Membangun Jiwa Kewirausahaan PTS


Rabu, 30 Maret 2016 - 03:37:35 WIB
Membangun Jiwa Kewirausahaan PTS

Semangat kewirausaan di perguruan tinggi (PT) mulai digalakkan setelah era reformasi 1998. Saat laju pertumbuhan pencari kerja, dengan lapangan pekerjaan yang tersedia tidak seimbang. Sehingga menyebabkan tingginya angka pengangguran, termasuk pengangguran terdidik.

Pemerintah, pada dekade itu mulai berpikir. 2003 mela­lui perguruan tinggi (PT) di Indonesia. Pemerintahan mu­lai merancang kurikulum, dengan matakuliah ke­wirau­sahaan. Dengan semangat kewirausahaan yang dibangun itu. Melalui matakuliah terse­but, diharapkan setelah lulus, para sarjana tidak lagi menjadi beban negara. Mereka akan mampu  menciptakan lapa­ngan kerja, lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang.

Semangat kewirausahaan inilah, yang menjadikan per­guruan tinggi negeri badan hukum di Indonesia. Salah satunya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, menjadi PTN yang mandiri. 

Kemandirin UGM, dikuti oleh beberapa perguruan ting­gi swasta (PTS), seperti; Uni­ver­sitas Muhammadiyah Ma­lang (UMM) dan Universitas Is­lam Indonesia (UII) Yogya­kar­ta. UGM dalam mem­bangun semangat kewirau­sa­ha­an, memiliki beberapa usa­ha yang cukup menopang keuangannya sebagai PTN BH. Usaha-usahanya antara lain; hotel, penginapan, mall, dan sebagainya. UMM dan UII, PTS ini memiliki unit usaha yang beragam, mulai dari penginapan, hotel, resto­ran, pom bensin, rumah sakit, percetakan, dan sebagainya.

Sehingga dengan unit-unit usaha itu, mereka mampu menopang pembiayaan dan pengelolaan PT disamping dana rutin dan hibah dari pemerintahan. Unit usaha yang dibangun pada PT itu, sangat berko­relasi dengan mata kuliah kewirausahaan yang ada. Di saat mahasiswa me­ngam­bil mata kuliah kewi­ra­­usahaan, mereka langsung dapat prak­tik, pada unit usaha yang ada di PT-nya.

Berkaca pada UGM, UMM, dan UII di atas, sudah seharusnya pimpinan PTS berbenah, membuat tero­bo­san, mempercepat PTS me­ngem­bangkan unit-unit usaha stra­tegis, pada saatnya sampai pa­da PTS dengan semangat ber­jiwa wirausaha. Yang tum­buh dibawah Koordinasi Per­gu­ruan Tinggi Swasta (Ko­per­tis) Wilayah X (Wilayah Su­matera Barat, Jambi, Riau, dan Kepulauan Riau). Salah sa­tunya STKIP PGRI Sum­bar.

Sebagai Lembaga Pen­di­di­k­an Tenaga Kependidikan (LPTK) tertua dan terbesar di Kopertis Wilayah X, STKIP PGRI Sumatera Barat telah meluluskan 15 ribu lebih sarjana pendidikan.  LPTK ini sesungguhnya diperhitungkan kebe­rada­an­nya di antara 200 lebih PTS di Kopertis Wi­layah X. Apa­la­gi jajaran pim­pinannya mam­pu mem­ba­ngun se­ma­ngat kewirausahaan (berjiwa wirausaha).

Rotasi kepemimpinan di STKIP PGRI Sumbar akan segera bergulir April 2016 ini. Wacana pemilihan pimpinan, sudah mulai berhembus. Mu­lai dari mahasiswa, karyawan, dan para dosen. Bahkan di level pimpinan program studi, dan unit, serta ditingkat Pim­pinan Institusi.

LPTK ini tercatat telah meluluskan 15.878 sarjana kependidikan dan mahasiswa aktif terdaftar saat ini 9108 mahasiswa (BAAK STKIP 19/3). Ditambah, PT ini juga memiliki sarana prasarana yang lengkap. Enam gedung megah, termasuk STKIP Con­­fention Center selesai ta­hun ini. Berada di lereng Gu­nung Pangilun nan asri dan va­silitas pendukung PT lain­ya.

PT ini juga memiliki do­sen sebanyak 269 orang, de­ngan kualifikasi, 12 orang berpendidikan doktor dan lebihnya magister (S2). Berar­ti, kualifikasi dosen telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan Kemeristek Dikti.

Sebagai PTS yang men­cetak tenaga keguruan dan ilmu pendidikan tertua dan terbesar di Kopertis Wilayah X, seluruh civitas akademika diyakini sudah siap untuk berkompetisi dengan cerdas dan terbuka, dalam pesta demokrasi pemilihan pim­pinan perguruan tinggi ini.

Hemat penulis, siapa pun yang akan duduk di pucuk pimpinan, tidak terlalu diper­masalahkan. Yang penting terpilih secara demokrasi yang adil, dan lebih penting lagi mampu membawa peru­bahan memenuhi harapan seluruh civitas akademika.

Perubahan bagi STKIP PGRI Sumbar menuju PT yang mandiri pengelolaan keuangan, pembiayaan dan sumber dana, melalui peluang usaha dan bisnis yang kuat. Kenapa demikian? Kare­na, sudah tidak zamannya lagi. Pembiayaan PTS dibebankan 100 persen pada sumbangan masyarakat (SPP Mahasiswa).

