Inyiak Balang

Penjaga Paru-Paru Dunia


Sabtu, 19 Maret 2016 - 04:31:16 WIB
Penjaga Paru-Paru Dunia SALAH seorang dari jurnalis tv swasta mengambil gambar di tepi rombo larangan yang masih perawan. Rimbo larangan ini menjadi habitat bernaung berbagai macam flora dan fauna yang sudah sudah langka Rabu, (18/3). (ISRA)

Ikan larangan mungkin sudah sering anda mendengarnya, dimana ketika dimakan akan membuat perut membuncit dan bahkan menimbulkan kematian. Tapi bagaimana ceritanya de­ngan rimbo larangan, apakah ketika masuk ke sana kita tidak bisa keluar lagi? Atau kita akan mati di da­lamnya? Seperti apa ceritanya?

Jauh dari hiruk pikuk kota dan bahkan pusat keramaian, sebuah Nagari bernama Paru di kawasan Kabupaten Sijunjung. Sebutannya paru sepertinya tidak salah lagi mengingat daerah ini merupakan paru-paru bagi dunia dengan hutan konsevasinya yang rimbun dan tentunya sejuk.

Baca Juga : SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

Masyarakat di Nagari Paru di Kecamatan Sijunjung, Kabu­paten Sijunjung ini sangat men­jaga kearifan lokal terutama dalam menjaga hutan. Bahkan Nagari Paru yang berpenduduk 1.883 jiwa tersebut masih me­miliki rimbo larangan hingga saat ini.

Berbicara tentang rimbo la­rangan di Nagari Paru, banyak cerita yang bernada mistik yang menghinggapinya. Salah satunya tentang inyiak baling (Harimau, red) yang menjadi penjaga rimbo larangan. Masyarakat di sana memegang teguh kepercayaan ini bahwa siapa pun yang akan meru­sak hutan akan langsung berha­dapan dengan inyiak balang.

Baca Juga : Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

Banyak cerita dari masya­rakat di Nagari Paru tentang keberadaan inyiak balang, mulai dari yang bertatap muka lang­sung, sampai sebagai penunjuk jalan ketika tersesat di hutan. Ujang (40) warga Nagari Paru menceritakan, bahwa inyiak balang bisa dimintai per­tolo­ngan apabila tersesat di hutan. “Jadi, ketika tersesat di rimbo larangan tinggal berteriak de­ngan kata ínyiak bantu kami, kami tasasek. Nanti akan ada berupa tanda ranting patah, maka ikuti saja dan kita akan kembali ke luar dari hutan,”katanya.

Bahkan apapun yang diambil dari hutan juga harus disisakan untuk inyiak balang sebagai penghormatan penjaga hutan. “Misalnya kita mengambil ikan dari rimbo larangan, kita harus menyisakan satu untuk inyiak balang kalau tidak kita tidak akan keluar dari hutan. Bisanya ada tanda yang diberikan berupa bunyi di semak-semak atau bah­kan ada benda berupa tanah atau batu yang di lempar ke air, itu tanda inyiak balang,”   katanya.

Baca Juga : Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

Di rimbo larangan sendiri masih banyak hewan langka yang berdiam di bawahnya. Alam yang terjaga membuat hewan seru­pa siamang, burung, dan bah­kan Black Panther Sumatra dan bahkan juga ditinggali makhluk mistis orang bunian.

Nagari Paru terletak dito­pografi dengan dataran sekitar 46 persen dan selebihnya sekitar 54 persen merupakan area per­bukitan.  Sedikitnya ada 4.500 ha rimbo larangan di Nagari Paru yang ekosistemnya masih terjaga dengan baik.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

Masyarakat di Nagari Paru hanya diberikan izin untuk me­manfaatkan hasil hutan berupa non kayu. Sementara untuk pem­balakan berupa potensi kayu akan mendapat sanksi adat yang telah dituangkan ke dalam Pera­turan Nagari (Pernag).

“Sanksi pengucilan secara adat tetap kami terapkan kepada masyarakat. Jangankan untuk merusak hutan bagi warga yang memanen durian muda juga akan disanksi denda seekor kambing,” kata Wali Nagari Paru, Iskandar saat menyambut kedatangan wartawan dalam kunjungan jur­nalistik ke hutan sosial di Nagari Paru Rabu, (17/3) lalu.

