Dari Brussel ke Amerika

Songket Silungkang Jelajahi Dunia


Sabtu, 02 April 2016 - 01:25:44 WIB
Songket Silungkang Jelajahi Dunia TENUN Songket Silungkang unjuk gigi di iven internasional. Songket ini tak hanya dipakai sebagai pakaian tradisional Minang tetapi juga aneka kreasi pakaian lainnya. (FADILLA JUSMAN)

Sekitar sepekan yang lalu, terjadi le­dakan yang m­e­ne­lan korban jiwa di Ko­ta Brussel, Bel­gia. Bagi Sawah­lunto, se­lain menjadi berita duka, menyebut nama Brussel mem­­­bangkitkan histori ter­sendiri, khususnya dalam hal tenunan.

Lebih dari seratus tahun lalu atau tepatnya tahun 1910, dengan menaiki kapal me­ngarungi samudera, hasil kerajinan songket Silungkang Sawahlunto dibawa dan di­pamerkan di Kota Brussel, Bel­gia.

Kala itu, songket Silung­kang yang dihasilkan tangan-tangan halus kaum hawa di nagari yang berada di ruas lintas Sumatera tersebut, mampu memikat mereka yang hadir dalam pameran hasil kerajinan dari berbagai negara di dunia itu.

“Sejarah yang kami te­rima, tenun Silungkang ini telah dipamerkan di Brussel, Belgia tahun 1910,” ujar Rizal F Danil, salah seorang tokoh masyarakat Silungkang ke­pada Haluan.

Waktu itu, ujar Rizal, menjadi kali pertama tenun songket Silungkang diper­kenalkan di gelanggang int­er­nasional, dalam ajang Pekan Raya Ekonomi. Tidak hanya hasil songket, cara bertenun songket Silungkang pun di­de­monstrasikan.

Dari cerita yang ada, lan­jut­nya, tersebut nama Ande Baensah sebagai pengerajin tenun songket Si­lungkang, yang langsung mem­per­kenalkan produk kerajinan dengan alat tenun bukan mesin kala itu.

Waktu itu, tenun songket yang mewakili Indonesia di ajang Pekan Raya Ekonomi, Brussel Belgia, hanya berasal dari dua daerah, yakni tenun songket Silungkang dan tenun songket Bali.

Kedua daerah, Silungkang dan Bali membawa nama In­donesia sebagai penghasil kera­jinan, yang menyusun ribuan he­lai benang dalam satu kesatuan.

Masa itu telah lama berlalu. Nama tenun songket Silungkang sempat tenggelam seiring dengan perkembangan industri per­te­nunan nusantara. Jumlah pe­rajinnya pun sangat terbatas.

Kerajinan tenun songket Si­lung­kang, hanya digeluti para kaum ibu yang berusia lanjut. Sangat sulit dijumpai mereka yang muda, yang mau bergelut me­lestarikan kerajinan tra­di­sional yang menjadi warisan nenek moyang.

Setelah lebih dari seratus tahun berlalu. Pemerintah Sa­wah­lunto berupaya me­ngem­balikan kejayaan tenun songket Si­lung­kang, dengan me­ma­sya­rakatkan tenun songket di tengah masyarakat.

Tidak hanya di Silungkang, pelatihan pun digelar hampir di setiap desa dan kelurahan. Nama songket Silungkang tetap diper­tahankan, jumlah perajin juga terus dikembangkannya. Sebab, dengan jumlah produksi yang terbatas, akan membuat promosi berakhir sia-sia.

Nama songket Silungkang pun kembali masuk ke kancah internasional. Setidaknya setelah tenun songket Silungkang tampil dalam ajang New York Fashion Week, di 12 September 2015 lalu.

Butik Shafira tampil mem­boyong tenun songket Silung­kang, dengan menjadikannya sebagai bahan busana muslim. Dengan paduan bahan-bahan berwarna gelap dan silver, hasil desain Shafira membuat pe­nonton di ajang New York Fa­shion Week terpesona.

Fenny Mustafa, pemilik Bu­tik Shafira mengungkapkan ke­ter­tarikannya untuk mengangkat songket Silungkang. Menurutnya, songket merupakan kerajinan tenun yang terbilang halus, dibuat dan dikerjakan langsung oleh masyarakat.

