Dimana Alfamart atau Indomaret ?


Selasa, 29 Maret 2016 - 03:28:58 WIB
Dimana Alfamart atau Indomaret ?

Suatu hari tepatnya dikawasan tarandam kota Padang, ketika sedang asik bercengkarama dengan sesama penikmat Koran lokal ditempat biasa saya langganan. Tiba-tiba menepilah sebuah mobil bernomor polisi BK (Sumut) yang  juga kiranya ingin membeli koran ditempat yang sama.

Dengan ramah kemuadian seorang lelaki paruh baya bertanya kepada saya dari dalam mobilnya, beliau ber­tanya “dek Alfamart atau Indomaret disini dimana ya?”, sontak saya menjawab “disini gak ada pak, dilarang sama pak walikota”, kemu­dian tampaknya si bapak pun heran lalu menjawab “oh begitu ya”, lalu pergi setelah mendapatkan koran yang ia inginkan.

Mungkin selama ini ba­nyak masyarakat yang datang dari luar kota baik untuk menetap maupun sekedar melancong ke Sumatera Ba­rat bertanya akan hal yang sama, “dimana Alfamart atau Indomaret ?” pasalnya dikota asal mereka Alfamart atau Indomaret sudah sangat ak­rab dengan masyarakat. Ba­gai­mana tidak, hampir dise­tiap sudut jalan Alfamart maupun Indomaret berse­rakan layaknya kedai-kedai kelontong. Selain harga yang realtif murah, kedua ritel perbelanjaan modern ini sa­ngat menarik pelanggan de­ngan banyaknya penawaran-penawaran serta fasilitas pe­nun­jang lainnya seperti pro­mo-promo dan segala ma­cam­nya. Tentu keunggulan ini sangat menarik antusias ma­sya­rakat yang selama ini men­cari produk murah dengan kualitas terbaik apalagi kerap dibanjiri dengan bonus-bo­nus menarik.

Lain halnya dengan kota Padang, hadirnya kedua ritel ini dianggap sebagai ancaman besar bagi keberlangsungan usaha-usaha kecil masyarakat dimana pada logikanya ma­sya­rakat akan lebih memilih berbelanja ke ritel-ritel mo­dern ini ketimbang swalayan-swalayan lokal dan akhrinya ekonomi lokal akan mati. Begitulah kiranya logika yang digunakan sebagai landasan kebijakan pemerintah dalam upaya proteksi ekonomi kecil (katanya) sehingga melarang supermarket modern ini un­tuk menggelar lapak di kota Pa­dang bahkan di Sumatera barat.

Cerita dari Guelible

Melihat kondisi ini, tiba-tiba saya mengingat salah satu bacaan kesukaan saya sebuah odesai pasar bebas karya Jonatthan Guelible. Dalam salah satu ceritanya terdapat sebuah catatan tentang negeri penjual lilin. Alkisah, dulu terdapat sebuah negri yang tekenal dengan produksi lilin­nya. Negeri itu hanya negeri kecil, gilanya lagi lilin yang diproduksi tersebut hanya dijual didalam negeri saja. Untuk menjaga agar produksi lilin tetap stabil, sang pe­nguasa negri mengeluarkan kebijakan bahwa tidak ada satupun rumah warga yang boleh memiliki jendala atau apapun yang bisa membuat cahaya matahari masuk, jika ada jendela itu harus ditutup dan tidak boleh dibuka. Se­hingga ketika siang ataupun malam hari, masyarakat harus menggunakan lilin sebagai satu-satunya alat untu me­ne­­ra­ngi ak­ti­fi­­tas se­hari-hari, bah­kan untuk mengu­ra­ngi intensitas cahaya ma­tahari ter­sebut, pe­ngua­sa lo­kal mem­biar­kan pohon-po­hon men­julang ting­­gi hingga mem­­­­bu­at suasa­na men­jadi re­dup.

Dari cerita ini, jelas ter­lihat bahwa yang di­un­tung­kan atas pro­duksi lilin itu adalah para pe­ngusaha li­lin karena ma­sya­rakat tidak me­miliki pili­han la­in untuk me­­ne­rangi akti­fi­tas­nya jika tidak mem­beli lilin. Itung-itu­ngan­nya pastilah jum­lah pengusaha lilin lebih se­dikit dari pada jumlah masyarakat sebagai kon­su­men, sehingga dapat kita tarik kesimpulan bah­wa secara umum ma­­sya­ra­kat sangat di­ru­gi­kan akan kebijakan ini. logikanya kenapa ma­­sya­ra­kat ti­dak bo­leh me­nik­ma­ti cahaya matahari yang je­las-jelas gratis? Apakah ba­nyak orang harus menerima keadaan dimana tidak ada pilihan untuk memperoleh produk yang lebih murah ?

