Sikola Lapau

Mengupas Persoalan Masyarakat dari Lapau


Sabtu, 26 Maret 2016 - 01:39:55 WIB
Mengupas Persoalan Masyarakat dari Lapau SUASANA sikola lapau yang digelar di sebuah lapau di Kabupaten Solok, membahas berbagai topik. (YUTISWANDI)

Bagi orang Minang, lapau (warung) tak hanya sebagai tem­pat untuk me­me­nu­hi kebutuhan yang berurusan dengan persoalan perut semata, seperti sarapan dan sebagainya. Namun terlebih dari itu, lapau di Ranah Minang memiliki peran sentral dalam tatanan kehidupan dan budaya masyarakatnya.

Dari lapau, sembari menik­mati segelas minuman hangat yang sering dikawankan dengan gorengan dan sebagainya, be­r­a­wal berbagai cerita tentang ke­hi­dupan sehari-hari sampai mem­bedah isi dunia. Semua orang lingkup di sini, mulai dari petani, pedagang, politisi, hingga pejabat pemerintah.

Di lapau, ada yang sekedar pergi minum dan sarapan saja, namun tak jarang pula ada me­reka yang menghabiskan wak­tunya untuk maota-ota sepanjang hari di lapau. Dimintanya kopi steng (setengah gelas kopi), kemudian duduk seharian. Me­nung­gu kawan yang datang silih berganti dengan cerita yang ber­beda-beda pula tentunya.

Bahkan sudah barangik mata pemilik lapau, dia tetap saja cuek. Kadang hanya beralih duduk dari palanta (tempat duduk) yang satu ke yang lain, hingga licin palanta itu dibuatnya.

Nah, itu mungkin hanya se­bagian kecil dari kisah lapau dan palantanya. Namun dibalik se­mua itu, tentunya ada filosofi yang terkandung dari peran lapau di Ranah Minang. Lapau sejati­nya bukan tempat untuk meng­gosip ataupun menggunjingkan dan membuka aib orang lain.

Tetapi tempat berbagi penga­la­man hidup dan beradu argumen antara satu dengan yang lainnya. Semua orang lapau (yang ada di dalam lapau) bisa menjadi nara sumbernya, tentu dengan ber­bagai sudut pandang yang ber­beda pula.

Beranjak dari filosofi inilah, kemudian peran lapau mulai berkembang ke arah yang lebih modern. Tak hanya sekedar ma­ota-ota berhabis hari, namun ada muatan dan eksistensi yang jelas dalam setiap ota lapau yang dibahas. Berfikir dialogis, dia­lek­tis, egaliter, logis dan sebagainya, akan tetapi tidak asing bagi orang Minang ketika disimak pem­bicaraan mereka di lapau itu. Dari lapau mereka meneropong berbagai persoalan yang telah dan sedang terjadi saat ini.

Seperti yang dilakukan seke­lom­pok pemuda di Solok. Meski tidak melembagakan dan mem­beri nama kelompoknya, namun mere­ka memberi nama forum diskusi ini dengan nama Sikola Lapau.

Jika merunut kepada arti kata Sikola Lapau, tentunya secara harfiah, sikola dalam bahasa Mi­nang jika di Indonesiakan berarti sekolah. Sekolah meru­pa­kan tem­pat menuntut ilmu, ada guru tentu adapula murid yang digurui.

Namun dalam konsep sikola lapau ini, mungkin tak jauh berbeda dengan sekolah pada umumnya. Bedanya cuma tidak ada papan tulis, dan  tak ada ruang kelas, serta posisi meja guru tidak terpisah dengan meja mu­rid. Di sikola lapau, semua ber­baur menjadi satu.

Uniknya, sikola lapau me­mang digelar di lapau-lapau yang ada di daerah itu dan berpindah-pindah tempat pula dari satu nagari ke nagari lainnya. Mung­kin tak pula jauh berbeda pula dari ILC yang dipandu bang Karni Ilyas di TV One. Yang pasti bedanya diskusi Sikola Lapau tidak masuk Tivi, paling-paling hanya masuk Koran.

