OJK Siapkan Aturan

Cyber Crime Ancam Industri Keuangan


Rabu, 30 Maret 2016 - 16:12:38 WIB

JAKARTA, HALUAN — Maraknya kejahatan di dunia maya atau cyber crime, mendorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuat aturan khusus. Arahnya untuk memproteksi lembaga jasa keuangan.

“Kalau memang perlu akan kami keluarkan peraturannya. OJK masih harus meminta pen­dapat dari banyak pihak, terutama pelaku industri keuangan,” ujar Ketua Dewan Audit yang juga anggota Dewan Komisioner OJK, Ilya Avianti dalam sebuah diskusi di Gedung OJK, Jakarta, Selasa (29/3/2016).

Menurut Ilya, OJK akan ber­tindak cepat untuk memutuskan apakah regulasi yang kuat dari otoritas keuangan perlu diadakan atau tidak. Setidaknya, OJK memproyeksikan pembicaraan ke arah penerbitan peraturan itu bisa selesai secepatnya, seti­daknya dalam satu tahun.

“Sekali lagi, itu semua tergan­tung apakah dianggap cukup mendesak atau tidak. Untuk memutuskannya, kami menga­dakan forum diskusi dengan pemangku kepentingan jasa ke­uangan dalam beberapa waktu ke depan untuk mendapatkan apa saja yang menjadi keinginan pelaku usaha terkait tindakan kriminal dunia maya,” kata Ilya.

Ilya melanjutkan, OJK sudah beberapa kali menerima laporan dari pihak lembaga jasa keuangan (LJK), terutama perbankan yang menjadi korban cyber crime. Untuk menyelesaikan kasus ter­se­but, OJK masih berperan sebagai mediator karena biasa­nya berkaitan dengan kerugian nasabah. “Biasanya yang melapor itu jumlah kerugiannya tidak besar, jadi bisa diselesaikan dengan mediasi,” papar Ilya.

Direktur Asuransi dan Risiko Asuransi PwC (Pricewater­house Coopers), Handikin Setiawan mengatakan, survei PwC bertajuk Global State of Information Security Survey pada 127 negara sepanjang 2015, menyebutkan adanya serangan dunia maya (cyber attack) sebanyak 160.000 kali per hari, atau sekitar 60 juta serangan per tahun.

Jumlah cyber attack itu, kata Handikin, melonjak 40% diban­ding tahun-tahun sebelumnya. “Ini yang dipublikasikan, belum termasuk yang tidak diketahui. Artinya, jumlah lebih tinggi lagi,” kata Handikin.

Kata Handikin, kejahatan cyber merupakan sebuah kenis­cayaan di tengah perkembangan teknologi informasi yang kian masif. Perusahaan dan individu pun harus siap diserang kapan saja, termasuk sektor industri keuangan. “Tentu akan berdam­pak sangat besar terhadap in­dustri,” ujar Handikin.

Handikin mengingatkan, ja­ngan sampai Indonesia menga­lami hal yang sama dengan Bank Sentral Bangladesh yang kehila­ngan uang sampai US$ 81 juta akibat tindakan cyber crime yang diduga kuat dilakukan peretas canggih di awal Maret 2016. (inl)

 

 

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]