Redaktur Bahasa dan Media Massa di Sumatera Barat


Selasa, 22 Maret 2016 - 04:15:08 WIB
Redaktur Bahasa dan Media Massa di Sumatera Barat

Tidak satu pun media massa di Sumatera Barat (Sumbar), baik media cetak, elektronik, maupun dalam jaringan (daring, online), yang memiliki redaktur khusus bahasa. Silakan lihat sendiri di kotak redaksi setiap media massa bersangkutan. Barangkali hal inilah salah satu penyebab terjadi banyaknya kekeliruan dan salah kaprah berbahasa di media massa yang terbit di provinsi ini.

Beberapa contoh ke­ke­liruan berbahasa tersebut misalnya, tertukarnya peng­gunaan kata kita dan kami. Wartawan menggunakan kata kita saat mengutip komentar langsung dari narasumber, padahal pihak di luar nara­sumber tersebut tidak ter­masuk bagian kita dalam wawancara tersebut. Kata yang seharusnya digunakan dalam konteks tersebut ada­lah kami. Artikel tentang ini sudah pernah saya tulis di Haluan pada 23 Mei 2014 dengan judul Kekeliruan Peng­gunaan Kata Kita dan Kami. Meski artikel ini sudah lama terbit, namun kesalahan se­per­ti ini masih terjadi setiap hari di media massa terbitan Sumbar.  

Baca Juga : SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

Kemudian, kesalahan pe­lu­luhan konsonan k, p, s, dan t. Misalnya, bertemunya awa­lan mem- dengan kata dasar pe­ngaruh, sering ditulis mem­pe­ngaruhi, padahal di sana berlaku hukum peluluhan, sehingga kata yang tepat ada­lah memengaruhi. Saya se­dang menyiapkan artikel khu­sus yang membahas masalah peluluhan konsonan k, p, s, dan t ini.

Contoh kesalahan lainnya adalah salah kaprah penulisan tunggal dan jamak. Misalnya, kata politisi yang merupakan bentuk jamak dari politikus, sering ditulis oleh wartawan dengan para politisi, sehingga maknanya menjadi rancu. Artikel tentang masalah ini pernah saya tulis di Haluan pada 24 Oktober 2015 dengan ju­dul Kritisi dan Politisi. Akan tetapi, sampai hari ini ma­salah ini masih sering terjadi. Kalau tidak percaya, per­hati­kanlah semua media massa di Sumbar setiap hari.  

Baca Juga : Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

Masalah lain yang paling se­ring terjadi di media massa ter­bitan Sumbar adalah peng­gu­naan kata atau istilah asing, yang seharusnya dipadankan da­lam bahasa Indonesia. Me­nu­­rut saya, ini adalah kesa­la­han paling fatal, sebab media massa yang seharusnya ber­fung­­si mengajak masyarakat meng­gunakan bahasa Indo­ne­sia dan menghindari peng­gu­na­an campur aduk bahasa. Con­tohnya, ketika pejabat meng­gunakan istilah stake hol­der, wartawan ikut pula me­nulis stake holder. Padahal fra­sa ini bisa dipadankan men­jadi pemegang kebijakan. Ke­mudian, kalau pemerintah daerah mengadakan perte­mu­an dengan pihak lain, lalu per­temuan tersebut diberi tajuk coffee morning, warta­wan pun meniru frasa tersebut dalam beritanya. Padahal frasa terse­but bisa dipadankan menjadi ramah tamah. Entah menga­pa wartawan sering meniru uca­pan narasumber seperti ini, padahal wartawan bu­kan bu­rung beo. Masalah ini juga se­dang saya tulis dan sa­ya kait­kan dengan UU No­mor 24 Tahun 2009 tentang Ben­dera, Bahasa, dan Lam­bang Negara serta Lagu Ke­bang­­saan.

Belum lagi masalah tidak tepatnya pemakaian kata ti­dak dan bukan. Sebagai kata keterangan, tidak digunakan sebagai pengingkar jenis kata lain, misalnya tidak pergi, sedangkan bukan digunakan sebagai pengingkar kata ben­da, misalnya bukan saya. Hal ini sudah benar ditulis oleh media massa. Akan tetapi dalam konteks kata sambung korelatif, kedua kata ini sering ditukar pasangannya oleh media massa. Tidak yang pasangannya tetapi, dan bu­kan yang berpasangan dengan melainkan, sering ditukar pasangannya oleh wartawan menjadi tidak dipasangkan dengan melainkan, dan bukan dipasangkan dengan tetapi. Kelihatannya kesalahan se­per­ti ini sepele. Akan tetapi, kesalahan tetaplah kesalahan, sekecil apapun ukurannya.  

Baca Juga : Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

Banyak lagi kekeliruan berbahasa yang terjadi di media massa terbitan Sumbar. Kalau semuanya saya tulis di sini, akan menghabiskan sepu­luh lembar halaman koran. Oleh karena itu, saya mencicil pembahasannya dengan me­nu­lis satu artikel untuk satu masalah, seperti yang selama ini sudah saya lakukan, meski belum rutin sekali seminggu.