Saya sependapat jika Alfa­mart atau Indomaret tidak bisa disamakan dengan se­buah penerangan matahari yang gratis, karena memang kenyataan tidak gratis. Na­mun mereka memberikan alternatif yang lebih baik untuk masyarakat dimana masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari dengan lebih murah, dan lebih menyenangkan. Saya yakin masih banyak yang tidak puas jika hanya berkaca dari kisah negeri penjual lilin, namun mari kita menggali lebih dalam secara teoritis dari aspek pasar bebas, apa­lagi kini kita sudah berada dalam starting poin ke­be­basan pasar melalui MEA dimana se­kat-se­kat an­tar Ne­ga­ra akan segera dirobohkan per­lahan demi perlahan.

Pasar bebas dalam Kenyataannya

Dalam menganalisis kasus ini, saya rasa sangat tepat jika kita melihat dari kacamata pasar pebas (Free Trade) yang populer dengan mekanisme Supply and Demand . Adam Smith berpandangan bahwa pasar bebas adalah ibu kan­dung dari pembangunan, per­saingan yang paling adil ada­lah persaingan yang ditun­jukkan oleh pasar bebas, logi­kanya bahwa persaingan yang paling baik adalah sebuah perlombaan. Dengan terbu­kanya keran pasar bebas, maka dengan otomatis pula masyarakat akan bersaing se­hingga kreatifitas untuk mem­berikan yang terbaik ke­pada masyarakat menjadi sa­lah satu gairah ekonominya. Ka­rena masyarakat sebagai peng­giat usaha akan selalu ber­saing maka dalam konteks eko­nomi liberal diharam­kan­lah yang namanya “Mono­po­li”.

Ketika terjadi monopoli artinya masyarakat tidak mam­pu bersaing, dan seha­rusnya yang menjadi pikiran pemerintah bukan mela­ku­kan proteksi namun menguat­kan daya saing masyarakat itu sendiri. Saya yakin jika Indo­nesia tidak siap dengan Ma­sya­rakat Ekomi ASEAN ma­ka Indonesia tidak akan me­milih untuk terlibat di­da­lamnya, karena keyakinan bah­wa ma­sya­rakat In­do­nesia akan siap me­ngh­a­da­pi­nya oleh karena itu Pe­merintah pusat be­rani membuka keran MEA. Padahal kita sangat yakin bah­wa aliran kon­tra lebih dominan dengan me­nya­ta­kan bahwa Ma­syarakat Indonesia tidak siap. Namun Imajinasi seperti itu sanga keliru, dan hemat saya sebenarnya yang cendrung tidak siap adalah pemerintah itu sendiri yang tidak cekatan dalam pengadaan fasilitas (fisik) maupun regulasi yang diharapkan mampu men­dorong daya saing masyara­kat.

Tepat atau tidak  ?

Dalam kenyataannya ti­dak pernah ada ketika globa­lisasi yang membawa arus pasar bebas masuk ke sebuah Negara lalu pertumbuhan ekonomi Negara tersebut collapse, walaupun secara kasat mata kita melihat ba­nyak terjadi PHK. Pengguran akan bertambah, namun he­bat­nya para pengangguran tersebut akan merubah pola pikirnya dan menghasilkan pekerjaan baru berdasarkan kretifitasnya sehingga dengan otomatis akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang sangat drastis (Johan Norberg). Sama halnya jika kita sandingkan dengan feno­mena Alfamart, Indomaret, ataupun ritel sejenisnya, saya tidak yakin pada setiap da­erah yang memberikan kebe­basan terhadap ritel raksasa ini menjadi daerah yang pem­bangunannya sangat lemah.

Kita dapat melihat bagai­mana gairah investasi dida­erah tersebut akan meningkat pesat, dan otomatis per­sai­ngan akan semakin ketat, maka wajar jika ekonomi daerah begitu berkembang. Saya tidak yakin dengan kebi­jakan proteksi ini mampu menggairahkan ekonomi da­erah kita, pasalnya jelas kita dapat melihat secara kasat mata bagaimana stagnannya ekonomi di daerah ini. Saya rasa jika masyarakat mem­butuhkan bawang, cabe, to­mat dan segala macam bentuk pelengkap masakan maka rujukannya juga kedai-kedai kecil. Saya tidak yakin Alfa­mart mau menjual cabe giling, ketumbar, atau cengkeh, ka­rena memang barang-barang tersebut merupakan keung­gulan dari pasar tradisional. Inilah yang dinamakan de­ngan keunggulan komparatif dalam sistem pasar bebas, dimana seseorang akan ter­spe­sialisasi dengan keung­gulannya masing-masing.

Justru sekarang saya lebih binggung dengan kebijakan proteksi ini, bisa jadi sebe­narnya monopoli telah terjadi bak cerita negeri lilin Gue­lible. Lihat saja, memang bukan alfamart ataupun Indo­maret yang menjamur melain­kan ritel jenis serupa miliki pribadi yang bahkan me­mi­liki cabang dimana-mana. Apa­kah kebijakan ini sudah te­pat ? (*)

 

DELLY FERDIAN
(Mahasiswa ISIP Unand)
 

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]