Puluhan Napi Nyabu di LP


Kamis, 17 Maret 2016 - 04:40:43 WIB
Puluhan Napi Nyabu di LP Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Provinsi Sumatera Barat menggelar jumpa pers dan gelar Barang Bukti (BB) terkait ditemukannya benda-benda terlarang di dalam Lapas, Rabu (16/3) sekira pukul 23.00 WIB. (MUHAMMAD AIDIL)

Petugas gabungan dari unsur BNN, Polisi dan POM AD mem­buktikan peredaran narkoba di Lapas Muaro bukan isapan jempol. Mereka, Rabu (16/3) kemarin, menggeledah Lapas yang berisi 1.000 lebih taha­nan.

PADANG, HALUAN — Sebanyak 30 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Muaro Padang terbukti positif menggunakan narkoba, dengan rincian 29 diantaranya mengkonsumsi sabu-sabu dan satu orang menggunakan ganja.

Baca Juga : Jadwal Shalat untuk Kota Padang dan Sekitarnya Kamis 25 Februari 2021

30 orang yang diketahui positif menggunakan narkoba setelah Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Provinsi Sumatera Barat melakukan razia dengan dibantu oleh lima orang

anggota dari Sabhara Polresta Padang, lima orang dari Sat Brimobda Sumbar, dan dua orang petugas dari Detasemen Polisi Militer (Denpom) I/4 serta pejabat teras dari Kanwil Ke­menkumham Sumbar yang lang­sung dikomandoi oleh Ansa­ruddin, selaku Kepala Kanwil Kemenkumham Sumbar.

Baca Juga : Pemko Padang Terima CSR Ambulance dan Mobil Operasional dari Bank Nagari Guna Tingkatkan Layanan Kesehatan

Razia yang dimulai pada Rabu (16/3) sekira pukul 16.00 WIB ini tidaklah berjalan mulus. Petugas langsung menuju kamar sel 5A, 6A dan 7A yang menjadi target. Saat memasuki sel per­tama petugas dihalangi oleh ratusan warga binaan yang meno­lak adanya razia. Kericuhan pun terjadi saat seorang warga binaan memperovokasi dengan cara melempar batu, teriakan, makian, sehingga memancing emosi war­ga binaan lainnya, bahkan seo­rang petugas BNNP menjadi korban dari pelemparan batu dan seorang pegawai Kanwil Kemen­kumham juga sempat dicekik oleh seorang warga binaan.

Karena situasi yang tidak kondusif penggeledahan terpaksa dihentikan pada pukul 17.30 WIB, petugas BNNP yang men­jadi korban dirawat karena luka di pipi kanan. Sementara petugas gabungan merubah strategi me­lakukan pemeriksaan, warga binaan yang diduga terkait nar­koba dibawa keruangan aula, dan dilakukan pemeriksaan urin. Kamar yang dilakukan pemerik­saan pun di pilih secara random.

Baca Juga : Belajar Billing Sistem, Perumda AM Kota Padang Disambangi Direksi PDAM Muaro Tebo

Pada pukul 19.30WIB petu­gas kembali masuk,  seluruh kamar sel dikunci sehingga me­mudahkan petugas membawa terduga positif narkoba. Tidak ada perlawanan dari warga bi­naan, namun pengawalan dilaku­kan dengan ketat, anggota brimob bersenjata lengkap ikut menjaga. 

Terkait insiden tersebut, Ke­pala Lapas Kelas II A Muaro Padang, Destri Syam ketika di­konfirmasikan hal tersebut justru membantah dan tidak me­nge­tahui adanya kejadian tersebut. “Tidak ada kerusuhan di dalam sel ini, dan terkait anggota BNN dilempari batu saya tidak tahu itu, dimana dan kapan keja­diannya. Yang terpenting tugas kami adalah menjaga keamanan dan ketertiban di dalam lapas ini,” kilahnya.

Baca Juga : Jadwal Shalat untuk Kota Padang dan Sekitarnya Rabu 24 Februari 2021

Menanggapi hal tersebut, Kepala BNNP Sumbar, Moham­mad Ali Azhar kepada Haluan mengatakan, ada warga binaan yang memprovokasi tidak ingin diperiksa. “Salah satu napi tidak ingin kamarnya diperiksa, tidak ingin dilakukan tes urin akhirnya memprovokasi napi lain untuk berbuat kericuhan. Sedikit keri­cuhan tersebut membuat kami menarik diri dulu untuk me­nenagkan napi agar tidak ber­lanjut ke napi yang lain. Ke­ributan tersebut berasal dari kamar bernomor 6 A,” kata Ali.

Ali mengklaim bahwa ia te­lah mengantongi nama dan iden­titas pelaku pelempar batu ke­pada anggotanya, namun ia tidak bisa membeberkan nama terse­but.”Kabarnya pelaku tersebut kasus ini Tipikor. Dari kabar yang beredar yang saya terima, pelaku tersebut mengalami te­kanan mental,” tandasnya.