Adalah Marzul Veri, tokoh muda Solok yang juga mantan Ketua KPU Sumbar yang men­jadi inisiator dan penggagas sikola ini. Berawal dari kepri­hatinan terhadap kondisi gene­rasi muda saat ini, yang dirasakan kurang begitu memahami ber­bagai persoalan adat yang men­jadi jati diri orang minangkabau. Veri bersama Hendra Fahrizal, Jons Manedi dan beberapa pe­mu­da lainnya kemudian menggagas forum diskusi ini dengan nama sikola lapau.

“Kita mengusung konsep lapau sebagai wadah diskusi dan me­nimba ilmu bagi generasi muda,” kata Veri didampingi Rizal kepada Haluan dalam suatu waktu.

Sikola lapau yang dimulai sekitar awal Desember 2015 lalu ini, tambah Rizal, pada awalnya memang hanya untuk mengkaji adat istiadat dan budaya Mi­nang­kabau dan penerapan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) dan relevansinya dengan kondisi hari ini. Namun kemudian ber­ke­m­bang luas kepada persoalan-persoalan yang terjadi di Ranah Minang, yang tak hanya berkaitan dalam persoalan adat semata.

“Di sikola lapau tetap ada kopi dan makanan ringan sebagai palamak ota. Semuanya bebas untuk berbicara, namun tentu tidak lari dari topik yang di­bahas,” jelasnya.

Para pelaku dalam sikola lapau ini, juga memakai istilah Minang. Seperti Angku Palo yang berperan sebagai kepala sekolah, yang mambantangan lapiak (me­m­­bentangkan tikar) atau yang memimpin forum diskusi ini. Kemudian ada nama janang yang bertindak sebagai moderator, tukang ota yang merupakan narasumber dalam diskusi itu, juru tulih (notulis) serta urang lapau yang berarti audiens dalam diskusi ini, yang pada umumnya adalah para pemuda.

Terkait tukang ota, jangan dulu kita berfikir negative. Da­lam kebanyakan penggunaan istilah, tukang ota banyak di­konotasikan dengan orang gadang ota alias ‘omdo’ atau omong doang dalam bahasa prokemnya besar mulut. Karena tukang ota disini adalah orang yang me­ngua­sai dan berpengalaman dalam disiplin ilmu tertentu, orangnya pun berganti-ganti. Kalau topik yang akan dibahas menyangkut masalah adat, tentu tukang otanya adalah para ninik mamak dan pemangku adat.

Sementara kalau topiknya menyangkut masalah syara’ atau Syari’at Islam yang menjadi tukang otanya adalah para alim ulama, sedangkan kalau men­yang­kut masalah pemerintahan dan pembangunan, jelas yang akan menjadi tukang ota adalah para pejabat publik hingga ang­gota DPRD. Mereka ini di sikola lapau dipanggil dengan sebutan inyiak (orang tua).

“Jadi tak sekedar bercerita lepas saja. Ada yang membawa buku dan makalah sebagai refe­rensi dan ada pula yang mencatat sebagai bahan pengalaman,” bebernya.

Sikola lapau  ini digelar setiap Senin malam dengan peserta bisa mencapai hingga 20 orang. Na­mun yang rutin digelar di lapau Zal Gadau di Gor Batu Batu­pang Koto Baru  Solok. Jika ada permintaan di daerah lain, tetap akan dipenuhi.

Menurut Veri, Sikola Lapau ini kini tak hanya digelar di Solok saja, karena di beberapa daerah lain seperti Payakumbuh, Padang  dan Batusangkar   juga telah dilaksanakan. Karena tentu persoalan yang dihadapi masing-masing daerah tentu berbeda dan tidak sama dengan daerah lain.

“Harapannya, dari perbedaan persoalan itu kita bisa belajar dan mengambil perbandingan, ten­tang bagaimana mencari solusi dari berbagai persoalan yang dihadapi tersebut. Semakin ban­yak ikut diskusi ini tentu akan semakin baik pula, karena ban­yak pula pendapat dan pengala­man yang akan di­terima,” tuturnya. (h/*)

 

Laporan:  YUTISWANDI

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 14 April 2016 - 03:22:50 WIB

    Mengupas Tuntas Hukum Peluluhan Konsonan

    Mengupas Tuntas Hukum Peluluhan Konsonan Pepatah “maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai” menjadi “maksud hati mematuhi hukum, apa daya kaidah tak sampai”, ketika saya membaca sebuah kata di kantor UPTD Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)..
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]