Sinergitas Media-Perguruan Tinggi


Jumat, 18 Maret 2016 - 03:29:50 WIB
Sinergitas Media-Perguruan Tinggi

Di abad informasi ini, semua orang membutuhkan media. Media menjembatani hadirnya informasi ke tengah publik, publik hidup dalam gelombang dan arus informasi. Barang siapa yang ketinggalan informasi, maka ia bagai terpencil dari dinamika dunia.

Sebaliknya, orang yang menguasai informasi, akan gampang untuk menguasai dunia. Relasi media-manusia, ternyata tidak sesimpel itu. Aspek-aspek di luar media dan manusia ternyata mem­pengaruhi akan bagaimana dunia di masa depan diran­cang oleh penghuni planet ini. Dibutuhkan analisis dan kerja yang lebih konkrit menyiasati revolusi media dan tantangan global.

Baca Juga : SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

Pakar sosiologi media, Manuel Castells (2009) me­nga­takan bahwa kita sudah hidup dalam jaring laba-laba media. Interaksi kita dengan media sudah saling mem­bu­tuhkan. Tingkatannya tidak hanya dalam hal meng­kon­sumsi informasi dalam media lagi, namun jauh dari itu, kita pun bisa memproduksi infor­masi, apalagi sejak ditemukan media sosial. Aktivitas meng­konsumsi sekaligus mem­produksi informasi adalah hal yang jamak dan sudah terlalu biasa di zaman sekarang. Aktivitas itu tidak hanya berjalan secara artifisial, jus­tru hal-hal yang substansial ternyata menghadirkan pro­ble­matika yang tidak kalah penting untuk dicermati.

Revolusi Teknologi Infor­masi dan Komunikasi (TIK) memang membawa lompatan besar dalam kehidupan umat manusia. Tidak hanya me­nyen­tuh sisi ekonomi, revo­lusi ini juga merambah ke­butuhan lain di lingkup so­sial-budaya. Karakteristik manusia di hari ini sedikit banyak dipengaruhi oleh bagaimana perilaku berko­mu­nikasi sehari-hari. Kore­lasi antara sikap ber­ko­mu­nikasi dengan pembentukan dan perubahan karakter ter­nyata memiliki saham dalam hal dinamika yang terjadi di masyarakat dan bahkan se­buah negara. Untuk itu, revo­lusi TIK harus segera dimak­nai sebagai awal untuk revo­lu­si paradigma di ranah-ranah lain, semisal pendidikan, sebagai salah satu ujung tom­bak peradaban.

Baca Juga : Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

Media, Pendidikan, Peradaban

Sekaitan semakin me­nguat­nya eksistensi dan rele­vansi media di aktivitas kehi­dupan masyarakat dunia, di mana telah terjadi mediatisasi di seluruh lini, maka media secara tidak langsung juga ikut terlibat dalam pembentukan karakter manusia. Jika selama ini peradaban dianggap hanya bisa dirancang melalui lapa­ngan pendidikan dan sosial-budaya, maka sesungguhnya kini kita tak bisa menafikan peran media. Media adalah guru sedari kecil. Tengoklah anak-anak kita, sudah melek gadget sedari balita. Daya pikir dan kreatifitas mereka tanpa sadar diajarkan oleh aplikasi yang dengan gam­pang tersedia di ponsel.

Baca Juga : Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

Menyadari tsunami media di seluruh lapangan kehi­du­pan, maka peran pen­di­dikan se­makin menguat, ma­na­kala media itu sendiri me­na­war­kan dua sisi mata uang. Me­mang, media men­cer­das­kan manusia dengan be­ron­­do­ngan in­for­ma­si­­nya yang ber­­­nilai po­si­­tif. Se­ba­lik­­nya, me­­­dia ju­ga ter­­­nya­­ta di­­­am-diam me­ngem­­ban ‘misi’ un­tuk mele­na­kan manusia. Ke­­­ter­lenaan itu secara pas­­ti menyasar di semakin tercu­rinya waktu un­tuk sa­ling ber­inte­rak­si seca­ra langsung antar sesama ma­nusia. Ketika manusia sibuk dengan gad­get­nya, ma­ka ruang privacynya men­do­minasi sehingga relasi sosial terputus sementara.

