Trump Jadi Presiden

78 Juta Warga AS Pindah Negara


Kamis, 17 Maret 2016 - 03:47:04 WIB
78 Juta Warga AS Pindah Negara

WASHINGTON, HALUAN — Sebanyak 28 persen warga negara Amerika Serikat, be­rencana pindah ke negara lain jika Donald Trump terpilih sebagai presiden. Hal ini di­kemukakan oleh poling ter­baru dari Morning Consult/Vox.

Poling itu dilakukan pada 10-13 Maret. Mereka me­nga­takan cenderung meninggalkan AS untuk kebaikan mereka. Ketika ditanya pergi kemana, jawabannya adalah negara se­perti Kanada.

Baca Juga : Prediksi WHO, Corona Berakhir Awal 2022

Data ini menjelaskan bahwa 1 dari 4 penduduk AS akan pindah jika Trump benar-benar dinobatkan jadi presiden. Saat ini, AS memilik 315 juta pen­duduk. Artinya, ada lebih dari 78 juta warga AS yang akan pindah. 

Sebanyak 15 persen orang yang cukup radikal dan takut akan perubahan jadi lebih buruk jika Trump jadi presiden mengatakan mereka ke­mung­kinan besar pindah negara. Menurut editor data, Simon Rogers, mengikuti Super Tues­day dan segala kemenangan Trump, situs pencari Google merekam pertanyaan ‘Bagai­mana pindah ke Kanada?’ me­ningkat 350 persen. 

Baca Juga : Pemerintah Irak Bersiap Sambut Kunjungan Paus Fransiskus

Mereka menilai lebih baik tinggal di Kanada yang ramah daripada Amerika Serikat yang dipimpin Trump. Sementara Hillary Clinton yang digadang-gadang jadi rival final Trump mengatakan, ia akan tetap di AS apa pun yang terjadi. 

“Saya tidak akan me­ning­galkan negara kita, tapi saya mungkin akan menghabiskan waktu berteriak-teriak pada televisi,” kata dia.

Baca Juga : Pedagang asal Indonesia di Arab Saudi Ini Setiap Hari Diserbu Pembeli Wanita, Jualan Apa Ya?

Pemilu Vulgar

Barack Obama mem­pe­ringat­kan pemilihan presiden menuju Gedung Putih 2016 telah merusak citra Amerika di luar negeri. Obama juga me­nyebut pemilu kali ini vulgar dan penuh retorika yang me­mecah belah, sehingga me­ngan­cam citra negara adidaya tersebut.

Baca Juga : Pangeran Harry 'Menghina dan Tak Hormat' pada Ratu, Pangeran William Sedih dan Terkejut

“Kami telah mendengar retorika vulgar dan memecah belah terkait perempuan dan kaum minoritas,” kata Obama pada reporter, berdampingan dengan Perdana Menteri Ir­lan­dia Enda Kenny di sisinya. Menurutnya, tindakan itu tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut.

“Dunia memperhatikan apa yang kita katakan dan laku­kan,” tambahnya. Pernyataan Obama ini mencerminkan kekhawatirannya terhadap se­mua tindakan dan ucapan Do­nald Trump yang diwarnai pesan rasial.

Penasihat utama Obama di Amerika Latin, Dan Restrepo mengatakan presiden seperti Trump tidak cocok berada di Gedung Putih. “Seorang pre­siden seperti Trump jelas akan membawa implikasi sangat negatif bagi hubungan Ame­rika,” katanya.

Obama mulai menjabat ketika citra AS babak belur karena perang Irak yang di­tinggalkan George W Bush. Direktur riset sikap global Pew Research Center mengatakan pada AFP, kini ia melihat perubahan besar dalam cara dunia melihat AS di bawah kepemimpinan Obama.

Menurutnya, secara ke­seluruhan sikap seluruh dunia pada AS sekarang ini lebih positif daripada selama era Bush. Meski tren ini tidak universal. Meningkatnya citra AS telah jadi anugerah besar bagi Obama.

Ini memberinya pengaruh terkait bagaimana para pe­mimpin dunia melihatnya. Namun, retorika yang ditun­juk­kan Trump bertolak bela­kang. “Ide kampanyenya mem­buat jalan menuju Kantor Oval bukan sesuatu yang patut di­sa­yangkan,” katanya.

Trump berjanji mem­ba­ngun dinding perbatasan de­ngan Meksiko dan meminta mereka membayarnya. Ia juga menyarankan menghentikan aliran migrasi Muslim ke AS. Semuanya membuat publik marah.

Komisaris Tinggi PBB un­tuk pengungsi, Filippo Grandi menyatakan keresahannya pa­da perdebatan soal migran. “Ini adalah bagian yang sangat penting dari kepemimpinan AS di dunia,” katanya dalam kunjungan pertama ke Wa­shing­ton, Selasa. (h/rol)

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]