Museum Gudang Ransum

Jendela Sawahlunto ke Masa Silam


Sabtu, 19 Maret 2016 - 01:05:37 WIB
Jendela Sawahlunto ke Masa Silam WISATAWAN mengunjungi Museum Gudang Ransum Sawahlunto. Dari sini, bisa dibaca sejarah Sawahlunto di masa lalu. (FADILLA JUSMAN)

Di sini semuanya serba jumbo. Mulai dari kuali, periuk atau penanak nasi, semuanya memiliki ukuran serba besar. Karena du­lunya, semua peralatan da­pur tersebut memang di­gunakan untuk me­me­nuhi kebutuhan pekerja tambang yang jumlahnya ribuan.

Dulu, kawasan yang be­rada di perbatasan Ke­lu­rahan Air Dingin dengan Kelurahan Tanah Lapang, Kota Sawahlunto itu, me­rupakan dapur umum. Kini, bekas dapur umum yang telah berdiri semenjak ta­hun 1918 itu, dimanfaatkan menjadi museum, yang di­namai Museum Gudang Ransum.

Baca Juga : SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

Berbagai peninggalan bersejarah di zaman ko­lonial Belanda, terkait ke­giatan penambangan batu­bara, yang menjadi saksi sejarah perjalanan kota se­luas 275,9 kilometer persegi itu, kini menjadi bagian dari koleksi Museum Gudang Ransum.

Bekas dapur umum atau Museum Gudang Ransum ini merupakan bagian dari kom­plek perumahan karya­wan tam­bang, rumah sakit, serta gudang penyimpanan bahan pokok kebu­tuhan karyawan.

Baca Juga : Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

Melalui Museum Gudang Ransum inilah dulunya, segala ke­butuhan dan pasokan ma­ka­nan sehari-hari bagi ribuan pe­kerja tambang, keluarga ka­rya­wan, serta pasien rumah sakit, di­olah, di­masak dan di­dis­tri­bu­sikan.

Agaknya itu pula yang mem­buat peralatan masak di sana ber­ukuran besar. Bayangkan saja, se­tiap harinya hampir 4 ribu kilogram beras harus diolah, dimasak dan dibagikan ke ribuan karyawan yang terkait dengan pertambangan ba­tubara di kota tambang.

Baca Juga : Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

Tidak hanya peralatan masak berupa kuali dan periuk saja yang berukuran besar, di bagian be­lakang museum, juga berdiri mesin penyuplai uap panas pem­bakaran berukuran besar, buatan Jerman.

Peran dapur umum kala itu memang terbilang besar. Semua pembangunan gedung yang kini dinilai memiliki sejarah, serta menjadi bagian penting dari pengembangan pariwisata heri­tage, tidak terlepas dari ke­bera­daan dapur umum, yang me­ma­sok kebutuhan makanan untuk para pekerjanya.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

Dapur umum itu digunakan sebagai dapur umum bagi pega­wai tambang hingga tahun 1945. Begitu di era kemerdekaan, da­pur umum beralih fungsi untuk me­me­nuhi kebutuhan makanan tentara.

Berselang lima tahun di an­tara 1950 hingga tahun 1960, bekas dapur umum beralih fungsi menjadi kantor administrasi bagi perusahaan Tambang Batubara Ombilin. Kini semua peralatan yang ada di bekas dapur umum itu memang tidak lagi berfungsi.

Semua peninggalan yang ser­ba jumbo itu, kini menjadi daya tarik bagi wisatawan, khususnya wisata sejarah ataupun wisatawan pendidikan. Karena itu, kebe­radaan Museum Gudang Ran­sum ini terbilang sangat penting.

Kasi Registrasi Penetapan dan Permuseuman Kantor Mu­seum dan Peninggalan Bersejarah Sawahlunto, Adrial, me­ngung­kapkan, kunjungan wisatawan ke Museum Gudang Ransum rata-rata mencapai 1.500 orang lebih setiap bulan.

