Disparekraf Sumbar Tak Kreativitas dan Inovatif


Sabtu, 26 Maret 2016 - 01:40:12 WIB

PADANG, HALUAN — Dari laporan yang masuk ke DPRD Sumbar, serapan anggaran Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi (Disparekraf) Sumbar tahun 2014 lalu mencapai 90 persen.  Kendati demikian, tingginya serapan anggaran tak bisa dijadi­kan tolok ukur keberhasilan dinas terkait.

“Serapan anggaran hubungannya lebih pada pelaksanaan program yang disusun setiap tahun. Tak bisa dijadikan acuan untuk kesuksesan kinerja Dinas Pariwisata” ujar Wakil Ketua Komisi V DPRD Sumbar, Nofrizon pada Haluan.

Menurut Nofrizon, Dinas Pariwisata bisa dikatakan sukses jika mampu mencipta­kan destinasi wisata yang nyaman. Kemu­dian mampu membuat orang-orang tertarik untuk kembali datang. Jika itu tak bisa diciptakan, sama artinya pariwisata Sumbar belum berjalan sesuai harapan.

Ia menambahkan, sejauh ini kinerja yang seperti itu belum mampu ditunjukkan Disparekraf Sumbar. Masih banyak persoal­an yang terjadi di lapangan dan butuh pembenahan. Diantaranya, harga makanan di tempat pariwisata yang terlalu tinggi, pengelolaan parkir yang belum profesional, serta kebersihan lokasi wisata yang masih jauh dari harapan.

“Sejauh ini masalah-masalah seperti itu  telah membawa citra yang buruk dalam dunia pariwisata kita,” ungkap Nofrizon.

Sekretaris Komisi V DPRD Sumbar, Yuliarman membenarkan, serapan ang­garan tak bisa jadi tolak ukur kalau kinerja Disparekraf Sumbar telah baik. Selain belum bisa memberi rasa nyaman untuk pengunjung, berbagai persoalan lain juga menunjukkan jika ki­nerja dinas pariwasata belum berjalan maksimal.

Diantaranya, keberadaam tempat wisata yang sebelumnya begitu dikenal, namun sekarang tak mampu dipertahankan. Salah satunya Batu Malin Kundang. Dulu, objek wisata ini begitu diminati. Tapi saat ini sudah tak terawat. Begitu juga Kampung Adat di Sijunjung. Tidak begitu banyak yang kenal tempat wisata yang menawarkan kearifan lokal masyarakat setempat itu.

Menurut Yuliarman, penge­m­bangan pariwisata Sumbar yang ada sekarang lebih pada program tahunan yang dilakukan beru­lang. Kreativitas dan upaya ino­vatif dari Disparekraf tidak terasa.

“Pariwisata Sumbar yang cukup menonjol itu cuma TdS atau ombak mentawai yang telah dikenal sebagai lokasi surfing dunia. Untuk yang lain, biasa-biasa saja,” ungkap Yuliarman.

Ia tak menampik, Dispare­kraf Sumbar tak bisa campur tangan langsung dalam penge­lolaan pariwisata di kabupaten/kota. Kendati demikian Dispa­rek­raf bisa memberi masukan pada dinas terkait di kabupaten/kota.

“Kami harap itu bisa dila­kukan sehingga kekurangan yang masih ada bisa dibenahi,” tandas Yuliar­man. Sementara, Anggota Komisi V DPRD Sumbar Endar­my me­nutur­kan, kinerja dinas pari­wisata Sumbar memang perlu diting­katkan. Potensi alami yang ada mesti dimanfaatkan dan dikelola secara baik.

“Contohnya, objek wisata pantai di Padang Pariaman be­lum semuanya terekspos. Pada­hal semua wilayah pesisir di Pariaman memiliki keindahan yang ber­beda-beda untuk dijual sebagai objek wisata,” ucap Endarmy.

Anggota DPRD Sumbar dari Fraksi Demokrat, M Nurnas mengatakan, meskipun ke­we­nang­an pembinaan pariwisata ada di kabupaten/kota, tapi hal itu tak boleh dijadikan alasan untuk tak ikut campur.

“Provinsi bisa masuk melalui pembinaan yang intens. Tanya apa keinginan dinas kabupaten kota/kota, dimana kendala dan hambatan lainnya,” tegas Nurnas.

Menanggapi ini, Kepala Dis­parek­raf Sumbar, Burhasman Bur tak menampik persoalan parkir yang tak profesional, harga makanan yang tinggi dan masalah lain masih sering ditemui di­sejumlah tempat wisata. Namun, pe­na­nga­na­n­nya ada di kabupaten/kota.

“Kalau untuk memberi ma­suk­an ke kabupaten/kota kami telah berulangkali mela­ku­kan­nya. Tapi tetap saja persoalan tersebut berulang. Harapan kami sekarang adalah kepala daerah turut andil menangani. Berikan sanksi atas oknum-oknum tak ber­tang­gung­jawab dan membuat daerah pari­wisata tidak nyaman untuk pe­ngun­jung,” ucap Burhasman.

Kemudian tentang iven Dinas Pariwisata yang dinilai cen­de­rung berulang setiap tahunnya, me­nurut Burhasman, ini me­mang sengaja dilakukan dengan tujuan promosi.  “Dengan iven tahunan beru­lang, itu akan jadi branding atau ciri khas dari Sumbar. Me­lalui promosi seperti itulah orang bisa mengenal da­erah kita,” pung­kas Burhasman. (h/len).

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 30 Maret 2016 - 15:10:47 WIB

    Disparekraf Sumbar Gelar Workshop dan Lomba Film Animasi

    PADANG, HALUAN — Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) akan menggelar workshop dan lomba film animasi. Diharapkan melalui lomba ini akan menghasilkan animator handal dari Sumbar..
  • Senin, 30 Maret 2015 - 19:39:54 WIB

    Jelang TDS, Disparekraf Diminta Tingkatkan Koordinasi

    PADANG, HALUAN — Jelang helat Tour de Sing­karak (TdS), Juni mendatang, DPRD Sumbar meminta dinas terkait, yakni Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif(Disparekraf) Sumbar untuk segera mempersiapkan diri, salah satunya be.


KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]