Oposisi Sunyi Sabar Menanti


Selasa, 15 Maret 2016 - 03:16:01 WIB
Oposisi Sunyi Sabar Menanti

Pendekar tak takut berjalan sendiri, begitulah ucapan pamungkas Prabowo Subianto kepada awak media setelah acara Peringatan Ulang Tahun ke-8 Partai Gerindra di Kantor DPP Partai Gerindra, Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu (6/2/2016), awal Februari lalu.

Jawaban ini nampaknya se­kaligus menjadi penegasan bahwa beberapa partai pen­tolan dalam Koalisi Merah Putih akan merapat dan parkir di istana, sebagaimana santer belakangan dikabarkan me­dia. Sebut saja misalnya PAN, Golkar versi Bali dan Ancol, dan PPP versi Munas Jakarta.

Baca Juga : SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

Mantan calon presiden nomor urut satu itu me­ne­gaskan, Gerindra tetap setia kepada rakyat Indonesia dan tak pernah takut untuk mem­bela kepentingan bangsa dan negara. “Gerindra setia kepa­da rakyat Indonesia, setia kepada merah putih, setia kepada Republik Indonesia. Kita enggak pernah surut cinta kita kepada bangsa negara. Kita enggak pernah takut yang benar itu benar, yang salah itu salah. Kita tak akan takut membela ke­pen­ti­ngan bangsa dan negara. Kalau enggak sang­gup lebih ba­ik kita ming­gir saja,” se­ru Pra­bowo.

Nam­pak­nya cu­kup da­lam pernyataan-per­nya­taan beliau ketika itu. Pendekar yang lari tunggang langgang, kehabisan jurus, kemudian tanpa teding aling-aling meninggalkan mar­kas­nya untuk mendapat berbagai konsesi dari lawan lama yang belum juga puas dengan ke­menanganya, langsung ter­kena point-point penyataan beliau. Itu adalah pernyataan ikhlas menjomblo tapi penuh dengan analogi-analogi logika terbalik yang menyatakan kekecewaan atas mantan ka­wan-kawan dekatnya.

Baca Juga : Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

Prabowo maupun Ge­rin­dra, nampaknya sadar betul bahwa tak ada kawan yang abadi di dalam politik. Se­hingga memahami segala mo­del keputusan yang diambil oleh mantan kawan-kawan sekoalisinya, off the record maupun on the record,  mau tak mau adalah sikap politik realistis yang layak diambil untuk saat ini. Perkara ke­mudian tersisa sendiri (mung­kin tidak sepenuhnya sendiri karena PKS belum menen­tukan sikap),  tentu itu per­kara lain.

Dalam konstelasi politik yang masih sangat fleksible, di­mana gambar jelas tentang arsitektur politik istana belum terlihat, peta konfigurasi dukungan politik belum ba­ku, tarikan dan dorongan ma­sih sangat dinamis. Sehingga peluang-peluang bagi yang belum mendapatkan konsesi politik masih sangatlah besar. Para pihak yang terpaksa bergabung dengan pe­me­rin­tah akibat buah pahit  ke­kisruhan internal atau yang memang menjilat sana sini untuk diajak masuk ke dalam istana adalah mangsa empuk dari konstelasi politik se­macam ini

Baca Juga : Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

Namun ada logika ana­lo­gis Prabowo yang agak ber­be­da kali ini. Pernyataanya ter­de­ngar netral, tapi terkesan da­lam dan menendang. Di­ba­lik pernyataan itu, ter­sim­pan ci­bi­ran sar­kas­tis bah­wa yang ke­lu­­ar da­­ri ru­­mah be­­sar bernama KMP adalah pen­dekar-pendekar gagal yang ke­takutan berlama-lama diluar lingkaran ke­kua­saan istana. Apalagi jika disan­dingkan dengan pernyataan Ade Ko­marudin beberapa waktu se­belumnya  yang juga mem­bawa-bawa kata “ikhlas” seba­gai aksentuasi pernyataan kebersediaan Golkar ber­gabung dengan lapak istana. Keduanya terkesan sangat kontras, walau menggunakan ka­ta sifat yang sama, yaitu ikhlas. Yang satu ikhlas di­tinggalkan dan yang satu ikhlas meninggalkan.

Terlepas ada atau tidak lo­gika sindir-menyindir di balik per­nyataan itu, kesa­maan pada sa­tu kata itu me­nandakan satu hal, yakni mereka bercerai dengan baik-baik, tanpa in­timidasi dan paksaan, apalagi KDRT poli­tik. Mungkin saja pihak Ge­rindra merasa di­khianati, atau pi­hak Golkar dan PAN me­ra­sa tak di­naf­kahi, tapi at the end, mereka sepakat berpisah ba­ik-baik, tanpa keributan dan aksi sa­ling caci maki la­yak­nya yang terjadi didalam in­­ternal Gol­kar belum lama ini.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

Setidaknya ini point pen­ting dari kedewasaan politik kedua belah pihak. Pesan moralnya, jikapun harus ber­cerai, bercerailah dengan ikhlas dan baik-baik. Jika yang satu ingin berselingkuh, ber­selingkuhlah dengan ikhlas layaknya Golkar dan PAN. Dan jikapun tak beruntung alias ada diposisi terkhianati karena ada yang berselingkuh, maka terimalah dengan ikh­las. Karena bagi yang ber­selingkuh, logikanya tetaplah sama, berselingkuh itu indah. Karena itu terima sajalah dengan ikhlas. Logikanya,  wong yang berselingkuh saja  ikhlas kok, masa yang tidak berselingkuh memaksakan di­ri untuk tidak ikhlas. Tentu tidak lucu!

