Pasca Banjir, Warga Nilai Pemerintah Lamban Bergerak


Kamis, 24 Maret 2016 - 04:31:26 WIB

PADANG, HALUAN — Setelah bencana banjir hebat melanda Kota Padang, banyak warga mengaku kecewa karena belum kunjung mendapatkan bantuan dari pemerintah. Kondisi itu diperparah dengan ketiadaan air bersih dan bahan makanan, sehingga warga harus berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup pasca bencana.

Pantauan Haluan pada Rabu (23/3) di beberapa lokasi di Kota Padang, ter­lihat warga yang terkena dampak banjir sibuk mem­bersihkan rumah dan me­nge­masi berbagai peralatan rumah tangga yang basah dan penuh lumpur dengan per­sediaan air seadanya. Warga menyayangkan lam­ban­nya bantuan pemerintah.

Erman (43), warga Tan­jua­ng Berok, Kelurahan Kurao Pagang, kepada Ha­luan di rumahnya mengaku belum mendapatkan ban­tuan apa pun dari peme­rintah. Padahal kondisi ru­mah­nya tampak sangat me­m­prihatinkan, di mana se­mua perabotan terlihat ba­sah, kotor dan berlumpur.

“Beras persediaan se­lama sebulan basah semua. Sekarang sedang dijemur di pekarangan. Belum lagi bahan makanan lain, se­mua­nya hanyut. Sampai saat ini Alhamdulillah belum ada bantuan apa pun yang saya terima,” ucap pria yang sehari-hari bekerja sebagai pekerja taman Kota Padang tersebut.

Keluhan serupa dika­ta­kan Silvi (30), warga Graha Agung, Anak Aia, Ke­ca­ma­tan Koto Tangah. Katanya, sehari pasca banjir, belum satu pun bantuan datang, baik dari petugas kelurahan, Badan Penanggulangan Be­n­­cana Daerah (BPBD), Di­nas Sosial, Dinas Kesehatan atau pihak swasta.

“Sampai hari ini rumah saya masih dipenuhi lum­pur, belum ada satu pun bantuan penyemprotan yang datang. Belum lagi per­sediaan makanan dan ke­bu­tuhan air untuk MCK (ma­ndi cuci kakus) yang belum ada sama sekali. Hari ini saya dan keluarga terpaksa beraktivitas dalam keadaan tidak mandi,” keluhnya.

Untuk me­nang­gulangi­nya, Silvi dan para tetangga­nya terpaksa memaksimal­kan persediaan air galon untuk mencuci peralatan dapur, gosok gigi dan ke­butu­han mendesak lainnya. “Sa­ya biasanya pakai air PDAM, tapi sudah mati sejak banjir dan belum hi­dup sampai sekarang. Se­dang­kan air su­mur sudah penuh lumpur dan keruh,” lanjutnya penuh ke­kecewaan.

Menanggapi hal ini, Ke­pala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Padang, Dedi Henidal, mengatakan bah­wa masa tanggap darurat berlangsung selama tujuh hari (22-29 Maret). Untuk penyaluran bantuan pem­bersihan, memang di­da­hulu­kan untuk fasilitas um­um (fasum) seperti sekolah dan masjid. Oleh karena itu, beberapa pelayanan kedaruratan belum sampai ke rumah-rumah warga.

“Seperti penyemprotan lumpur dalam rumah me­mang belum, kami dahulu­kan se­kolah dan masjid. Un­tuk  satu sekolah saja, kami baru men­yemprot SDN 24 tadi siang, satu sekolah itu menghabiskan 12 truk air. Belum lagi pen­yemprotan satu masjid yang sampai me­ng­habiskan 20 truk air,” katanya.

Untuk persedian air ber­sih, lanjut Dedi, ia telah menyelesaikan masalah itu dengan pihak Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang. Menurutnya, pada Rabu (23/3) pukul 17.00 WIB seluruh aliran air PDAM yang terputus karena banjir sudah kembali hidup.

Namun, salah seorang warga Siteba, Reza, saat dihubungi Haluan pada pukul 20.23 WIB, menga­takan bahwa aliran air di lingkungan tempat tinggal­nya dekat Puskesmas Si­teba, masih mati sejak hari bencana dan belum hidup hingga berita ini diturunkan. Hal serupa juga di­sampai­kan beberapa warga Tabiang dan Lubuk Buaya.

“Saya butuh sekali air untuk mandi, sudah dari pagi saya tidak mandi. Air PDAM tak kunjung hidup. Lama sekali penanganan bencana ini,” kata Reza.

Selain masalah ke­butu­han air yang belum ter­pe­nuhi, warga juga kecewa atas lambannya langkah pemerintah dalam men­ya­lurkan bantuan logistik dan makanan. Untuk hal ini, Dedi Henidal meminta war­ga untuk mendatangi ke­lu­ra­han masing-masing untuk mendapatkan bantuan. Ka­rena urusan bantuan maka­nan menjadi wilayah kerja Dinas Sosial Kota Padang yang disalurkan melalui kelurahan.

“Makanan jadi wilayah kerja Dinsos melalui kelura­han. Untuk warga di pe­ngun­gsi­an, mereka dijamin maka­nan dua kali sehari, silakan ke kelurahan kalau tidak mendapatkannya. Ter­masuk bagi warga yang su­dah kem­bali ke rumah, di­harap­kan dapat mendatangi kelurahan setempat,” katanya.

Selama tanggap darurat, BPBD Kota Padang men­diri­kan tiga tenda darurat, satu tenda di kawasan Dadok Tunggul Hitam, dan dua tenda di kawasan Kuranji. Selain itu, posko utama bantuan juga dibuka di Pa­lanta Rumah Dinas Wali­kota Padang.

Adapun terkait bantuan obat-obatan, makanan pen­damping dan air sumur yang keruh, Kepala Dinas Kese­hatan Kota (DKK) Padang, Eka Lusti memastikan mu­lai hari ini (24/3) timnya akan bergerak untuk mem­bagikan kaporit bagi warga yang menggunakan sumur galian, guna mensterilkan air sumur yang dikonsumsi.

“Bahannya sudah kami terima dari  Kantor Ke­se­hatan Pelabuhan, besok (hari ini,red) akan kami bagikan ke warga yang me­m­butuhkan. Saat mem­bagi­kan­n­ya, kami juga lakukan penyuluhan penggunaan air dan pendeteksian penyakit. Sedangkan kebutuhan ma­kanan pendamping dan ob­at-obatan sudah kami distri­busikan sejak hari kejadian hingga hari ini,” ucap Eka.

Berdasarkan rekap se­men­tara yang dirilis BPBD Kota Padang, jumlah keru­gian yang diakibatkan oleh bencana banjir di Kota Pa­dang sudah menembus ang­ka di atas Rp27,7 miliar. Kerugian didominasi rekap dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Padang, se­bany­ak Rp12,3 miliar lebih yang terdiri dari kerusakan jalan, irigasi, bangunan dan lain-lain. (h/isq)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]