Banyak potensi non kayu yang disimpan hutan Nagari Paru selain terjaganya sumber air warga juga dapat dijadikan eko­wisata. “Bahkan ada mahasiswa dari Unand yang  datang ke sini untuk meneliti pohon. Mereka sangat terkejut karena jenis kayu di sini masih lengkap dan kayu yang terbilang langka juga ada di sini. Ini potensi yang sangat unik tentunya,” pungkas iskandar.

Kepala KPHL Model Sijun­jung, Slamet Riyadi mengatakan, untuk hutan di Nagari Paru memiliki banyak potensi, mulai dari rotan, karet, durian dan juga hutan Nagari Paru merupakan salah satu penghasil madu terbaik di Sumbar. “Masyarakat di sini biasanya mengolah rotan untuk dijadikan  berbagai kerajinan dengan nilai ekonomis yang tinggi. Selain itu madu yang dihasilkan juga telah mulai di kirim ke luar daerah Paru,”  jelas Slamet.

Sejauh ini hutan Nagari Paru menyumbang 700 kg madu lebah murni setiap bulannya. Hanya saja karena keterbatasan alat pengolahan sering madu asli yang diambil ketika dijual harganya menjadi rendah. “Karena masih banyak air yang tercampur de­ngan madu, makanya kita butuh sekali alat pengolahan madu,” ujarnya.

Bak gayung bersambut Direk­tur Bina Usah Perhutanan Sosial dan Hutan Adat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehu­tanan RI, Masyud yang hadir saat itu menyatakan akan membantu mesin pengolahan madu. Diha­rapkan dengan cara ini akan membuat madu Nagari Paru semakin memiliki nilai eko­nomis yang tinggi.

“Kita akan bantu untuk mesin pengolahan madu. Jadi nanti antara air dan madu memang terpisah sempurna. Kita juga mengapresiasi langkah warga Nagari Paru yang terus mema­nfaatkan hasil hutan non kayu, seperti halnya pengolahan rotan menjadi kerajinan, semoga bisa terus ditingkatkan,” paparnya.

Amin dari United Nation Development Program (UNDP) mengapresiasi langkah pe­ngelo­laan hutan yang dilakukan masya­rakat Nagari Paru. Menurutya, dengan pemberian kewenangan pemeliharaan hutan ke masya­rakat membuat hutan semakin terjaga terutama dari pemba­batan liar.

“Semoga kepercayaan yang diberikan kepada provinsi Sum­bar untuk pengelolaan hutan sosial tidak mengecewakan. Diharapkan terus menjaga hutan dari illegal loging dan kebakaran lahan. Dari enam provinsi yang menajadi prioritas UNDP Sum­bar mendapat yang spesial berupa program pengelolaan hutan so­sial,” jelasnya.

Kepala Bidang (Kabid) Reha­bilitasi Hutan dan Lahan, Yo­nefis sangat senang karena di Nagari Paru masih terdapat rimbo larangan. Sebagai paru-paru dunia katanya, Nagari Paru perlu terus dijaga. “Masyarakat Nagari Paru memang sangat memegang kearifan lokal untuk menjaga hutan. Kita dari Pemprov Sum­bar akan terus mendukung Na­gari Paru untuk melestarikan hutan,”  katanya. (*)

 

Laporan: ISRA CHANIAGO

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 09 Februari 2021 - 14:07:37 WIB

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam  siswa Perlu Ditinjau Ulang Ternyata persoalan pemakaian jilbab bagi siswi Non Muslim di SMKN 2 Padang,  belum berakhir. Pemberitaannya hiruk pikuk dan viral  diperbincangkan secara nasional dalam dunia pendidikan. Sampai Mendikbud terpancing angkat b.
  • Kamis, 04 Februari 2021 - 14:45:37 WIB

    Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

    Jangan Ikuti!  Iblis Penebar Hoaks Pertama Kita barangkali akrab dengan cerita Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah. Melalui anugerah ilmu, Allah memuliakan Nabi Adam di atas malaikat dan iblis..
  • Senin, 01 Februari 2021 - 16:58:52 WIB

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam Syekh Muhammad Djamil Djambek adalah ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad ke-20, dilahirkan pada tahun 1860 di Bukittinggi, terkenal sebagai ahli ilmu falak terkemuka..
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]