Tidak hanya sampai di situ, dalam Indonesia Fashion Week, yang digelar 11 Maret 2016 lalu, di Jakarta Convention Center, Shafira kembali memboyong tenun songket Silungkang sebagai bahan utama desain mereka.

Bagi Shafira, meski tenun songket telah tumbuh dengan berbagai nama di berbagai dae­rah. Namun tenun songket Silung­kang memiliki kekhasan ter­sendiri. Pasalnya, selain harganya yang relatif terjangkau, tenun songket Silungkang juga tidak pasaran.

Tidak banyak produk tenun songket Silungkang di pasaran, membuat Shafira melenggang santai dengan desain-desain ter­baik berbahan songket Silung­kang. Produknya pun merupakan produk limited edition.

“Rancangan dan mode yang kami buat berbahan songket Silungkang ini, limited edition atau terbatas. Sebab, bahan yang ada di pasaran masih sangat terbatas. Sehingga, membuat produk kami ini menjadi spe­sial,” ujar Fenny.

Termasuk dengan motif tenun songket Silungkang yang sangat beragam. Hal itu memotivasi para penyuka tenun songket Silungkang untuk datang, melihat langsung proses pembuatan te­nun songket Silungkang ke Sa­wahlunto.

Tidak hanya itu, ketertarikan Fenny mengangkat songket Si­lung­kang, juga didorong de­ngan semangat Pemerintah Sa­wah­lunto dalam mengembangkan dan membumikan usaha tenun songket di tengah masyarakat.

“Misi yang kami emban tidak semata mengejar profit atau keuntungan. Ada misi sosial di belakangnya, dengan mendorong penggunaan songket Silungkang, akan membuat pasar tersendiri bagi perajinnya di Sawahlunto,” ujarnya.

Agaknya hal itu pula yang membuat Butik Shafira bersama puluhan pengusaha dan pe­ran­cang mode Kota Bandung Jawa Barat, meninjau langsung proses pem­buatan kerajinan tenun songket Silungkang ke Sawahlunto.

Ternyata, bagi para pe­ngu­saha dan perancang mode asal Bandung tersebut, harga tenun songket Silungkang yang di­ang­gap mahal bagi pelanggan di pasaran, justru terbilang sangat murah.

Sebab, jika dilihat dari proses pembuatan kerajinan berbagai ribuan benang itu, terbilang sangat sulit, membutuhkan kete­litian dan tingkat kehati-hatian yang ekstra, untuk menghasilkan tenun songket berkualitas ter­baik.

Mencermati peluang usaha dan juga peluang kerjanya, Wa­likota Sawahlunto, Ali Yusuf memacu masyarakatnya dengan menargetkan pertumbuhan pe­rajin songket Silungkang, mi­nimal 50 perajin setiap tahunnya. Langkah yang diambil, dengan memberikan pelatihan bagi ma­sya­rakat yang berminat.

Tidak hanya sampai di situ, sebagai modal awal pemerintah juga memberikan modal berupa bahan benang untuk 12 lusin hasil songket, serta seperangkat alat tenun bukan mesin (ATBM). Sehingga, usai pelatihan, ma­sya­rakat langsung mulai berusaha.

“Target pemerintah memang bukan hanya hingga pelatihan. Tapi masyarakat dapat ber­pro­duksi menjad perajin,” pungkas Ali Yusuf.

Ke depan, tentu tidak hanya Butik Shafira yang menjadi ger­bong promosi bagi tenun songket Silungkang. Puluhan perancang dan pengusaha mode Kota Ban­dung, akan ikut menjadi lo­komotif promosi tenun song­ket Silungkang.

Dapat dipastikan, kuantitas dan kualitas kerajinan tenun songket Silungkang akan menjadi tolak ukur dalam kemajuan tenun songket Silungkang ke depan. Re­generasi pengerajin dan pe­ngu­saha tenun songket Silungkang sangat diperlukan.

Sebab, mungkin tidak akan hanya Brussel (Belgia) atau New York (Amerika) yang akan men­jadi perlintasan tenun songket Silungkang ke depan. Ada bela­han bumi yang lain, yang siap me­nanti kedatangan tenun songket dengan kualitas terbaik. (h/*)

 

Laporan: 
FADILLA JUSMAN
 

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]