Akibat pembiayaan yang diembankan 100 persen pada SPP mahasiswa, membuat PT tidak punya harga diri, tidak punya nilai jual yang tinggi, tidak bisa memilih mahasiswa yang berkualitas, tidak bisa memberikan pelayanan yang berkualitas, dsb.

Di sisi lain, muncul kekha­watiran yang dalam, disaat tidak ada lagi mahasiswa sebagai sumber utama pem­biayaan. Lalu pembiayaan rutin dan pemeliharaan dari mana akan diperoleh? Sudah seharusnya, dengan sarana dan prasarana yang lengkap dan sumber daya manusia (SDM) yang telah memadai itu. Bermodal ini, pimpinan PTS kedepan harus berani menciptakan peluang-pe­lu­ang usaha (bisnis) yang lebih luas, baik di dalam, maupun di luar PTS.

Kita butuh pemimpin yang punya naluri kewirausahaan yang tinggi (berjiwa wira­usaha), untuk mencari sum­ber dana lain dan mem­be­sarkan PTS ini ke depan. Pimpinan terpilih, harus mam­pu dan mau. Berani mengambil langkah-langkah strategis, menciptakan berba­gai peluang usaha yang akan menopang pembiayaan PT pada masa yang akan datang.

Hemat penulis, langkah-langkah strategis itu dapat dilakukan pimpinan PT, anta­ra lain sebagai berikut: Mem­buat lembaga/unit usaha PTS. Kalau bisa, unit usaha ber­badan hukum. Unit ini akan dikepalai oleh se­serang pim­pinan berjiwa ke­wirausahaan, sebagai perpan­jangan tangan pimpinan PT.

Melalui unit usaha ini PTS, pimpinan unitusaha  dan pimpinan PTS saling bersi­nergi, membuat analisis kebu­tuan/pengembangan usa­ha yang dapat di­kem­bangkan di dalam, maupun di luar PTS. Setelah dilakukan analisis yang mendalam. Mu­lailah bergerak, membangun usaha yang akan dikem­bang­kan itu. Antara lain dapat dimulai dari:

Mendirikan sekolah-se­ko­lah latihan, seperti SMP sede­rajat. Bahkan pada per­kem­ba­ngan PTS lebih lanjut, dapat juga didirikan Sekolah Dasar (SD), Taman Kanak-kanak (TK), dan lembaga Pendi­dikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD).

Pada akhirnya, unit usaha ini juga akan memperkokoh PTS. Saat PTS membuka program studi baru, seperti PGSD dan PG PAUD, labo­ra­torium latihannya sudah ada. Pimpinan PTS ke depan, ju­ga seharusnya mampu me­lirik peluang usaha kuliner dan komersial, dan me­nang­kap peluang itu, serta mem­besarkannya.

Masih banyak peluang usa­ha, yang dapat dirintis, se­perti; unit usaha pengi­napan, hotel, percetakan, mini­mar­ket, SPBU, toko, jasa, lembaga tes psikologis dan sebagainya. Semua akan bisa tercapai, apabila seluruh civitas aka­demika bersatu padu dalam satu hati, dalam membangun semangat kewi­ra­u­sahaan (ber­jiwa wirau­sa­ha).

Sekarang harapan itu ter­buka lebar di depan mata. Gerbang perubahan dan hara­pan baru itu sudah dekat. Kampus ini menunggu pe­mim­pin berjiwa kewi­ra­usa­haan, yang akan membawa ke arah kampus yang lebih man­diri dengan tata kelola yang baik dan terukur. Selamat berdemokrasi. (*)

 

DR. YUZARION ZUBIR, M.Psi
(Dosen Psikologi Pendidikan STKIP PGRI Sumatera Barat)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat, 14 Oktober 2016 - 01:24:15 WIB

    Urgensi Membangun Generasi Emas Sejak Dini

    Urgensi Membangun Generasi Emas Sejak Dini Perkembangan maupun keberhasilan suatu negara atau daerah tidak hanya dapat diukur dari perkembangan ekonomi, tapi juga berdasarkan indeks kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) atau Human Development Index (HDI). Kualitas SDM In.
  • Selasa, 27 September 2016 - 02:39:08 WIB

    Membangun Ekonomi Desa/Nagari

    Masyarakat desa yang selalu diper­sep­sikan sebagai masyarakat yang udik, miskin, kolot dan tidak maju harus segera dihapus. Desa memiliki potensi ekonomi, terutama di sektor pertanian. Desa harus kita bangun. Masyarakat de.
  • Jumat, 09 September 2016 - 02:04:01 WIB

    Membangun Perekonomian Nagari

    Nagari atau desa identik dengan perma­salahan. Masalah jalan buruk, irigasi, fasilitas umum, sumber daya manusia, lapangan kerja, kemiskinan dan lainnya..
  • Kamis, 11 Agustus 2016 - 04:16:29 WIB

    Bersama Membangun Nagari

    Bersama Membangun Nagari DENGAN banyaknya laki-laki pergi merantau dari bumi Minangkabau ke manapun di gugusan Nusantara dan bahkan ke berbagai pelosok dunia ini, Nagari-nagari asal di Minangkabau dan Sumatera Barat khususnya banyak yang tak tergabah.
  • Senin, 01 Agustus 2016 - 03:45:36 WIB

    Membangun, Jangan Latah

    Pelaksanaan pembangunan harus dilakukan dengan prinsip pendekatan terintegrasi hingga holistik-tematik. Jika tak dilakukan dengan target dari program pembangunan tidak akan bisa dicapai jika masing-masing stakeholder berjalan.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]