Memberdayakan Museum


Rabu, 30 Maret 2016 - 03:36:06 WIB

Apakah museum itu ? Kebanyakan orang yang ditanyai mengenai hal itu akan memberikan jawaban bahwa mu­se­um adalah tempat untuk menyimpan ben­da-benda kuno atau antik. Jawaban itu me­­­mang tidak salah, tetapi menyiratkan bah­wa pema­haman masyarakat luas tentang mu­se­um masih sangat terbatas. Sebenarnya mu­­seum bukan hanya menyimpan benda-ben­da.

Namun, yang lebih penting dari itu museum adalah khasanah pengetahuan. Artinya, peran yang terpenting dari museum se­sungguhnya adalah menjadi sumber pe­ngetahuan sehingga amat berpotensi un­tuk dimanfaatkan sebagai tempat pendi­di­kan.

Praktisi dan ahli museologi, George B. Goode (dalam George dan Sherrell-Leo, 1989) pernah menyatakan bahwa semes­tinya museum menjadi rumah melihara pikiran-pikiran yang tetap hidup (“a nursery of living thoughts”) daripada sekedar kuburan barang rongsokan (“a cemetery of bric-a-brac”).

Hanya dengan demikian, museum dapat menjadi tempat belajar dan pencerahan bagi manusia, sekaligus menjadi tempat yang menyenangkan. Lebih jauh, ia juga menya­rankan agar museum bekerja bersama-sama dengan perpustakaan dan laboratorium, menjadi bagian dari proses pendidikan dan pengajaran di sekolah dan universitas

Museum yang baik pasti memberikan suasana belajar yang lebih santai dan terasa tidak terlalu formal. Media informasi yang disajikan oleh museum pada umumnya lebih beragam sehingga tidak menjemukan. Penjelasan-penjelasan dapat disampaikan dengan lebih bebas dan kontekstual (Crooke, 2007). Ada kaitan antara berbagai informasi yang disajikan dalam pameran, sehingga seringkali membuat masalah yang seharusnya rumit menjadi mudah dipahami.

Di museum, hubungan antara guru dan mu­rid, dosen dan mahasiswa, atau pemandu dan pengunjung biasanya berlangsung da­lam suasana yang lebih nyaman, tidak me­negangkan, dan cair. Apalagi jika semuanya dapat melakukan kegiatan-kegiatan in­teraktif di museum. Belum lagi, unsur-unsur hiburan yang sering diselipkan pada tata pameran museum akan semakin meng­gairahkan pengunjung untuk belajar dan be­la­jar lagi.

Secara singkat Dean (1998) menyim­pul­kan bahwa pameran di museum mena­war­kan cara-cara yang menarik dan mudah dinikmati untuk menyampaikan penge­tahuan yang rumit sekali pun. Karena itulah, ia menyatakan bahwa “peran museum yang baik sebagai mitra sekolah dalam mela­kukan pendidikan tidak ada bandingannya”

Seperti diketahui bersama, Komisi Internasional untuk Pendidikan Abad ke-21 yang dibentuk oleh UNESCO telah menetapkan rumusan arah pendidikan di abad ini yang kemudian dikenal sebagai Empat Tiang Pendidikan Abad ke-21 atau The Four Pillars of Education in the 21st Century (Delors, 1998). Keempat pilar pendidikan itu adalah belajar untuk tahu (learn to know), belajar untuk melakukan (learn to do), belajar untuk menjadi (learn to be), dan belajar untuk hidup bersama (learn to live together).

Dengan demikian langkah inovatif yang dilakukan pengelola museum Aditya­warman di Padang perlu didukung karena pengenalan nilai yang ada pada koleksinya bisa menjadi khazanah pendidikan yang bisa memberikan nilai tambah kepada generasi bangsa. (*)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]