Razia Penyakit Masyarakat

30 Orang Digiring Petugas


Sabtu, 26 Maret 2016 - 04:20:42 WIB

PADANG, HALUAN — Pasca banjir yang melanda Kota Pa­dang beberapa waktu yang lalu, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Padang kem­bali menggelar razia penyakit masyarakat (pekat) di beberapa tempat di Kota Padang pada Kamis (24/3) yang dimulai dari pukul 18.00 WIB.

Dari razia tersebut, seba­nyak 30 orang diamankan di beberapa tempat di Kota Pa­dang seperti di Bukit Lampu, Tugu Gempa, beberapa hotel kelas melati di Kota Padang, dan kos-kosan campur di ka­wa­san Aur Duri.

Pergerakan pertama petu­gas dimulai ke kawasan Bukit Lampu, Kecamatan Lubuk Begalung. Saat razia kesana, petugas masih menemukan pondok-pondok yang disa­lah­gunakan bagi pasangan muda-mudi untuk bercinta. Alhasil, sebanyak empat pasang pria dan wanita dijaring petugas dalam razia tersebut.

Kita masih menemukan pondok-pondok asmara di kawasan tersebut (Bukit Lam­pu, red) dan juga ada pasangan yang tengah bercinta di dalam pondok tersebut. Kita langsung merobohkan tempat tersebut karena kami menilai tempat tersebut seharusnya sudah tidak ada lagi pasca pem­bong­karan yang dilakukan bersama tim gabungan TNI-Polri bebe­rapa waktu yang lalu,” kata Kabid P3HD, Eddy Asri.

Razia yang semulanya aman seketika berubah ricuh tatkala petugas mengamankan dua orang wanita di Tugu Gem­pa karena masih berke­lia­ran pada tengah malam.

Sempat terjadi kontak fisik antara petugas dengan bebe­ra­pa pengunjung tugu gempa hing­ga akhirnya dua orang pria yang belakangan diketahui ber­nama Farhan (22), mahasiswa Fakultas Hukum Unad dan Aria (20), mahasiswa Fakultas Kedokteran Unand ini tidak terima teman wanitanya digi­ring oleh petugas hingga akhir­nya terlontar kata-kata meren­dahkan petugas.

Farhan mengakui kesa­la­han­nya karena memprovokasi teman-temannya dengan men­ce­mooh petugas. Ia mengklaim hanya tidak terima saat petugas membawa rekan wanitanya ke Mako Satpol PP Kota Padang.

“Saya sempat melawan ke­pa­­da anggota bang karena me­re­ka masuk secara arogan, di­tam­bah dia menarik teman wa­nita saya ke dalam mobil, hing­ga akhirnya emosi kami ter­su­lut. Saya mem­per­ta­nya­kan pe­ra­turan daerah (perda) jam ma­lam kepada petugas,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Eddy Asri mengatakan bahwa Pemko Padang belum mene­tap­kan dan mengeluarkan per­da jam malam, namun pi­hak­nya tetap mengamankan wa­nita yang berkeliaran di tengah malam mengingat kese­la­matan dan khawatir terja­di­nya tran­saksi prostitusi.

“Perda jam malam di Kota Pa­dang sendiri belum ada, na­mun kami tetap me­nga­man­kan wanita yang berada di pusat per­kumpulan pada tengah ma­lam karena kita khawatir tem­pat tersebut disalahgunakan dan khawatir akan terjadinya tran­saksi prostitusi yang jelas itu dilarang,” ungkap Eddy. (h/mg-adl)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]