasan. Selain bekerja sera­butan, Ramzi meng­habis­kan hari-harinya dengan mendengarkan gerutuan Rokaya.

“Bagaimana bisa mem­beli mesin cuci macam Si Zaitun kalau kau kerjanya cuma ikut-ikut Bang Toleh hilir-mudik! Ia barangkali mendapat gaji dari bosnya. Lha, kamu? Cuma dapat sedekahan dari Bang Toleh. Itu pun kalau pikirannya sedang baik. Kalau tidak, alamat kita akan makan berlauk angin berkuah air mata. Bagaimana kita bisa menabung? Bagaimana kita bisa membangun rumah?” Jengkel Rokaya sudah sam­pai ujung rambutnya.

Baca Juga : Berminat untuk Menjadi Penyelam? Ini Tipsnya untuk Pemula

“Sekali-sekali, saya juga ingin diajak jalan-jalan ke pasar malam. Sekali-sekali, saya juga ingin makan ayam goreng di restoran. Sekali-sekali saya juga ingin beli baju model orang-orang pakai. Mungkin dunia akan kiamat kalau kau bisa me­nga­bulkan permintaanku, sekali saja!”

Ngasi duit sedikit, kau malah minta lauk macam-macam?”

Baca Juga : Pembelajaran Ideal Anak saat Pandemi

Ada saja hal-hal yang diributkan Rokaya, yang ujung-ujung akan menya­lahkan Ramzi. Sebagai se­orang suami, Ramzi selalu salah di mata Rokaya. Jika Ramzi kadang-kadang be­nar, maka setiap kebenaran itu harus kembali ke pasal satu; Ramzi selalu salah. Setiap hari, Ramzi di­se­li­muti ketakutan bila Rokaya benar-benar kecewa dengan dirinya dan memilih untuk menjalin hubungan dengan pria lain yang lebih berada darinya. Hanya saja, se­makin ia memikirkan itu bukan membuatnya se­man­g­at men­cari pekerjaan, tapi semakin ia merasa tak ber­daya dan diliputi ke­curigaan. Wa­laupun sejauh ini, ke­cu­rigaan­­nya cuma ilusi-ilusi yang berpesta di kepalanya.

Kini, membayangkan padi-padi kuning emasnya telah matang dan siap pa­nen, semua resah yang di­tanggungnya selama ini se­akan meleleh. Setiap kali dia menerka-nerka jumlah ka­rung padi yang akan dia dapat, setiap itu pula satu karung beban hidupnya berkurang. Esok, setelah padi selesai dipanen, segala tekanan dari Rokaya akan berakhir. Ingin rasanya, ia menyumbat mulut tebal Rokaya dengan berkarung-karung padi. Esok, setelah sebagian hasil panen dijual, ingin rasanya ia berkata kepada Rokaya, “Kau mau apa, Rokaya sayang? Ayo, kita beli!” Seolah hasil pen­jualan itu cukup untuk me­m­­beli dunia ini beserta sur­ga dan neraka.

Khayalan Ramzi terusik oleh sesuatu yang tiba-tiba hinggap di atas rambutnya. Ramzi menepisnya dengan arit yang sudah setengah tajam. Sesuatu itu jatuh ke tanah. Seekor rama-rama hitam megap-megap. Sayap­nya rus­ak. Ia tak dapat terbang lagi.

Ramzi tak peduli. Ia tak ingin diganggu oleh siapa­pun atau apapun saat ini. Aritnya harus diasah dengan telaten agar dapat dipakai dengan purna esok pagi. Agar segala angan-angan kebahagiaan itu tidak se­rupa buah yang busuk se­belum mengkal.

Dering telepon genggam Ramzi memekik di ruang tamu. Telepon genggam itu satu-satunya bukti bahwa dulu, sebelum menikah de­ngan Rokaya, ia sempat merasa jaya. Dulu itu, ia adalah pemuda gagah yang bekerja sebagai pegawai toko sepatu di Medan. Tiap bulan beli baju, beli minyak rambut, minyak wangi, pe­m­bersih wajah, dan tentu saja, gonta-ganti sepatu. Barang-barang yang sudah sering dipakai, dibagi-bagi­kan kepada temannya. Ke­cuali telepon genggamnya itu. Bahkan hingga bosnya bangkrut, kemudian Ramzi resmi menjadi pengang­guran, dan kembali mem­boyong Rokaya ke rumah orang tuanya di kampung tepat enam bulan usia per­nikahan mereka, Ramzi tak hendak menjual telepon bututnya itu sekadar untuk menutupi kekurangan pe­nganan pokok.

Ramzi membiarkan te­le­pon itu bernyanyi terus-menerus. Deringnya ber­henti. Lalu berbunyi lagi. Ramzi berdiri dengan malas.

Di atas tanah, rama-rama itu telah kaku.