Mereka yang berkunjung, didominasi para pelajar baik dari dalam maupun luar Sawahlunto, rombongan keluarga, dan wisa­tawan asing yang kebanyakan orang Belanda. Para wisatawan melihat dan belajar akan sejarah Sawahlunto.

“Wisatawan Museum Gudang Ransum ini datang berkunjung untuk belajar. Sedangkan wisa­tawan asing, khususnya dari Belanda kebanyakan mencari infor­masi tentang sejarah per­jalanan nenek moyang mereka,” ungkap Adrial.

Bagi wisatawan, keberadaan Museum Gudang Ransum seba­gai jendela ke masa lalu. Sebab, di sana tidak hanya peninggalan bersejarah saja yang tersimpan. Namun juga didukung dengan berbagai audio visual, yang bisa mengantarkan wisatawan ke masa silam.

Hendri (41), salah seorang wisatawan asal Kota Padang, yang datang bersama istri dan dua anaknya, mengaku memboyong keluarganya untuk melihat lang­sung suasana Museum Gudang Ransum.

Bagi Hendri bersama dua anaknya Rosi (11) dan Dini (8), Gudang Ransum memiliki nilai sejarah yang luar biasa. Apalagi, museum ini juga memiliki bera­gam koleksi tempo dulu, yang menceritakan betapa sulitnya para pekerja tambang bekerja mendapatkan batubara.

“Awalnya kami ke Danau Kandih, Puncak Cemara dan kepalang tanggung, saya juga bawa anak-anak melihat sejarah kota tambang Sawahlunto ke museum ini,” ujar Hendri.

Tidak hanya Hendri, Rusman (55) juga membawa anak bung­sunya Wahyu (15), untuk ber­kunjung ke Museum Gudang Ransum Sawahlunto. Wahyu yang kebetulan pernah menetap di Sawahlunto semasa remajanya melihat, Sawahlunto mengalami kemajuan yang pesat.

“Sawahlunto berubah sangat jauh. Museum Gudang Ransum ini memperlihatkan betapa ber­bedanya kota ini dibandingkan dengan perkembangan yang ada hari ini. Mudah-mudahan sejarah ini tetap bisa dijaga,” tambahnya.

Di lahan seluas 6 ribu meter persegi, yang kini ditempati Gudang Ransum, juga berdiri Iptek Center dengan beragam penemuan maupun hasil pene­litian, yang dapat menjadi pela­jaran bagi para siswa dan pelajar.

Selain itu juga ada galeri epnografi atau galeri pakaian adat dari berbagai nagari maupun suku yang ada, galeri Malaka yang memuat beragam informasi ten­tang kepariwisataan di Malaka Malaysia.

Saat ini, Pemerintah Sawah­lunto juga sedang merencanakan pembangunan galeri pusaka kota, yang berisi profil kota Sawah­lunto melalui media audio visual, dengan memanfaatkan kawasan basement bangunan bekas dapur umum itu. (h/*).

 

Laporan: FADILLA JUSMAN

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 09 Februari 2021 - 14:07:37 WIB

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam  siswa Perlu Ditinjau Ulang Ternyata persoalan pemakaian jilbab bagi siswi Non Muslim di SMKN 2 Padang,  belum berakhir. Pemberitaannya hiruk pikuk dan viral  diperbincangkan secara nasional dalam dunia pendidikan. Sampai Mendikbud terpancing angkat b.
  • Kamis, 04 Februari 2021 - 14:45:37 WIB

    Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

    Jangan Ikuti!  Iblis Penebar Hoaks Pertama Kita barangkali akrab dengan cerita Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah. Melalui anugerah ilmu, Allah memuliakan Nabi Adam di atas malaikat dan iblis..
  • Senin, 01 Februari 2021 - 16:58:52 WIB

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam Syekh Muhammad Djamil Djambek adalah ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad ke-20, dilahirkan pada tahun 1860 di Bukittinggi, terkenal sebagai ahli ilmu falak terkemuka..
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]