Banjir, Wako, Kita


Jumat, 01 April 2016 - 04:04:02 WIB
Banjir, Wako, Kita

Bencana banjir yang melanda wilayah pesisir Sumbar (Padang, Agam, Padang Pariaman, Kota Pariaman) pada 22/3/16, telah melumpuhkan aktivitas masyarakat dan menjadi  head line media Sumbar sampai beberapa hari pascabencana.

Berbagai ulasan pun me­ngemuka berikut analisa me­ngenai penyebab bencana tersebut. Melihat kualitas bencana, kerugian dan korban jiwa (satu orang tewas dan seorang bayi hanyut dibawa arus) bisa dikatakan bencana ini merupakan yang terbesar dalam 10 tahun terakhir.

Kerugian banjir tidak ha­nya dari segi nyawa dan fi­nansial, namun juga hal-hal tak kasat mata yang tidak bisa diukur dengan materi. Tak sedikit anak-anak usia sekolah diliburkan aktivitas per­se­kolahannya di hari bencana, mayoritas Aparatur Sipil Negara terlambat bahkan tidak masuk kantor, aktivitas pelayanan publik terganggu, listrik dan pasokan air PDAM pun sempat mati beberapa hari, dan segudang efek ne­gatif domino lainnya yang bertubi-tubi melanda ma­syarakat, terutama di kota Padang, ibukota provinsi Sumbar.

Terlepas dari rasa duka yang mendalam, tentunya momen ini merupakan ke­sempatan emas untuk belajar dari kealpaan dan introspeksi terhadap segala kekurangan pencegahan bencana, te­ru­tama banjir. Memang, yang namanya bencana ti­dak ada yang mam­pu me­nge­lak da­rinya. Namun, ten­tunya ben­cana apapun bisa di­mi­ni­malisasi secara optimal, de­ngan syarat kita semua, pe­mimpin dan yang dipimpin, serta seluruh elemen ma­syarakat sipil, mau bersama-sama memikirkan cara efektif serta kemudian me­rea­lisa­sikan pikiran itu bersama-sama.

Usaha pencegahan harus dimulai dari sekarang. Di beberapa surat kabar terkuak salah satu penyebab utama adalah masalah drainase yang masih amburadul di banyak wilayah seantero kota Padang. Mulai dari drainase yang ukurannya tidak memadai, kebersihan drainase yang malah tersumbat oleh lumpur atau sampah rumah tangga, bahkan ketiadaan drainase di banyak kompleks perumahan. Ini mengingatkan lagi dengan sebuah Komentar di Sing­galang jauh-jauh hari yang bertajuk ‘Nasib Drainase Kita’ (17/10/15) oleh penulis sendiri.

Pada Komentar yang di­muat beberapa saat sebelum musim penghujan itu, penulis sempat melakukan survey kondisi drainase di beberapa sudut kota Padang. Terbukti,  nyaris tak satu pun sistem drainase yang dalam keadaan layak dan siap untuk me­nampung air hujan atau air pasang. Penulis bahkan me­wanti-wanti melalui tulisan tersebut dengan mengatakan, “Meskipun hujan yang turun tidak begitu lebat dan ber­durasi sebentar, namun jika sistem drainase suatu kom­plek perumahan mampet, bencana banjir tinggal me­nunggu waktu saja. Ancaman banjir semakin menguat ma­nakala hujan yang turun deras dan lama.”

Di samping peringatan konstruktif berupa Komentar dan beberapa tulisan opini (oleh penulis lain) di be­berapa media, sebenarnya kita semua sudah berusaha me­ngingatkan pemimpin kota Padang, dalam hal ini Wa­likota, berupa sms dan surat pembaca yang dimuat di be­berapa surat kabar terbitan Padang. Keluhan warga kota Padang, sebagaimana yang bisa kita simak di hari-hari musim hujan November 2015 hingga Januari 2016 lalu tidak sedikit yang melaporkan kon­disi drainase di tempat me­reka berdomisili. Sayangnya, entah dibaca atau tidak, yang jelas respon konkrit be­rupa penanganan lang­sung di lapa­ngan nyaris nihil.