Ali melanjutkan, sesaat sete­lah insiden tersebut pihaknya kemudian melakukan peme­riksaan terhadap tahanan dengan sistem random atau acak, agar para warga binaan yang diduga terlibat penyalahgunaan narko­tika di dalam lapas tidak mem­punyai kesempatan untuk meng­hilangkan barang bukti.

Hasilnya memang menge­jutkan, dari 20 orang tahanan yang awalnya positif menggu­nakan narkoba, beberapa jam setelahnya jumlah pelaku kemu­dian bertambah 10 orang lagi. Dengan demikian sebanyak 30 orang warga binaan terbukti positif menggunakan narkoba dengan rincian 29 orang meng­gunakan sabu-sabu dan satu orang menggunakan ganja.

“Kita sempat menemukan beberapa alat hisap sabu dan plastik bekas kristal sabu, namun sabu-sabu sendiri kita tidak temukan. Dari 120 orang nara­pidana yang tersangkut kasus penyalahgunaan narkotika, 30 diantaranya positif meng­kon­sumsi barang haram tersebut,” ujar Ali.

Pemeriksaan urin sendiri di tahap kedua yang dilaksanakan pada pukul 19.15 WIB ini sendiri selain dilakukan secara acak, sebanyak 18 orang petugas lapas juga ikut diperiksa. Namun tidak ada satupun pegawai lapas yang terbukti positif mengkonsumsi narkoba.

Selain menemukan peralatan hisap sabu-sabu, ditemukan juga senjata tajam (sajam) seperti gunting, pisau, palu, 22 unit telepon genggam, puluhan char­ger, gergaji besi, sendok, garpu, jarum, bahkan juga ditemukan kartu remi dan kartu koa, tongkat sapu, serta potongan kayu yang ikut disita oleh petugas gabungan.

Menanggapi hal tersebut, Kakanwil Kemenkumham Sum­bar Ansaruddin kepada sejumlah awak media mengakui bahwa pihaknya kecolongan dalam hal Manajemen Keamanan Lapas terkait ditemukannya beberapa alat hisap sabu, telepon genggam dan senjata tajam.

“Kami mengakui ini sebagai kekurangan dan kecolongan terkait ditemukannya benda-benda yang tidak seharusnya ditemukan di dalam sel penjara. Bagi kami tidak masalah bagi BNN dan petugas gabungan TNI-Polri, karena berkat mereka kami berhasil mengungkap masih ada­nya praktik peredaran narkoba dan senjata tajam yang kami temukan. Ini tentu menjadi pre­seden buruk dan akan menjadi evaluasi bagi kami tentunya di kemudian hari,” tuturnya.

Bagi para warga binaan yang positif mengkonsumsi narkoba, Ansaruddin dengan tegas men­jelaskan bahwa hukuman yang akan diberikan adalah dalam bentuk penghapusan remisi, dan penghapusan hak-hak lainnya.

“Selain itu, kami juga tetap berkoordinasi dengan pihak BNN untuk dilakukan asses­ment (pendataan) medis dan mengikuti proses hukum yang berlaku sesuai undang-undang yang berlaku,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Ansa­ruddin juga memberikan keterangan pers terkait masih diburunya narapidana narkoba yang kabur dari Lapas Kelas II A Muaro Padang beberapa waktu lalu, ia mengungkapkan bahwa ada oknum lapas yang ‘main mata’ dengan narapidana kasus narkoba yang kabur tersebut.

“Kita sudah kantongi iden­titas petugas lapas yang berinisial ‘F’ tersebut, saat ini yang ber­sangkutan sudah kita tarik dari Lapas Muaro Kelas II A Muaro Padang, dan telah kita interogasi dan selidiki sejauh mana keter­libatannya, karena dari hasil rekaman CCTV, ada indikasi yang bersangkutan terlibat terkait kasus napi yang kabur beberapa waktu yang lalu,” ungkapnya.

Ketika dikonfirmasikan ter­kait adanya keterlibatan ‘F’ dalam ditemukannya alat-alat yang berhubungan narkoba, ia tidak bisa menjawab hal tersebut. “Itu saya belum bisa berikan kete­rangan karena yang bersangkutan saat in kita selidiki, dan tidak menutup kemungkinan dalam pemeriksaan akan mengarah ke penyelidikan terkait peredaran narkotika di dalam lapas,” tu­tupnya.

Saat ini Lapas Kelas II A Muaro Padang dihuni oleh 1004 warga binaan. Idealnya Lapas tersebut hanya mampu menam­pung tahanan sebanyak 427 orang. “Ini sudah over kapasitas dan kami hanya memiliki jumlah pegawai secara keseluruhan 120 orang dengan regu jaga yang terdiri dari empat regu, satu regu sendiri terdiri dari 20 orang,” kata Kepala Lapas Muaro Kelas II A Padang,” kata Kalapas Muaro Kelas II A Padang, Destri Syam kepada Haluan. (h/mg-adl/rvo)

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]