Banjir yang Teranaktirikan


Senin, 28 Maret 2016 - 03:06:11 WIB

Sejak tahun 2007, Padang khususnya dan Sumbar pada umumnya kerap dihadapkan dengan ancaman bencana gempa. Ancaman itu bahkan menim­bulkan ketakutan menyusul tervisualnya dengan jelas, bencana gempa dan tsunami yang terjadi 26 Desember 2004 di Aceh.

Ancaman itu, kian mengkristal seiring mengemukanya prediksi banyak pakar yang menyebut ranah nan den cinto ini punya potensi serupa dengan Aceh. Bahkan ada pula yang menyebut, potensi gempa di Sumbar yang berpusat di Samudera Hindia, lepas pantai Kepulauan Mentawai, lebih besar dari gempa Aceh.

Melihat dan mencermati ancaman yang sedemikian mematikan itu, pemerintah daerah dan pusat sekonyong-konyong sibuk melakukan persiapan. Berbagai ide, mun­cul ke permukaan. Sebut saja ide Buoy yang di pasang di tengah laut. Lalu juga ada ide sirine signal tsunami dan bangunan kokoh gempa-shelter tsunami, termasuk ide sea wall (dinding laut). Ide Sea Wall ini paling mengundang kontroversi.

Terlepas dari keberagaman ide yang lahir dari ancaman, langkah-langkah kongkrit untuk antisipasi bencana sudah ditampakkan oleh penguasa. Jalur-jalur evakuasi dikebut, kendati masih membuat kendaraan menyemut, pengerjaan bangunan fisik yang tinggi agar tak panik nanti, dan hingga simulasi untuk pelajar diperbanyak membuat buah hati  semarak.

Selain antisipasi, penanganan pasca­ben­cana gempa dan tsunami-pun disiapkan. Ancang-ancang jalan By Pass dijadikan landasan pesawat pun pernah dimunculkan saat BIM lumpuh dan porak poranda akibat gempa tsunami. Pusat posko bencana hingga helipad disiapkan dimana-mana.

Namun, saat kesibukkan terpusat pada an­tisipasi bencana gempa dan tsunami, an­caman lain justru datang. Mengejutkan bah­kan. Dalam lelap puluhan ribu warga di­sen­takkan dengan banjir yang datang tiba-ti­ba. Dalam tempo singkat, banjir meninggi. Ke­takutan muncul. Air meluncur deras ke ba­wah ke pemukiman warga, khususnya di Ke­camatan Koto Tangah. Bahkan, ada orang tua yang punya momongan pasrah, ken­dati sebagian masih ada yang bisa beru­sa­ha untuk mencari tempat yang lebih tinggi di tengah guyuran hujan dan derasnya air bah.

Mereka seperti bingung. Mau apa jika air makin tinggi. Bagaimana jika air terken­da­li. Beda dengan gempa dan tsunami. Se­bagian warga, terutama mereka yang me­ne­tap di zona merah, sudah paham dengan lang­kah yang harus mereka ambil. Tak perlu pa­nik lari ke arah Timur Kota Padang. Cu­kup keluar dari bangunan/rumah tempat me­reka berada saat gempa. Lalu, jika ge­dung sekitar yang tinggi yang tak rusak, mi­ni­mal tak runtuh, maka ke sanalah mereka dan ke­luarga menyela­matkan diri. Belum la­gi kini bermunculan banyak shelter di ber­b­agai penjuru kota, terutama di zona me­rah.

Peristiwa banjir yang melanda sebagian Ko­ta Padang pada Selasa dinihari, pekan la­­lu seharusnya membuka mata pihak-pi­hak berkepentingan di Padang, Sumbar, bah­kan Jakarta sana. Jika selama ini warga Ja­karta sudah diakrabi dengan ancaman ban­jir, maka antisipasi serupa hendaknya ju­ga dimiliki dan dikembangkan di Padang khu­susnya dan Sumbar pada umumnya yang kerap disebut sebagai supermarket bencana ini.

Penanganan yang terstruktur dan terin­ter­­­grasi dengan baik perlu dikembangkan, se­kurang-kurangnya tak jauh berbeda de­ngan penanganan ancaman gempa dan tsu­na­mi. Belum lagi bicara antisipasi karena ke­­panikannya juga tak kalah saat ratusan ri­bu warga di hadapkan dengan ancaman tsu­nami. Karenanya, jangan sampai bencana ban­jir yang justru menghantui warga setiap sa­at seiring perubahan tata ruang di Padang, ter­anaktirikan. (*)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 15 Oktober 2016 - 00:32:50 WIB

    Waspadai Banjir dan Longsor

    Cuaca ekstrem melanda Sumatera Barat. Wi­layah pantai barat Sumbar sejak dua pe­kan lalu sering diguyur hujan lebat. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Ketaping Padang Pariaman memperkira.
  • Selasa, 02 Agustus 2016 - 03:21:45 WIB

    Banjir, Beban Sebuah Kota

    Pada awal abad ke 21, semua orang tidak ra­gu untuk mengatakan bahwa kota-kota men­jadi tempat yang semakin rentan ter­ha­dap ancaman bencana. Hal ini dapat kita buk­ti­kan sendiri di Kota Padang Tercinta. Sebagai se­b.
  • Jumat, 24 Juni 2016 - 05:25:04 WIB

    Teknologi Pengendali Banjir

    Teknologi Pengendali Banjir Hujan lebat disertai angin kencang yang mengguyur Kota Padang beberapa waktu lalu, mulai dari sejak kamis sore, 16 Juni hingga jumat, 17 Juni 2016 telah menyebabkan ribuan rumah terendam banjir dan longsor di beberapa titik..
  • Selasa, 21 Juni 2016 - 06:05:07 WIB

    Menakar Antisipasi Banjir di Kota Bengkuang

    Menakar Antisipasi Banjir di Kota Bengkuang Kamis sore, (16/6) ribuan warga Padang mulai resah, hujan lebat yang mengguyur Kota Bengkuang belum berhenti. Azhan Magrib pun mulai menggema di menara masjid, pertanda sore mulai berganti malam. Hampir tiga jam hujan membasa.
  • Senin, 20 Juni 2016 - 02:28:44 WIB

    Panti dan Banjir

    Ramadan itu penuh berkah. Ramadan itu bulan berbagai. Banyak lagi ajakan-ajakan positif yang ditebar saat bulan suci ini. Sang penguasa,juga mengganjar reward berlipat ganda bagi mereka yang berbuat kebajikan di bulan ini..

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]