Ke depan, kita ber­harap, Walikota Pa­dang benar-benar mau mendengarkan dan me­lakukan usa­­ha konkrit un­­tuk men­cegah bahaya bencana banjir di masa datang. Me­mang, kita patut puji respon cepat pak Wako saat bencana banjir Senin Subuh 22 Maret lalu itu dengan langsung me­nyam­bangi lokasi-lokasi ter­parah. Namun, seyogyanya tindakan responsif itu dila­kukan jauh-jauh hari semisal me­ngins­truksikan kewajiban aksi go­tong royong di masing-masing tempat tinggal, de­ngan di­koordinir oleh ketua RT setempat. Hal ini juga sudah disarankan dalam ba­gian penutup Komentar ‘Na­sib Drainase Kita’ tadi.

Usaha preventif lain yang perlu dilakukan adalah pem­benahan, pelebaran serta pengerukan drainase sampai ke pelosok-pelosok, terutama daerah yang ketinggiannya tanahnya sangat rendah. Pem­ko tentunya sudah (dan harus selalu) memetakan daerah mana yang paling rawan, fo­kuskan perbaikannya di situ. Ajaklah para ahli tata kota dan perencanaan wilayah serta Lembaga Swadaya Ma­sya­rakat yang terbukti selama ini sangat concern terhadap an­caman bahaya banjir di kota Padang.

Untuk itu, Walikota harus mau mendengar dan mene­rima masukan secara bijak. Jauhkan gengsi dan sing­kirkan sistem kaku pro­tokoler yang kon­tra-produktif. Lebih jauh, diperlukan sinkronisasi kebi­jakan dan program pena­nganan arus sungai dan drai­nase dengan pihak terkait di level provinsi dan pusat. Sudah jadi rahasia umum bahwa program penangangan arus sungai dan drainase di domain tertentu merupakan kewenangan kementrian Pe­ker­jaan Umum dan Peru­mahan Rakyat (KemenPU/Pera) serta ada pula yang menjadi tanggung jawab pi­hak Dinas PU Provinsi.

Kita yakin, dengan keter­bukaan, sikap responsive, tanggap bencana dan sense of crisi dari Walikota Pa­dang (tentunya didukung Gu­ber­nur dan seluruh ele­men ma­syarakat sipil), di­harapkan semua bencana bisa dicegah dan di­mi­nimalisir. Seperti yang di­sitir oleh Jim Willis dalam De­mocracy and the News (2007) : “Semakin rajin seorang pemimpin ekse­kutif melek informasi dan rajin mengakses media dan kelu­han masyarakatnya, ma­­ka semakin selamatlah kepe­mimpinannya, se­ma­kin di­per­caya ia di mata rakyat. Sebaliknya, pemim­pin yang ‘cuek’, me­ngang­gap keluhan rakyatnya se­bagai ‘musuh’ adalah pe­mim­pin yang bagai tidak sabar menantikan ke­han­curannya sendiri”. (*)

 

MOHAMMAD ISA GAUTAMA
(Pengajar Komunikasi Politik, Fakultas Ilmu Sosial-UNP)
 

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 02 Agustus 2016 - 03:21:45 WIB

    Banjir, Beban Sebuah Kota

    Pada awal abad ke 21, semua orang tidak ra­gu untuk mengatakan bahwa kota-kota men­jadi tempat yang semakin rentan ter­ha­dap ancaman bencana. Hal ini dapat kita buk­ti­kan sendiri di Kota Padang Tercinta. Sebagai se­b.
  • Kamis, 24 Maret 2016 - 04:04:04 WIB

    Banjir, PR Berat Wako Padang

    Kota Padang sudah identik dengan banjir. Setiap kali hujan lebat dalam jangka waktu lama, beberapa lokasi di kota ini terendam banjir. Banjir yang terjadi Selasa (23/3) lalu, merupakan banjir yang terparah sejak 20 tahun lalu.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]