Ia melihat nama Rokaya di layar telepon genggam­nya. Ketika itu, Rokaya sedang membeli bahan ma­kanan di pasar untuk di­masak esok pagi.

“Kenapa tidak beli di kedai Mak Nais saja?” Ra­m­zi keberatan saat Rokaya meminta izin.

“Sayur-sayur harganya lebih murah kalau sore.” Rokaya bersikeras. “Lagi­pula, di pasar, bahan-bahan yang tersedia lebih lengkap. Jadi, aku bisa masak yang enak-enak buat besok.”

Pasar cukup jauh dari rumah mereka. Ramzi ingin mengantar, tapi mereka tak punya kendaraan. Di­tam­bah lagi, Rokaya juga tak mau ditemani.

“Tidak usah. Kau di rumah saja. Istirahat untuk besok.”

Ramzi tidak punya kata-kata lagi. Bayangan Rokaya bergandengan tangan de­ngan lelaki lain men­yergap­nya lagi. Itu membuat li­dah­­nya kelu berdebat dengan Rokaya.

***

Layar telepon genggam Ramzi masih berkedip-ke­dip. Nada deringnya se­ma­kin keras. Ramzi segera mengangkatnya.

Ia mendengar suara le­laki di seberang. Darah Ramzi berdesir seolah me­m­­benarkan pra­sangka­nya selama ini. Rokaya me­mang mempunyai lelaki lain. Belum sempat Ramzi disulut amarah, ia malah dikejutkan dengan berita yang disampaikan lelaki itu. Ia mengabarkan Rokaya tertabrak kendaraan ber­motor yang melaju kencang.

“Tapi, istri saya sedang berada di pasar, Pak. Dari rumah kami, jalan menuju pasar dan tepi pantai itu melewati simpang yang ber­beda.” Ramzi belum paham maksud si penelepon.

“Kami tidak tahu ten­tang itu, Pak! Yang jelas, melalui identitas yang kami temukan di dompetnya, namanya Rokaya. Kami ju­ga menemukan nomor tele­pon anda di sana. Dia betul istri anda, bukan?”

“Iya, Pak.”

“Kalau begitu, silakan datang ke lokasi segera.”

“B-baik, Pak.”

Ramzi terpaku be­be­rapa menit. Baginya, hal itu membingungkan. Namun di kenyataan, itu bukan permainan.

Setelah yakin dengan apa yang baru saja di­dengar­nya, Ramzi menjadi kalap. Di dalam dadanya, ke­sedi­han berkecamuk. Di dalam kepalanya, bayangan ke­bahagiaan remuk dan ter­cerai berai. Ramzi mencoba tenang dan mencari pem­benaran bahwa itu bukan Rokaya, istrinya. Rokaya sedang berbelanja alat dapur di pasar. Namun, sekali lagi, ia terjerembab di ke­nyata­an bahwa seorang po­lisi baru saja menghubungi dan mengatakan kepadanya dengan jelas bahwa Rokaya kecelakaan dan sekarang kritis di rumah sakit. Dan kenyataan yang paling men­yakitkan bagi Ramzi, Ro­kaya tidak sedang berada di pasar, tapi di tepi pantai. Ramzi serasa diserap bumi, lalu dihimpit langit.

Dengan sisa kewarasan yang tersisa, Ramzi bergegas ke rumah tetangga guna meminjam sepeda motor.

“Mau kemana, Bang?” Ramzi menjawab per­tanya­an itu dengan me­macu ken­daraannya dengan cepat. Raungan sepeda motor ma­sih mengiang-ngiang ketika Ramzi sudah menjauh.

Sepeda motor Ramzi terus melaju dengan ke­cepatan tinggi. Ia tidak ingin membuang satu menit pun waktu berharganya untuk bisa melihat keadaan Ro­kaya. Sementara, di dalam matanya berbagai macam adegan diputar. Setiap adeg­an merubah raut muka Ra­m­zi. Senyum Rokaya. Ome­lan Rokaya yang baru ia sadari sebagai kata-kata paling inspiratif yang se­harusnya membangkitkan semangat hidupnya. Ia ber­duka, lalu sedih, merasa dikhianati, dan sampai pada adegan Rokaya merangkul mesra pinggang lelaki ce­king-hitam-bersaku tebal di atas kendaraan, saat itu juga Ramzi menangis sejadi-jadinya. Mata dan pipinya basah kuyup, tapi Ia tetap melajukan motornya de­ngan kencang. Ia mencintai Rokaya dengan sepenuh-penuhnya, Ia berharap pada Rokaya sebanyak-banyak­nya, tapi Ia hanya men­dapatkan kekecewaan se­dalam-dalamnya. Saat itu, Ramzi merasa sangat sedih sesedih-sesedihnya. Orang-orang yang melihatnya me­ngen­darai motor dalam ke­adaan demikian, barangkali akan berpikir bahwa ia se­dang sakit gila.

