Seunting Bunga dan Buku Saku


Sabtu, 26 Maret 2016 - 03:59:35 WIB
Seunting Bunga dan Buku Saku

Ada suatu kebiasaan dalam lingkungan Polri apa bila akan ikut merayakan hari besar yang bersejarah atau acara kenegaraan lainnya para polwan ditugasi untuk membagi-bagikan bunga kepada para pengemudi kendaraan bermotor dan pengguna jalan lainnya di jalan raya.

Penulis ingin me­ngung­kapkan apa hubunganya bu­nga dengan kelalu lintasan kami kurang memahami. Ada kemungkinan agar dikatakan bahwa polantas peduli dengan para pengemudi kendaraan bermotor atau hanya ingin popularitas saja.

Bila tujuanya dalam rang­ka untuk meningkatkan keter­tiban dan kedisiplinan berlalu lintas rasanya ibarat pepatah api jauh dari pada pang­gang­nya. Namun demikian bagi warga tidak menjadi masalah itu hak mereka di dalam usa­ha semaksimal mungkin me­ngu­­rangi jumlah kecelakaan lalin mengingat jumlah kece­lakaan lalu lintas semakin meningkat setiap tahunnya.

Dalam rangka mening­kat­kan ketertiban dan keamanan berkendaraan di jalan umum/raya penulis ingin menyam­pai­kan saran dan usulan seba­gai berikut. Untuk menda­pat­kan setangkai bunga polantas juga mengeluarkan sejumlah dana atau biaya pembelian bunga tersebut walaupun mung­kin tidak besar atau mungkin ada sponsornya dan donatur sehingga mereka ting­gal membagikan saja.

Menurut hemat kami akan lebih efisien dan  setidak-tidaknya mencapai sasaran bila pemberian bunga itu diganti dengan buku saku kecil yang berisi UU no 22 thn 2009 tentang LLAJ dan PP no.80 thn 2012 tentang Tata Cara Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan dan Penin­dakan Pelanggaran LLAJ. Kemudian akan lebih ber­man­faat lagi bila disertakan juga dalam buku tersebut lampiran gambar bentuk dan warna serta arti rambu lalu lintas sesuai dengan Peraturan Menhub RI NO.PM.13 THN 2014;Marka jalan sesuai de­ngan Peraturan Menhub RI no.PM.34 thn 2014 dan Alat Pemberi Isarat Lalin sesuai dengan Peraturan Menhub RI No.PM.49 thn.2014.

Dengan pemberian kena­ngan buku saku kecil ini diharapkan akan membantu sosialisasi pengetahuan lalu lintas kepada para pengemudi kendaraan bermotor yang pada umumnya atau sebagian besar masih minim dalam pengetahuan dan sopan san­tun berlalu lintas walaupun mereka sudah memiliki SIM. Maklum sajalah pada saat ini untuk mendapatkan SIM ma­sih memungkinkan melalui kemudahan-kemudahan yang tidak asing lagi.

Juga tata cara pemerik­saan kendaraan bermotor di­jalan sesuai dengan SK Men­hub tersebut di atas yang dilakukan oleh para penyidik Lantas sebaiknya tidak hanya diketahui oleh mereka saja tetapi juga harus diketahui oleh masarakat pengemudi dan warga pada umumnya. Dengan demikian suasana pemeriksaan di jalan akan lebih baik dan bersifat objektif sehingga tidak terkesan seper­ti mencari cari kesalahan saja.

Contoh seorang polantas yang berada di jalan kebetulan memeriksa seorang penge­mudi KB yang kebetulan di­periksa didaerah tikungan yang rawan kecelakaan lalu lintas. Setelah diperiksa ter­nyata surat surat  dan keleng­kapan KB lainnya lengkap sehingga tidak ditemukan pelanggaran Lalin. Karena pak polantas agak penasaran maka dia mencari cari kesa­lahan dengan cara menyoal mengapa plat nomor KB nya yang dipakai tidak dari pro­duksi koperasi Samsat? Si pengemudi mengakui bahwa penggantian plat nomor ter­sebut karena yang lama sudah kabur dan sedikit ada keru­sakan sehingga dia mengganti de­ngan cara memesan plat nomor KB kepada sebuah toko di pinggir jalan.

Karena si pengemudi ku­rang penge­tahuan akibatnya dia bengong dan bingung ser­ta selanjutnya dia minta ber­damai saja agar pelanggaran ini jangan di­tilang. Seandainya saja sipe­nge­mudi memahami UU no 5 thn 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persai­ngan Usaha Tidak Sehat maka dia akan dapat menyu­dutkan dan membuat malu kepada petugas tersebut yang tidak menguasai UU per­dagangan atau Oligopoli. Prinsipnya penjual dan pem­buat plat nomor KB dimana saja boleh asal produksinya memenuhi persyaratan dalam UULLAJ pasal 68 (4) tentang sarat bentuk ukuran bahan warna dan tata cara pema­sangan yang benar.