Secara komparatif, mes­kipun agak berbeda dengan sikap Megawati dan PDIP saat dua periode memilih bertahan di jalan oposisi, Prabowo dan Gerindra juga memilih jalur oposisi, tapi oposisi yang ingklusif. Di satu sisi tetap konsisten dengan visi misinya  alias tetap berdiri konsisten diluar peme­rin­ta­han, tapi di sisi lain juga per­caya bahwa komunikasi po­litik dengan siapapun adalah hal yang sangat penting. Pra­bo­wo menyempatkan diri hadir dalam pelantikan presi­den Joko Widodo dan me­luang­kan waktu untuk kem­bali bertemu dengan Sang pre­siden di Istana Bogor saat ketakutan atas semakin mem­be­sarnya konflik internal di dalam kubu pendukung pre­siden kian menyeruak. Se­men­tara itu,  ketika Mega­wati ada di jalan yang sama, hampir sepanjang peme­rin­tahan SBY beliau mengambil jalan oposisi yang ekslusif dan menutup diri dengan mantan lawan tanding dan pe­nentang-penentangnya.

Sehingga kenaikan suara PDIP lebih ba­nyak di­anggap sebagai implikasi positif dari pem­bu­su­kan -pem­bu­sukan yang dialami oleh lawan-la­wan utamanya, seperti hantaman ber­tubi-tubi yang menyeret Ketua Umum Demokrat keti­ka itu, Anas Urba­ning­rum dan kasus yang me­nimpa presiden PKS.  Ber­beda dengan Ge­rin­dra, extra efford dari partai yang didirikan oleh Pra­bowo ini te­rasa labih dahsyad ka­rena selain men­du­lang untung da­ri pem­­­bu­su­kan po­litik yang di­alami partai-partai utama, Ge­rindra juga mem­­­buktikan bah­­wa ada usa­ha-usaha stra­tegis partai yang ter­lihat dari di­raih­nya pe­ring­kat ketiga partai pe­­me­nang pascapileg de­ngan ke­nai­kan yang sangat bom­bastis, sementara PDIP hanya mengantongi suara lama yang hilang dengan kenaikan yang tidak terlalu drastis, meskipun keduanya sama-sama ada dijalur oposisi ketika itu. 

Selain itu, konsistensi Gerindra juga terlihat lebih lurus karena meskipun PDIP ada di luar kekuasaan kala itu, tapi kader-kadernya yang terlibat kasus korupsi juga terhitung tidak sedikit, tak jauh berbeda dengan kader-kader partai yang masuk ke dalam pemerintahan, se­men­tara Gerindra nyaris tidak memiliki kader yang ber­masalah secara hukum ketika itu. Tapi terlepas dari itu semua, toh terbukti  setelah dua periode puasa, PDIP akhirnya kembali meraih masa jayanya, walau bukan lagi menjual nama Megawati.

Lalu pertanyaanya, apakah Gerindra akan mendulang sukses yang sama di tahun 2019 nanti, meskipun me­ngam­bil jalan oposisi yang lebih ingklusif? Peluang tentu sangat besar, apalagi jika Gerindra dan Prabowo me­mainkan kartu yang tepat. Tetap konsisten dengan posisi politik, kritis terhadap pe­nguasa dan patriotis terhadap kepentingan bangsa, serta tetap memainkan politik ber­sahabat dengan istana dan terbuka berkomunikasi de­ngan siapapun. Jika tetap bersikap apresiatif terhadap segala prestasi istana yang mendulang decak kagum pe­milih, besar kemungkinan Ge­rindra akan mampu men­dulang suara  swing voter yang kritis, sama dengan ketika Gerindra berteriak lantang menolak aksi-aksi tak me­nguntungkan rakyat yang di­per­tontonkan istana.

Dan poin penting te­ra­khir, keputusan Gerindra (termasuk PKS tentunya) untuk tetap berjuang di luar pemerintahan adalah kepu­tusan yang cukup mengun­tungkan demokrasi kita. Ista­na butuh penetang agar po­pularitas dan elektabilitas tidak melenakan penguasa dan tidak menjerumuskan penguasa ke dalam kebijakan-kebijakan sepihak yang se­enaknya berlindung dibalik nama rakyat pemilih. Di sini­lah signifikasi oposisi se­benarnya. Semoga (*)

 

RONNY P SASMITA
(Analis Ekonomi Politik Internasional Financeroll Indonesia)
 

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 09 Februari 2021 - 14:07:37 WIB

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam  siswa Perlu Ditinjau Ulang Ternyata persoalan pemakaian jilbab bagi siswi Non Muslim di SMKN 2 Padang,  belum berakhir. Pemberitaannya hiruk pikuk dan viral  diperbincangkan secara nasional dalam dunia pendidikan. Sampai Mendikbud terpancing angkat b.
  • Kamis, 04 Februari 2021 - 14:45:37 WIB

    Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

    Jangan Ikuti!  Iblis Penebar Hoaks Pertama Kita barangkali akrab dengan cerita Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah. Melalui anugerah ilmu, Allah memuliakan Nabi Adam di atas malaikat dan iblis..
  • Senin, 01 Februari 2021 - 16:58:52 WIB

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam Syekh Muhammad Djamil Djambek adalah ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad ke-20, dilahirkan pada tahun 1860 di Bukittinggi, terkenal sebagai ahli ilmu falak terkemuka..
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]