Banyaknya kesalahan yang terjadi di media massa ter­bitan Sumbar, setidaknya bi­sa dikurangi kalau tidak mung­kin dihilangkan de­ngan ada­nya redaktur bahasa di se­tiap media massa. Kebe­ra­daan re­daktur bahasa tidak berarti tidak terjadi lagi kesa­lahan ber­bahasa di media ber­sang­ku­tan. Hal ini sudah ter­bukti di beberapa media mas­sa na­sional yang memiliki ba­nyak redaktur bahasa, na­mun ma­sih terjadi kesalahan ber­baha­sa di media tersebut. Akan tetapi, setidaknya kesa­la­han berbahasa di media mas­­sa yang memiliki redaktur ba­hasa, lebih sedikit atau sa­ngat jarang dibandingkan me­dia massa yang sama sekali ti­d­ak memiliki redaktur baha­sa.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

Selama ini, tugas mengo­reksi kesalahan berbahasa di media massa terbitan Sumbar dikerjakan oleh rekdatur un­tuk setiap rubrik. Ada bebera­pa hal yang perlu dicermati da­ri hal ini. Pertama, ganda­nya tugas redaktur rubrik, se­lain untuk memastikan ke­la­yakan berita yang diter­bit­­kan dan memperdalam berita, ju­ga mengoreksi baha­sa. Kedua, apakah redaktur rubrik terse­but sudah memi­li­ki wawasan ba­hasa yang mum­puni untuk me­ngoreksi ba­hasa berita yang ditulis oleh re­porternya? Ja­ngan-jangan ba­hasa berita yang dia tulis sen­diri belum ten­tu benar. Sa­ya mengakui bah­wa masih ba­nyak kesala­han berbahasa yang saya laku­kan, baik dalam be­rita yang saya tulis sendiri, mau­pun dalam mengoreksi be­­rita yang ditulis oleh repor­ter.  

Setidaknya setiap media massa terbitan Sumbar memi­liki satu redaktur bahasa kalau belum bisa mempekerjakan banyak redaktur bahasa. Satu redaktur bahasa tersebut mini­mal untuk mengoreksi berita yang terbit di halaman 1 dan halaman 2 (khusus untuk media cetak) sebagai etalase koran. Saya kira media massa memiliki dana yang cukup untuk menggaji satu redaktur bahasa.

Pelatihan bahasa untuk wartawan

Selain mempekerjakan redaktur khusus bahasa, me­dia massa terbitan Sumbar juga perlu sering mengadakan pelatihan atau lokakarya baha­sa bagi wartawan, mulai untuk ting­kat reporter sampai ting­kat redaktur. Hal ini berkaitan dengan gandanya tugas redak­tur rubrik tadi. Sementara untuk reporter, pelatihan ini juga perlu karena suatu saat dia akan menjadi redaktur, kecuali kalau dia mau selama­nya menjadi reporter.

Selama ini, pelatihan yang sering digelar untuk wartawan adalah pelatihan jurnalistik. Pelatihan jurnalistik memang penting untuk wartawan. Akan tetapi, pelatihan bahasa juga penting, karena bahasa adalah bagian tidak ter­pisah­kan dalam dunia jurnalistik. Bila wartawan bisa meng­gu­nakan dan meramu bahasa dengan baik, maksud yang disampaikan wartawan dalam sebuah berita akan mudah diterima oleh pembaca.

Mengenai pelatihan ber­ba­hasa, media massa bisa beker­ja sama dengan Kantor Balai Bahasa Sumatera Barat, dan perguruan tinggi yang memiliki jurusan bahasa yang memiliki banyak pakar baha­sa yang hebat itu.

Banyak jalan menuju Ro­ma. Banyak cara untuk mem­perbaiki kesalahan berbahasa di media massa terbitan Sum­bar yang semakin hari se­ma­kin memprihatinkan. (*)

 

HOLY ADIB
(Wartawan dan Pemerhati Bahasa Indonesia)

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 09 Februari 2021 - 14:07:37 WIB

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam  siswa Perlu Ditinjau Ulang Ternyata persoalan pemakaian jilbab bagi siswi Non Muslim di SMKN 2 Padang,  belum berakhir. Pemberitaannya hiruk pikuk dan viral  diperbincangkan secara nasional dalam dunia pendidikan. Sampai Mendikbud terpancing angkat b.
  • Kamis, 04 Februari 2021 - 14:45:37 WIB

    Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

    Jangan Ikuti!  Iblis Penebar Hoaks Pertama Kita barangkali akrab dengan cerita Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah. Melalui anugerah ilmu, Allah memuliakan Nabi Adam di atas malaikat dan iblis..
  • Senin, 01 Februari 2021 - 16:58:52 WIB

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam Syekh Muhammad Djamil Djambek adalah ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad ke-20, dilahirkan pada tahun 1860 di Bukittinggi, terkenal sebagai ahli ilmu falak terkemuka..
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]