Seteru Pemilihan Datuak Pucuak, Mudarat Bagi Kaum


Jumat, 01 April 2016 - 04:18:53 WIB
Seteru Pemilihan Datuak Pucuak, Mudarat Bagi Kaum Batagak Pangulu yang dilangsungkan oleh suatu kaum sebaiknya tidak didahului oleh seteru terlebih dahulu, karena akan mengakibatkan perpecahan di dalam kaum itu sendiri. Terlihat upacara malewakan gala (meresmikan gelar datuak yang akan disandang) belum lama ini.

PADANG, HALUAN — Tugas dan tanggung jawab datuak pucuak tidaklah ringan, selain memastikan kaumnya tidak melenceng dari norma-norma adat, datuak pucuak juga harus mampu menengahi berbagi persolan yang dialami oleh para kemenakannya. Sayangnya peran datuak yang merupakan pemimpin kaum ini tidak dipahami oleh semua pihak sehingga tega membuat rusuh jelang pemilihan datuak pucuak.

Syamsul, warga Batipuah di Tanah Datar menyebutkan, pewarisan datuak pucuak meskipun terlihat sederhana dalam aturannya, namun sa­ngat sulit diberlakukan. Tetap terjadi perebutan kekuasaan.

“Bahkan sampai pihak kepolisian turut mengawal jalannya acara batagak pa­ngulu di daerah ini. Pihak lawan bahkan tidak mau ting­gal diam, mereka berdiri di tepi jalan, seakan akan meng­hancurkan alek ini jika tetap dilanjutkan,” katanya kepada Haluan, Kamis (31/3).

Syamsul melihat apa yang terjadi ini, tidak hanya terjadi di satu kaum saja, tapi juga terjadi di kaum lain meskipun perselisihan itu bisa di­se­lesai­kan secara baik-baik tanpa lahirnya cakak banyak.

Melihat adanya fenomena perebutan gala datuak ini, tokoh adat Datuak Mandaro Kayo dari Batusangkar me­nga­takan munculnya per­selisihan ini, dikarenakan banyak hal. Dimulai dari penguasaan harta pusako kaum, hingga kebesaran gala datuak bagi yang me­makainya sebagai perlambang status sosial di tengah masyarakat.

“Gelar datuak diwariskan menurut sistem matrilineal. Bila seorang datuak me­ninggal dunia, gelar datuak tersebut dapat diberikan ke­pada saudara laki-lakinya, atau kemenakan yang paling dekat hubungan ke­kera­batan­nya dari garis ibu. Namun dapat juga diberikan kepada selain kepada kerabat dekat­nya asal masih dalam satu suku serta diterima oleh se­mua pihak. Datuk yang baru dinobatkan tetap memakai gelar yang sama, tanpa ada tambahan lain digelar ter­sebut. Jadi misal se­belumnya A Datuak Bandaro ,jika ke­mudi­an diganti oleh si B, maka gelar berikutnya B Datuak Bandaro,” jelas Da­tuak Mandaro Kayo me­n­jelaskan aturan waris pusako tinggi ini.

Lebih jauh datuak tersebut mengungkapkan, jika pewaris gelar tersebut punah, atau pihak pihak yang merasa ber­hak saling bersiteru, maka gelar tersebut akan digantung, atau dinonaktifkan hingga waktu yang belum ditentukan. Maka satu kaum tersebut bisa saja tidak memiliki datuk pucuak untuk sementara wa­k­tu. Gelar datuak akan bisa disandangkan, jika kaum su­dah memiliki kesepakatan dan seteru sudah disudahi.

Pengangkatan pangulu itu sendiri didasari pada pe­do­man hiduik bakarelaan yaitu pengangatan pangulu baru dikarenakan pangulu lama telah terlalu tua atau uzur, sehingga  sudah tidak sanggup lagi untuk memikul tanggung jawab yang di­be­ban­kan ke­pada­nya. Kemudian, mati batungkek budi atau ba­punt­ia­ng di tanah sirah yaitu pangu­lu yang akan di­ang­kat, se­belumnya di­um­umkan di tan­ah sirah (pe­ma­kaman) pada saat proses pe­ma­kaman pa­ngulu lama. Be­rikut­nya, ma­m­bangkik ba­tang tarandam yaitu me­ngang­kat kembali seorang pangulu yang baru setelah lama sebelumnya tidak ada pangulu. Hal ini bisa jadi dikarenakan oleh suatu hal atau perkara. Lalu, mangam­bangkan nan talipek yaitu mengangkat kembali gelar yang telah lama tidak dipakai karena terputusnya pewarisan laki-laki dalam suatu suku tersebut. Terakhir adalah ma­nurunkan nan tagantuang, yaitu menggangkat kembali pangulu yang telah ditangguh­kan peresmiannya karena us­ia­­nya masih kecil. (h/mg-ysn)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]