Sumbar Darurat Keamanan Pangan


Senin, 21 Maret 2016 - 04:56:45 WIB
Sumbar Darurat Keamanan Pangan

PADANG, HALUAN — Saat ini, sangat sulit menemukan pangan atau berbagai kebutuhan harian yang benar-benar aman dikonsumsi. Sebab, nyaris seluruh produk pangan termasuk pangan segar sekalipun, sudah tercemar zat-zat berbahaya.

Pangan pertanian ter­cemar sejak dari hulu hingga ke hilir, berupa residu pes­tisida dan bahan kimia lain. Pangan olahan tidak aman dikonsumsi karena meng­gunakan zat berbahaya se­perti formalin dan boraks, ter­masuk makanan kemasan ka­­rena menggunakan pe­ngawet.

Baca Juga : Sebanyak 2.500 Pedagang Pasar di Kota Padang Divaksinasi

Karena itu, tak ber­le­bihan jika dikatakan bah­wa Sumbar sudah darurat ke­amanan pangan. Apalagi dalam beberapa peristiwa, pangan yang dikonsumsi sudah membahayakan nya­wa akibat keracunan makanan.

“Pangan yang di­kon­sumsi masyarakat saat ini sudah sangat tidak aman, ter­cemar berbagai zat ber­bahaya dan mengancam nya­wa,” ujar Pokja Ahli Ketahanan Pangan Sumbar, Djo­ni dalam Diskusi Ke­amanan Pangan di Sumbar, Sabtu (19/3) di Padang.

Baca Juga : Hari Ini, Pedagang Pasar Raya Melakukan Vaksinasi

Menurut Arigas Eka Putra, Akademisi Unand, pangan segar seperti sayur dan buah-buahan kadang sengaja diberi zat-zat ber­bahaya agar awet dan tahan lama. Seperti melon, leng­keng disuntik formalin.

Hasil inspeksi tim BKP Sumbar terhadap berbagai produk pangan yang  be­redar di masyarakat  dalam  4 tahun terakhir, me­nun­jukan masih sangat banyakn pro­duk pangan yang ter­kon­taminasi zat-zat berbahaya. Pada inspeksi 2014, mem­perlihatkan dari 36 sampel pangan segar yang diuji,  15 sampel diantara masih ter­deteksi residu pestisida yang berbahaya untuk kesehatan.

Baca Juga : Jadwal Shalat untuk Kota Padang dan Sekitarnya Kamis 04 Maret 2021

Masalah ini makin serius karena hasill inspeksi di la­pangan, tidak hanya pangan segar saja yang mengandung zat-zat berbahaya itu, tapi juga  jajanan anak sekolah. Dari 45 sampel yang diuji, 19 sampel jajanan anak sekolah tidak memenuhi syarat.

“Dari kasus-kasus terse­but, agaknya perlu sanksi bagi pelaku usaha yang cu­rang dengan mencampur zat berbahaya dalam pangan yang dijualnya,” tambah No­vian Djamil, Badan Keta­hanan Pangan Sumbar.

Baca Juga : Ini Tanggapan Hendri Septa soal Siapa Wakil Walikota yang Mendampinginya

Apalagi, akibat me­ngon­sumsi pangan yang tercemar itu berdampak bagi kese­hatan, seperti pertumbuhan terganggung, emosi tidak stabil dan lainnya. Dari data yang ada, kualitas pangan di negeri ini setara dengan pangan Afrika.

Jenis pangan berbahaya yang patut diwaspadai itu di­antaranya goreng-gorengan berplastik, kerupuk boraks, tahu berformalin, ikan asin berformalin dan aneka ma­kanan dengan warna men­colok. Semuanya itu banyak ditemukan di pasar rakyat.

Ditambah Djoni yang juga mantan Kadis Pertanian dan Tanaman Pangan Sum­bar itu, mencermati kondisi terkini maka perlu di­per­tegas lagi. Apalagi sebe­nar­nya dalam Perda Ke­man­dirian Pangan yang telah disahkan DPRD Sumbar tahun 2015 lalu, telah diatur tentang keamanan pangan ini.

“Soal keamanan pangan, Perda itu menyatakan pen­ting untuk menjaga pangan tetap aman, higienis, ber­mutu dan bergizi serta  tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya ma­syarakat,” katanya.

Sementara itu, Ketua YLKI Sumbar Dahnil As­wad mengatakan, pangan yang tak aman dikonsumsi itu bukan hanya produk da­lam negeri yang di­pro­duksi para UKM, tetapi juga pro­duk impor, karena di­pas­tikan meng­gunakan pe­ngawet.

“Namun ada kecen­dru­ngan masyarakat menyukai pangan olahan dan kemasan yang tercemar zat berbahaya itu karena gaya hidup,” ka­tanya.

Hanya saja, lanjutnya, jika isu zat berbahaya pada makanan ini meluas, juga sangat berbahaya bagi ke­lang­sungan usaha ma­sya­rakat. Seperti pernah me­rebak sebelumnya ten­tang bakso formalin membuat pe­dagang bakso gulung tikar.

“Jadi perlu kese­pa­ha­man bersama, seluruh stake holder terkait. Apa yang aman akan kita makan ka­rena nyaris seluruh produk pangan sudah tercemar,” katanya.

Pertanian Organik

Oyon Syafei, Ketua KTNA Padang mengaku tidak nyaman dengan kon­disi tersebut. Tak hanya petani yang menggunakan pes­tisida, juga nelayan meng­gunakan formalin supaya ikan tahan sampai di darat.

“Ini kesalahan program masa lalu dalam mengejar pe­ningkatan produksi, swa­sembada pangan meng­gu­na­kan zat kimia. Karena jika dilakukan secara organik, biayanya cukup mahal, ma­ka dipilih yang instan,” katanya.

Namun saat ini, dengan kon­disi pangan yang se­makin tidak aman di­kon­sumsi maka solusi terbaik adalah kembali ke pertanian organik. Untuk nelayan, gunakan cold storage agar ikan tahan lama saat sampai di darat. (h/vie)

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]