Ramzi tiba pada sim­pang tiga yang memisahkan antara rumahnya, pasar raya, dan Pantai Asmara. Ia tak peduli lampu merah sedang menyala, dan mem­belokkan motornya ke sim­pang kanan. Seorang polisi meneriakinya. Ia malah mengegas lebih keras, dan membuat motornya berlari bagai kilat. Ramzi tak per­nah menggunakan motor selaju itu sebelumnya. Tapi, karena mengkhawatirkan Rokaya, semua yang tidak mungkin menjadi amat mu­ng­kin terjadi. Semua angan-angan akan menjadi ke­nyataan.

Kenyataan itu kini tam­pak terang benderang di depan Ramzi. Dalam ke­sa­daran yang tinggal setengah, Ramzi benar-benar melihat Rokaya di tepi pantai. Ro­kaya yang sehat, yang tidak tampak sebagai orang yang baru saja mengalami ke­celaka­an. Rokaya, istrinya yang seharusnya sedang berbelanja ke pasar itu, tampak sedang menyeruput es kelapa muda bersama lelaki yang selama ini tum­buh dalam kepala Ramzi. Sial bagi Ramzi, mereka bahkan minum dari buah kelapa yang sama. Senyum genit Rokaya kepada lelaki itu membuat Ramzi makin gila, menggeritih tak karuan.

Ramzi hilang akal. Ia gelap mata. Kesadarannya benar-benar telah lari dari pikiran. Bukannya me­me­lan­kan kendaraan dan ber­henti, Ramzi malah se­makin menambah ke­ce­patan mo­tor­nya. Tiga detik kemu­dian, satu pekik pan­jang terdengar. Gaduh me­ramai. Ramzi menabrakkan motornya ke tempat duduk Rokaya yang terbuat dari semen. Ia ter­pental be­be­rapa meter ke jalan raya, dengan kepala membentur aspal keras. Da­rah seketika mengucur de­ras. Orang-orang terkesiap.

Dari darah Ramzi yang menggenang muncul ge­lem­bung-gelembung. Perlahan, gelembung-gelembung itu memadat dan kemudian bergerak-gerak. Ge­lem­bu­ng itu pecah sempurna. Sesuatu yang baru telah lahir dari sana, dari tiap gelembung yang memadat itu. Sesuatu yang besar dan bersayap. Lalu, ber­ge­rom­bol, mereka terbang ke ne­geri entah. (*)

 

Cerpen Oleh: DEDI SUPENDRA

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Ahad, 21 Februari 2021 - 13:33:23 WIB

    Beragam Tradisi Unik Masyarakat Adat Indonesia di Bulan Rajab

    Beragam Tradisi Unik Masyarakat Adat Indonesia di Bulan Rajab Masyarakat adat di Indonesia memiliki tradisi unik dalam menyambut momen-momen tertentu, salah satunya saat memasuki bulan Rajab..
  • Ahad, 14 Februari 2021 - 16:34:31 WIB

    Ini Daftar Hewan Langka yang Perlu Kamu Lihat Sebelum Punah

    Ini Daftar Hewan Langka yang Perlu Kamu Lihat Sebelum Punah Saat ini ada berbagai lembaga di seluruh dunia yang sedang mengupayakan penyelamatan terhadap hewan-hewan langka yang terancam punah. Meski begitu, daftar hewan langka mungkin tak akan habis, karena jumlahnya terus bertambah..
  • Ahad, 07 Februari 2021 - 19:13:51 WIB

    Berminat untuk Menjadi Penyelam? Ini Tipsnya untuk Pemula

    Berminat untuk Menjadi Penyelam? Ini Tipsnya untuk Pemula Menikmati pemandangan bawah laut memiliki kenikmatan dan keasyikan tersendiri. Beraneka ragam kehidupan berseliweran dalam perairan tersebut begitu memikat untuk ditatap dan disingkap kehidupan bawah laut tersebut yang sampai.
  • Senin, 01 Februari 2021 - 22:36:28 WIB

    Pembelajaran Ideal Anak saat Pandemi

    Pembelajaran Ideal Anak saat Pandemi Pandemi COVID-19 membawa dampak besar pada dunia pendidikan di Indonesia. Sebagian besar sekolah memutuskan untuk melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar online dari rumah..
  • Sabtu, 30 Januari 2021 - 11:17:10 WIB

    Nobody Wants To Be Stupid

    Nobody Wants To Be Stupid Seorang guru menyampaikan dalam rapat. “Kelas saya adalah kelas istimewa”. Mencoba mengangkat posisi , dan semua orang sudah mengira kata istimewa adalah konotasinya positif. Yang terbayang adalah anak-anaknya kreatif, ra.
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]