Kembali kepada pokok persoalan ten­tang pemberian kenang-kena­ngan buku saku kecil yang berisi tentang peraturan lalin bila memung­kinkan dapat diperluas pem­bagiannya seca­ra gratis kepa­da setiap pemi­lik KB yang habis mem­per­panjang STNK nya diberikan juga buku saku tersebut dan kepada mereka yang mem­perpanyang SIM maupun yang mendapatkan SIM untuk per­tama kalinya.

Dengan mem­perbanyak sasaran kepe­mili­kan buku kecil ini diharapkan dapat membantu meluasnya penge­tahuan lalu lintas bagi semua masarakat kita. Cara ini juga dapat mengurangi tugas po­lan­tas dalam mem­berikan ceramah atau pena­taran kepa­da ormas dan pela­jar yang sangat memerlukan bim­bi­ngan dan pengarahan.

Untuk realisasi pence­takan dalam jumlah yang banyak tentunya timbul per­tanyaan dari mana dana harus dida­pat? Dana tersebut diha­rap­kan dapat diambil seba­gian dari pungutan biaya admi­nistrasi pembuatan SIM dan STNK dengan jalan menaikan sedikit dari tarif administrasi tersebut di atas. Akan lebih potensial bila diadakan patu­ngan dengan pihak PT Asu­ransi Jasa Rahaja yang juga berkecimpung dalam masalah kecelakaan lalu lintas.

Untuk menghemat biaya pence­ta­kan­nya tidak usah terlalu lux cukup sederhana saja yang perlu praktis mudah disimpan dalam saku dan jelas isinya. Namun demikian juga tidak ada salahnya bila pihak Lantas merangkul para pengusaha un­tuk memasang advertensi perusahaannya di buku ter­sebut dengan memu­ngut biaya dan sekaligus sebagai donatur maka buku tersebut akan lebih indah dan menarik.

Seandainya program ini dapat dilaksanakan dengan baik kepada mereka yang beru­rusan kami yakin Polda Sum­bar akan mendapat acu­ngan jempol dari Mabes Polri dan tidak tertutup kemung­kinan akan ditiru provinsi lain da­lam rangka menso­siali­sasikan pengetahuan lalin bagi masya­rakat pengguna jalan umum. Sudah sama-sama kita mak­lumi bahwa petugas po­lan­tas pada saat sekarang masih serba terbatas untuk sosia­lisasi kepada publik.

Sebe­narnya pihak Dis­hubkominfo juga dapat mem­bantu pelak­sanaan ini dengan cara mem­berikan dan meng­hibau kepa­da semua mobil bus perusa­ha­annya harus ada satu buku ini dilaci mobilnya sebagai iventaris perusahaan dimana sewaktu waktu dapat dike­luar­kan apabila men­dapat perlakuan petugas lalu lintas yang tidak semestinya. Baru baru ini ada suatu feno­mena kelucuan yang terjadi pada suatu kota besar di Jawa dimana pada suatu ketika ada razia lalin malam hari.

Kemu­dian kendaraan ber­motor yang menggunakan lampu utama jauh dengan menggu­nakan bola lampu halogen yang memancarkan sinar pu­tih terang menurut berita media setempat diper­soalkan katanya menyilaukan pema­kai jalan lainnya teru­tama yang berpapasan. Sesuai de­ngan PP No.55 thn 2012 tentang Kendaraan pasal 23 dan 24 lampu utama jauh maupun dekat boleh warna putih atau kuning muda se­dang­kan untuk posisi bela­kang harus warna merah bila tidak warna merah harus dite­gur atau ditilang.

Untuk lam­pu utama dekat harus dapat memancarkan cahaya mini­mal 40 meter ke depan dan untuk lampu uta­ma jauh mi­ni­mal 100 meter ke depan dengan kekuatan 12.000 can­dela. Jadi kalau mata yang sehat tidak akan silau kecuali mata yang tidak sehat baru merasa silau.

Dengan mene­ri­ma kena­ngan buku saku kecil ini para pengemudi dan pemilik ken­daraan bermotor akan ber­terima kasih. Pihak polantas pun tidak terlalu direpotkan dengan penataran ceramah dan sosialisasi da­lam bentuk lainnya terutama kepa­da para mahasiswa dan pelajar pada umumnya.

Untuk buku UULLAJ dan peraturan Men­hub lainya sebaiknya pihak Pt Asuransi Jasa Raharja dan Dirlantas dapat menitipkan buku buku tersebut di perpus­takaan se­tem­pat yang sering dikunjungi oleh para warga pencinta membaca buku. Demikianlah saran dan usulan kami semo­ga mendapat per­hatian seper­lunya bagi yang berkompeten dan terima ka­sih. ***

 

H. SOEHARTONO
(Pengamat Lalu Lintas Jalan Raya)
 

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]