10 WNI Disandera, Minta Tebusan Rp15 M


Rabu, 30 Maret 2016 - 04:18:12 WIB

JAKARTA, HALUAN—Kepala Badan Intelijen Negara Sutiyoso mengatakan institusinya sudah mendapat informasi tentang kapal TB Brahma 12 yang dibajak di Filipina. Kapal itu berawak sepuluh orang.

“Mereka disandera, tapi diperla­kukan dengan baik. Pembajak minta tebusan,” ucap Sutiyoso lewat pesan pendek, Selasa (29/3). Ia menam­bahkan, jumlah tebusan yang diminta sebesar 50 juta peso atau sekitar Rp 15 miliar.

Sutiyoso tidak memberi tanggapan ketika disinggung ihwal dugaan keterlibatan kelompok Abu Sayyaf dalam pembajakan itu.

Dalam sebuah foto surat per­setujuan berlayar yang diunggah akun Facebook Peter Tonsen Barahama, diketahui kapal TB Brahma 12 memuat batu bara dan bertolak dari Pelabuhan Trisakti, Banjarmasim, Kali­mantan Sela­tan, menuju Filipina pada 15 Maret 2016. Surat ter­sebut juga menuliskan awak kapal berjumlah sepuluh orang. Ada­pun Peter merupakan kapten kapal itu.

Menteri Pertahanan Rya­mizard Ryacudu mengatakan Tentara Nasional Indonesia tak bisa serta-merta melakukan ope­rasi pembebasan terhadap se­puluh warga negara Indonesia yang menjadi sandera dalam pembajakan kapal TB Brahma di Filipina. Ryamizard beralasan, TNI menghargai kedaulatan negara Filipina. ”Filipina negara orang, tak bisa asal masuk. Jika nekat, bakal semakin panjang urusannya,” ucap Ryamizard kepada wartawan di kantornya Selasa (29/3).

Kapal tunda TB Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 dibajak kelompok Abu Sayyaf ketika berlayar dari Sungai Pu­ting, Kalimantan Selatan, menuju Batangas, Filipina selatan.

Menurut Ryamizard, pasu­kan khusus TNI selalu dalam kondisi siap bertugas, termasuk operasi pembebasan sandera. Bahkan kapal perang dan patroli TNI Angkatan Laut sudah bersia­ga di perairan Ambalat yang dekat dengan Filipina selatan.

Ryamizard mengaku akan berkoordinasi dengan Menteri Pertahanan Filipina terkait de­ngan pembebasan sandera. Selain itu, ia akan menghubungi Atase Pertahanan Indonesia di Filipina untuk meminta perkembangan informasi mengenai penyan­deraan tersebut. “Jika Filipina memutuskan menyelesaikan masalah itu sendiri, kami hanya bisa memonitor. Tapi, jika Fili­pina membutuhkan bantuan TNI, kami siap masuk,” ujar Ryamizard.

Mantan Kepala Staf Ang­katan Darat ini menegaskan, sampai saat ini, tak ada perwa­kilan TNI yang dikirim ke Fili­pina. Sebab, Atase Pertahanan Indonesia di Manila sudah cukup memberikan informasi ke Ja­karta.

Sebelumnya, juru bicara Ke­men­terian Luar Negeri, Arr­manatha Nasir, menuturkan pemilik kapal baru mengetahui adanya pembajakan tersebut setelah beberapa kali dihubungi orang yang mengaku dari kelom­pok Abu Sayyaf pada Sabtu, 26 Maret 2016. “Yang dibajak dua kapal, yaitu kapal tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12, yang membawa 7.000 ton batu bara dan sepuluh awak kapal,” ucap Arrmanatha.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan pemerintah akan melawan tindakan yang akan dilakukan penyandera atau perompak yang menyandera 10 Warga Negara Indonesia.

“Apapun yang telah dilaku­kan, perampokan, penyanderaan, minta tebusan, ya kita lawan,” kata Pramono di Kantor Pre­siden, Selasa (29/3).

Terkait kabar jika penyan­deraan dilakukan oleh kelompok Abu Sayyaf, Pramono mengaku belum mau menyimpulkan. Me­nurut dia, pemerintah tetap menyebut kelompok itu sebagai perampok dan menggunakan orang yang disandera untuk bernegosiasi agar mendapat te­busan.

Menurut Pramono, Presiden Joko Widodo sudah meminta Kementerian Luar Negeri, TNI, dan Polri mengambil langkah-langkah menyelesaikan masalah tersebut. Koordinasi antara TNI, Polri, dan Kemlu sangat penting dilakukan agar keputusan yang diambil di lapangan tidak mem­bahayakan para sandera.

Kementerian Luar Negeri, kata Pramono, juga sudah mela­kukan koordinasi dengan peme­rintah Filipina untuk mengambil langkah yang diperlukan.

Sebelumnya, juru bicara Ke­men­terian Luar Negeri, Arr­manatha Nasir, menuturkan pemilik kapal baru mengetahui adanya pembajakan tersebut setelah beberapa kali dihubungi orang yang mengaku dari kelom­pok Abu Sayyaf pada Sabtu, 26 Maret 2016.

“Yang dibajak dua kapal, yaitu kapal tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12, yang mem­bawa 7.000 ton batu bara dan sepuluh awak kapal,” ucap Arr­manatha. (tmp/met)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]