Pemulihan Danau Maninjau

Jangan Gegabah Kurangi KJA


Kamis, 24 Maret 2016 - 04:19:44 WIB

Agam, Haluan — Upaya Pemerintah Kabu­paten Agam untuk mengurangi Keramba Jaring Apung (KJA) di Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya harus dilakukan secara-hati, karena menyangkut mata pencarian masya­rakat. Selain itu pemerintah harus bisa me­nyakinkan masyarakat sehingga mereka bisa menerima secara suka rela.

Apabila masyarakat tidak dipahamkan dengan maksud dan tujuan serta keuntungan pengurangan keramba, ren­cana pengurangan tersebut bisa jadi hanya tetap menga­wang. Masyarakat tentu tidak akan terima begitu saja jika periuk beras mereka bakal tersunging. Selain itu peme­rintah juga harus bisa mena­war­kan secara cerdas bagai­mana mengganti pemasukan masyarakat selain dari KJA.

Sejauh ini dengan langkah pengurangan jumlah keramba jarring apung dari 23 ribu sampai hanya menjadi 6000 sesuai dengan jumlah ideal,  masih menuai prokontradiksi di tengah masyarakat. Ada pembudidaya yang men­du­kung begitu juga sebaliknya.

Tidak sedikit yang ber­pendapat untuk menjaga ke­les­tarian danau tidak mesti mengurangi jumlah KJA. Namun cukup dengan komit­men menjaga kebersihan da­nau oleh semua pihak yang ada di salingka da­nau. Mereka mengaku konsep pariwisata yang ditawarkan kepada mas­yarakat tidak begitu menarik justru menguntungkan sego­longan pihak saja.

Warga Jorong Pauh Taru­ko Nagari Koto Malintang Kecamatan Tanjung Raya, Ali Umar St Jamarih (73), Senin (23) mengatakan, untuk mem­bersihkan danau tidak mesti dengan menghabiskan secara drastis KJA dari perai­ran Danau Maninjau. Menu­rutnya, penyebab tercemar danau bukan hanya karena pakan ikan tetapi juga dari berbagai sumber, antara lain, limbah pertanian, limbah keluarga. “Penyebab terce­mar danau karena berbagai sumber, pakan ikan, limbah pertanian, limbah keluarga dan penyebab lainnya. Oleh sebab itu perlu komitmen. Kami mendukung penerapan peraturan daerah tentang ke­les­tarian danau tetapi tidak dengan cara menciutkan se­cara drastis jumlah keramba,” katanya.

Diperlukan komitmen serta ketegasan diberlaku­kannya pada setiap orang yang membuang sampah semba­rangan kedalam danau, yakni sampah plastik, dan lim­bah  dan lainnya. “ Sebagian besar masyarakat Danau Ma­ninjau sudah puluhan tahun hidup bergantung dengan usaha KJA. Jadi untuk me­ngubah mata pencarian ke­pada yang lain tidak mudah,” katanya.

Sementara itu salah seo­rang warga Maninjau lain, Iwan mengatakan, diperlukan kajian yang sangat cermat dalam usaha untuk mengaragi KJA di Maninjau, pemerintah mesti jelas menciptakan pe­luang ekonomi baru bagi masyarakat yang menggan­tungkan hidupnya di KJA. Sampai saat ini masyarakat belum bisa mendapatkan keyakinan mendapatkan sum­ber penghasilan lain yang cukup baik selain KJA.” Pada prinsipnya kita mendukung, tetapi ada baiknya, semua itu harus diimbangi dengan mela­kukan sosialisasi yang mak­simal sehingga masyarakat mengerti manfaat pengu­ra­ngan KJA, serta terbuka mata­nya dengan peluang lain. Kalau hal ini tercapai tentu­nya bakal lebih mudah,” jelasnya.

Kepala Dinas Perikanan (DKP) Agam, Ermanto di Lubuk Basung, mengatakan, jumlah keramba jaring apung (KJA) di Danau Maninjau lebih kurang 23.566 petak. Jumlah KJA memang di­upayakan berkurang. Berda­sarkan hasil kajian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) jumlah maksimal KJA dimaninjau hanya 6000 pe­tak.”Pengurangan akan dila­kukan secara bertahap, di­harapkan dalam lima tahun mendatang jumlah KJA di Maninjau bisa mencapai ang­ka yang ideal. Ha ini juga tertuang Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2014 tentang pengelolaan peles­tarian kawasan Danau Manin­jau,” jelasnya. (h/yat)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]