Irman dan NA Puji Jeruk Jesigo

Hadapi MEA, Mari Konsumsi Produk Lokal


Senin, 14 Maret 2016 - 03:49:36 WIB
Hadapi MEA, Mari Konsumsi Produk Lokal Ketua DPD RI Irman Gusman, Wagub Sumbar Nasrul Abit, Wasekjen DPD RI Zul Evi Astar, Wakil Ketua DPRD Sumbar Guspardi Gaus saat berkunjung ke mobil toko (moko) jeruk siam gunung omeh (Jesigo) milik Yon Erizon, Minggu (13/3) di Kawasan GOR Agussalim, Padang.

PADANG, HALUAN — Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) telah berjalan per 31 Desember 2015. Jika produk lokal kalah kualitas, akan bisa jadi korban dalam perdagangan bebas regional itu. Salah satu solusi menghadapi derasnya persaingan dalam MEA adalah membangun kesadaran masyarakat menggunakan dan mencintai produk lokal.

Ketua DPD RI Irman Gusman dan Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit me­ngajak masyarakat meng­gu­nakan dan mencintai produk lokal.

Baca Juga : Iuran Ringan dan Manfaat Banyak, Pengurus Koperasi Dikenalkan Terhadap Manfaat Jamsostek

Hal itu menjadi bahan diskusi singkat saat Irman dan Nasrul Abit berkunjung ke mobil toko (moko) jeruk siam gunuang omeh (jesigo) milik masyarakat peduli produk lokal Yon Erizon di pelataran Parkir GOR Agus Salim Padang, Minggu (13/3). Saat itu Irman dan Nasrul Abit juga didampingi Wakil Sek­jend DPD RI Zul Evi Astar dan Wakil Ketua DPRD Sum­bar Guspardi Gaus.

Irman, Nasrul, Zul Evi Astar dan Guspardi yang mencicipi buah jesigo memu­ji rasa manis  jeruk asal Ke­ca­matan Gunuang Omeh, Ka­bupaten  Limapuluh Kota tersebut. “Sebelum kita juga sudah pernah dengar jeruk asal Limapuluh Kota ini. Ternyata rasanya memang manis. Nanti (jesigo) bisa masuk ke Senayan. Kita juga akan cari jadwal untuk ber­temu langsung dengan petani jeruk di sana,” kata Irman saat berdialog dengan Yon Eri­zon, mantan Pemred Haluan yang kini berkutat dengan usaha dagang buah lokal Sum­bar, terutama jesigo.

Baca Juga : Pagi Ini: Rupiah Melemah ke Rp 14.090/US$

Menurut Yon, para petani jeruk jesigo di Gunung Omeh sangat berharap kunjungan Ketua DPD RI, Gubernur dan Wagub Sumbar ke lahan per­tanian mereka yang terle­tak di sekitar tugu PDRI Koto Ting­gi. Total luas kebun jeruk je­sigo di Gunung Omeh seki­tar 700 hektare. Kebun itu mi­lik para petani yang terga­bung dalam 102 kelompok ta­ni. Masing-masing petani ra­ta-rata punya 100 hingga 400 ba­tang jeruk jesigo. Ken­dala yang dihadapi petani selain per­soalan hama/penya­kit, pu­puk, infrastruktur (ja­lan), sa­rana komunikasi (si­nyal pon­sel susah), meng­hadapi mu­sim besar 2017 dan teknologi pengolahan buah jeruk jesigo yang gugur berja­tuhan.

“Setiap hari tidak kurang dari 2 sampai 3 ton jeruk gugur yang terbuang begitu saja karena berjatuhan ke tanah. Teknologi pengo­la­han­nya hingga kini belum ada. Petani sangat berharap peme­rin­tah mencarikan solusi untuk itu sehingga buah gu­gur juga memiliki nilai eko­nomis,” kata Yon mengulas kembali apa yang disam­pai­kan Tengku Yanis, petani Jesigo di Lokuang, Koto Tinggi yang pernah menerima penghargaan dari Presiden SBY tahun 2006 silam.

Baca Juga : Tips Beli Rumah dengan KPR DP 0%? Kenali dulu Risiko Kebangkrutan Anda

Nasrul Abit dan Guspardi Ga­us juga berjanji segera da­lam waktu dekat akan me­nga­tur jadwal kunjungan kerja ke ka­wasan perkebunan jeruk je­sigo di Gunuang Omeh Li­ma­puluh Kota. “Ya, segera kami jad­walkan. Potensi ini harus menjadi perhatian serius bagi ka­mi,” sebut Nas­rul Abit. Se­dangkan Gus­pardi Gaus juga akan segera me­­nga­gendakan de­ngan ko­misi terkait untuk ber­kunjung ke Gunuang Omeh men­jem­put aspirasi para petani. “Ka­mi sece­patnya akan menjad­wal­kan kunker ke sana,” se­but­nya.

Pada pagi lain, Yon Erizon mengatakan, mengonsumsi buah lokal berarti sama de­ngan mendukung kese­jah­teraan petani lokal. Hal itu juga dapat melindungi produk lokal  dari persaingan pada MEA. Khusus untuk buah atau hasil pertanian local lainnya lebih terjamin kese­ha­tannya, karena dapat diyakini tidak menggunakan bahan pengawet. Sedangkan buah atau hasil pertanian impor, pada umumnya menggunakan pengawet yang jelas mem­bahayakan kesehatan. “Kalau tak  pakai pengawet, mana ta­han buah impor hingga ber­bu­lan-bulan,” kata Yon.

Baca Juga : Gunakan Tiang Listrik Bright PLN Belasan Tahun, Jaringan TV Kabel Diputus

Guna diketahui jeruk jesi­go, ditanam oleh para petani di Kawasan Koto Tinggi yang jaraknya 160 km dari Kota Padang atau 48 km dari Kota Payakumbuh. Jeruk jesigo tumbuh subur dengan kua­litas baik pada tanah di keting­gian 900 sampai 1.100 meter dari permukaan laut (DPL). Jeruk ini mulai ditanam dan dikembangkan tahun 1984 oleh Tengku Yanis di Jorong Lokuang, Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh. Gubernur  Sumbar Irwan Prayitno pernah berkujung ke sana tahun 2006. Sedangkan Danrem 302 Wirabraja Sum­bar saat dijabat Brigjen Wi­dag­do juga pernah berkunjung ke kebun jeruk jesigo di Koto Tinggi  tahun 2014. Jeruk jesigo kini secara rutin diki­rim dan dipasarkan di Pekan­baru, Duri, Dumai, Padang, Bukittinggi, Jakarta, Bandung dan Payakumbuh. (h/dib)

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]