Efek negatif media juga merambah ke potensi keter­gantungan terhadap segala aplikasi, seperti game, chat­ting, dan kanal-kanal yang belum tentu memaparkan informasi yang berguna, lebih banyak remeh-temeh seperti gosip dan anjuran untuk seca­ra instan menyerap nilai-nilai dari kutub kebudayaan yang berbeda dengan kita. Belum lagi konten pornografi, yang dengan berbagai cara ternyata tetap bisa diintip meskipun negara kita sudah memblokir secara formal. Kesemuanya itu menegaskan satu hal: me­dia sama saja dengan benda dan materi lainnya, manfa­at­nya tergantung bagaimana penggunanya.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

Sinergitas Klise

Menyigi tentang pen­ting­nya jaringan yang terbangun an­tara media dengan institusi-institusi strategis adalah se­bu­ah keharusan. Peradaban ha­nya bisa dirancang melalui usa­ha yang terorganisir. Pen­di­dikan, sebagai lapangan pem­bentukan manusia, ada­lah lini yang paling potensial se­kaligus rawan untuk mem­ba­ngun masa depan yang lebih ba­ik. Jika kita sadar betapa me­dia menjadi kata kunci yang semakin mendominasi dan mendeterminasi arah pe­ru­bahan dan pencerahan, ma­ka sudah saatnya sinergi kons­truk­tif di­ba­ngun antara me­­­dia de­ngan dunia pen­­di­di­kan.

Ide si­ner­­gitas yang lebih so­lid menyiratkan bahwa per­lu langkah yang lebih kon­krit dan menyentuh lapa­ngan mi­kro. Dalam hal ini, ji­ka kita bi­ca­ra pendidikan, ma­ka la­bor dan pabrik se­sung­guhnya ada­lah ins­titusi pergu­ruan tinggi. Memang be­nar, pen­di­di­kan dimulai dari da­sar, da­lam hal ini pendidikan dasar (SD). Tapi, siapakah yang mencetak guru-guru itu kalau bukan perguruan ting­gi? Da­lam kon­teks ini, tentu­nya se­cara tidak langsung kita me­ru­juk ke bagaimana peran ins­ti­tusi Universitas eks IKIP (Ins­titut Keguruan dan Ilmu Pen­­­didi­kan) yang jumlahnya ada 10 Universitas di Indo­ne­sia.

Selama ini media lebih dianggap sebagai mitra pem­bentukan citra perguruan tinggi. Media massa ‘dika­wani’ agar seluruh aktivitas perguruan tinggi bisa dibaca publik lewat pemberitaan di koran, radio, televisi, media daring. Awak jurnalis selalu mangkal di kantor Hubungan Masyarakat (Humas) pergu­ruan tinggi demi menanti apa saja yang bisa dimunculkan di media tempatnya bekerja. Walau tidak semua perguruan tinggi dan media yang masih ‘ter­jebak’ dalam pola klise seperti ini, namun kita masih meyakini fenomena ini masih merupakan realiatas umum yang kita temui.

Menuju Relasi Konstruktif

Me­narik, berita singkat di harian Kompas, pada 5 Maret 2016 lalu yang memuat ten­tang iven ‘Temu Me­dia’ yang diadakan oleh Universitas Negeri Parahyangan, Ban­dung. Kegiatan yang berlang­sung pada 3 Maret 2016 itu membahas tentang penting­nya sinergitas yang bersifat saling membutuhkan antara media dan perguruan tinggi. Didapat kesim­pulan utama, bahwa media massa dan per­­­gu­ruan ting­­gi saling mem­bu­tuh­kan satu sama lain. Media dibutuhkan untuk memu­bli­kasikan gaga­san dan hasil penelitian di perguruan tinggi agar lebih bermanfaat bagi masyarakat luas. Sebaliknya, pemberitaan media massa dapat dijadikan materi untuk penulisan karya ilmiah.

