Kawasan Mandeh, Gula yang Terus Jadi Incaran


Senin, 28 Maret 2016 - 03:49:16 WIB
Kawasan Mandeh, Gula yang Terus Jadi Incaran KM BINTANG MANDEH yang dikelola Koperasi Wisata Mandeh tengah sandar di pelabuhan Muaro, Padang. Kapal ini resmi melayani perjalanan laut menuju Kawasan Wisata Terpadu Mandeh. (HUMAS)

Debur ombak seakan mengalah pada perjalanan pertama KM Bintang Mandeh yang sudah diresmikan pada Sabtu (26/3) lalu. Cuaca yang cerah seakan memberi isyarat bagi para rombongan yang berada di atas kapal tersebut untuk menikmati perjalanan menuju Kawasan Wisata Terpadu (KWT) Mandeh, yang berada di Kabupaten Pesisir Selatan.

Wajah ceria da­ri para awak media juga meng­hia­si sepanjang perjalanan, terlihat sesekali beberapa di antara mereka berfoto di atas kapal yang dilengkapi fasilitas mini bar, televisi LED ini. Mereka ber-selfie ria untuk mengabadikan momen yang baru mereka dapatkan mereka.

Kapal yang berkapasitas 70 orang ini memang dipro­yeksikan bagi para wisata­wan yang ingin berkunjung ke objek wisata Mandeh. Untuk bisa sampai kesana, butuh waktu dua jam perja­

lanan laut. Sepanjang perja­la­nan, para penumpang akan di­man­jakan eloknya pantai dan peman­dangan yang indah dengan pulau-pulau kecil yang terpampang hingga tujuan.

Tak hanya keindahan, keme­ga­han, dan tarif yang terjangkau yang disediakan kapal ini. Pihak pengelola kapal juga menye­diakan Life Jacket jika sewaktu-waktu bencana datang meng­hadang.

Kapal wisata Bintang Man­deh merupakan salah satu jenis usaha Koperasi Pesona Wisata Sumbar yang digagas oleh para pengiat pariwisata Sumbar. Bak Gula yang kerebuti semut, Man­deh juga diminati banyak pihak dan koperasi yang sebelumnya terasa asing dalam urusan bisnis wisata, tak ingin pula bergiat.

Ketua Koperasi KM Bintang Mandeh berlayar menuju Kawa­san Wisata Terpadu Man­deh Zefnihan mengungkapkan Ko­perasi ini didirikan oleh para pengiat dan pelaku pariwisata Sumbar. Tujuannya mewujudkan kegiatan ekonomi di kawasan wisata Sumbar yang bercirikan jiwa gotong-royong.

Dengan menjadikan badan usaha koperasi sebagai penyeim­bang kegiatan ekonomi yang dige­rakkan oleh semangat indi­vidua­lisme maupun semangat korporasi. Koperasi memiliki beberapa jenis usaha dan pe­ngoperasian Bintang Mandeh merupakan salah satu jenis usahanya.

Kapal Bintang Mandeh dimi­liki oleh salah seorang pegiat pariwisata Sumbar Hendra Tju­gito dan menyerahkan kapalnya dengan menjalin kerja sama dalam bentuk MoU dengan ko­perasi Pesona Wisata Sumbar.

Dalam MoU itu tertuang kerja sama antara pemilik kapal dengan koperasi untuk pema­sarannya. Ditetapkan apa saja bentuk kerja sama terutama pengelolaan dan pembagian hasil dari pengoperasian kapal terse­but. Bagi hasil sesuai dengan porsinya, kapasitas bangku da­lam kapal Bintang Mandeh seba­nyak 70 kursi.

Zefnihan menambahkan pe­ngo­perasian kapal Bintang Man­deh nantinya akan berkerja sama dengan  para ekowisata yang ada di Mandeh. Terutama ekowisata dalam bidang kuiner,perahu, pemandu wisata dan selam.

“Bahkan untuk kebutuhan makanan,pemandu dan lainnya kita memanfaatkan para anggota ekowisata kawasan Mandeh se­hing­ga keberadaan kapal Bintang Mandeh membuka peluang baru bagi pelau pelaku wisata yang ada di kawasan Mandeh,” ujarnya.

Zefnihan menambahkan se­lain peresmian pengoperasian kapal Bintang  Mandeh juga diserahkan bantuan berupa life jaket untuk kebutuhan perahu atau boat yang ada di kawasan Mandeh.

Kawasan Mandeh berbatasan langsung dengan Kota Padang yang jaraknya sekitar 56 kilo­meter dari Ibu Provinsi Sumbar itu.  Luasnya mencapai 18 ribu hektare. Kawasan ini terletak di kecamatan koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan Suma­tera Barat.

Mandeh merupakan sebuah kawasan wisata yang sebelumnya telah masuk dalam Induk Pem­bangunan Pariwisata Nasional pada tahun 2004, karena kein­dahannya sehingga membuat nama kawasan Mandeh itu men­jadi populer atau dikenal di tingkat nasional bahkan interna­sional.

Teluk di kawasan itu besar hingga mengungkung kawasan laut dengan jejeran pulau pulau diteng yakni pulau Taraju, pulau Setan kecil, pulau Sironjong besar atau kecil serta sebuah pulau yg menjadikan Mandeh lebih terkenal di negara asing yakni pulau Cubadak.

Keindahan bawah laut dika­wasan itu juga menakjubkan dan dipercantik lagi dengan kebera­daan bangkai kapal Belanda yg tenggelam di kawasan itu. Kapal itu bernama Boelongan, tengge­lam pada zaman penjajahan dahulu.

Kawasan Mandeh juga me­miliki ke indahan terumbu ka­rang yg tidak kalah dengan tempat lain karena terdapat sekitar 70 hektare yg masih terawat. Selain itu terdapat hutan mangrove seluas 4 ratus hektare serta berbagai biota laut yg beraneka ragam. Kawasan Mandeh disebut karena karena salah satu kam­pung yg ada dikawasan itu berna­ma Kampung Mandeh. (*)

 

Laporan :
MUHAMMAD AIDIL

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 25 Juni 2016 - 02:47:23 WIB

    Pasie Nan Tigo, Kawasan Wisata yang Tenggelam

    Pasie Nan Tigo, Kawasan Wisata yang Tenggelam Dulu, jika orang Padang membincangkan Pasie Nan Tigo, terlintas dibenak meĀ­reka ada suasana riang nan menawan di tepi pantai. Para wisatawan bersahutan dan riuh sembari menikmati indahnya mentari terbenam kala sore hari. Di .
  • Kamis, 14 Januari 2016 - 04:19:16 WIB

    Di Sumbar, Kusta Banyak Ditemukan di Kawasan Pesisir Pantai

    Di Sumbar, Kusta Banyak Ditemukan di Kawasan Pesisir Pantai Meskipun pemerintah mencanangkan eradikasi (pemusnahan total) penyakit Morbus Hansen pada 2020 nanti, kenyataannya masih banyak ditemukan penyakit yang di tengah masyarakat dikenal dengan sebutan kusta tersebut. Di Sumbar sen.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]