Pada acara yang dihadiri oleh perwakilan puluhan me­dia dari Jawa Barat dan DKI Jakarta tersebut, Rektor Un­par, Mangadar Situmorang mengatakan bahwa selain sebagai rujukan dalam penu­lisan karya akademik, media dibutuhkan untuk mem­beri­kan masukan terhadap per­kem­bangan dunia pendi­di­kan, termasuk perguruan ting­gi (Kompas, 5/3/16). Bisa di­simpulkan, bahwa peran me­dia harus semakin diting­kat­kan. Diskusi-diskusi inte­rak­tif, harus berani diadakan. Di kota Padang, masih jarang ter­dengar sebuah media (ko­ran, radio, televisi) mengun­dang tokoh dari perguruan ting­gi membahas hal-hal kru­sial.

Menilik iven di Unpar tersebut, peran media yang menjalin relasi yang kons­truktif dengan perguruan tinggi ternyata sudah disadari secara lebih mendalam. Ke­dua institusi, media dan per­gu­­ruan tinggi mestinya bisa sa­ling berbagi kelebihan dan ke­manfaatan masing-masing. Pa­radigma lama bahwa me­dia hanya butuh berita dan perguruan ting­gi hanya bu­tuh citra mestinya su­­­dah di­pu­pus dan di­gan­­ti­kan de­ngan misi yang lebih besar, yaitu agar ba­gaimana kedua institusi ber­sama-sama mem­bangun pe­radaban secara lebih kon­krit.

Sisi lain yang juga tak ka­lah penting adalah bagai­ma­na menjadikan media seba­gai alat paling ampuh dalam men­sosialisasikan hasil-hasil pe­ne­litian yang diproduksi oleh perguruan tinggi. Selama ini kerja penelitian dari para pro­fessor dan ahli di sua­­tu bi­dang ha­nya bi­sa di­ak­ses oleh pi­­hak ter­­ten­tu, eks­­lu­sif. Pe­ne­­li­ti­an itu (rata-rata) hanya ‘meng­huni’ jurnal-jur­nal il­miah, atau kemudian yang bersifat ma­terial akan ber­de­bu saja di­makan masa di beng­kel atau laboratorium. Ter­le­bih, peme­rintah daerah pun masih jarang melibatkan kaum per­guruan tinggi untuk be­rem­buk me­mikirkan bagai­ma­­na daerah­nya mau diba­ngun.

Ke depan, dibutuhkan pe­ran aktif Perguruan Tinggi (PT) dan media untuk sama-sa­ma mengedukasi masya­ra­kat bahwa kedua institusi se­lalu berada di jalur terdepan un­tuk menjaga peradaban, me­lalui sosialisasi penelitian, ker­jasama-kerjasama yang kons­truktif-komunikatif se­mi­­sal memberi lahan yang luas bagi para peneliti untuk mau menu­liskan ikhtisar pe­ne­­litian dan analisisnya terha­dap per­ma­salahan sosial di me­dia massa. Tentu saja, PT ju­ga harus semakin berbenah da­lam hal peningkatan ke­mam­­puan pe­nu­lisan ilmiah-po­puler para do­sennya agar mam­pu dan ak­tif menulis di media massa. (*)

 

MOHAMMAD ISA GAUTAMA
(Pengajar Komunikasi Politik, Fakultas Ilmu Sosial, UNP)

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 09 Februari 2021 - 14:07:37 WIB

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam  siswa Perlu Ditinjau Ulang Ternyata persoalan pemakaian jilbab bagi siswi Non Muslim di SMKN 2 Padang,  belum berakhir. Pemberitaannya hiruk pikuk dan viral  diperbincangkan secara nasional dalam dunia pendidikan. Sampai Mendikbud terpancing angkat b.
  • Kamis, 04 Februari 2021 - 14:45:37 WIB

    Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

    Jangan Ikuti!  Iblis Penebar Hoaks Pertama Kita barangkali akrab dengan cerita Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah. Melalui anugerah ilmu, Allah memuliakan Nabi Adam di atas malaikat dan iblis..
  • Senin, 01 Februari 2021 - 16:58:52 WIB

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam Syekh Muhammad Djamil Djambek adalah ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad ke-20, dilahirkan pada tahun 1860 di Bukittinggi, terkenal sebagai ahli ilmu falak terkemuka..
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]