Stimulus Berargumen dan Diskusi Interaktif


Sabtu, 02 April 2016 - 03:51:37 WIB
Stimulus Berargumen dan Diskusi Interaktif

Semangat mahasiswa itu ibarat bara api, yang harus selalu ditiup atau diterpa angin agar senantiasa berpijar. Berpijar itu bermaksud, semangat itu tetap membara. Dan sederhananya, peranan pihak-pihak luar dalam menjaga pijar semangat itu perlu, pun demikian seperti bunga dan kumbang.

Semangat mahasiswa da­lam menggali ilmu sudah selayaknya diberi apresiasi. Wujud dari semangat ma­hasiswa tersebut berupa kese­diaannya dalam membagi waktu untuk membaca dan berdiskusi –tak hanya disi­buk­kan dengan gadget-. Se­hing­ga, outputnya berupa wawasan yang luas. dan disa­nalah masuknya posisi dosen –selaku pihak luar- dalam memberi terpaan angin agar pijar semangat itu tetap ada.

Tulisan ini merupakan kri­tikan penulis terhadap pe­ngajar atau do­sen yang ti­dak men­­­ja­ga pi­jar se­ma­ngat ma­ha­­siwa dal­am meng­ga­li ilmu, bahkan dalam menge­mu­ka­kan pen­dapat. “Penyalahan” argu­mentasi mahasiswa seca­ra telak, menjadi salah satu bukti konkret bagaimana pe­ran do­sen atau tenaga penga­jar itu tidak maksimal dalam men­jaga asa belajar maha­siswa. Karena, penyalahan secara telak itu berimbas kepada kepercayaan diri ma­ha­siswa yang –terjun bebas- hilang saat berdiskusi. Mi­salnya, “oh, pendapat ananda itu salah, bukan seperti itu jawa­ban­nya”. Jika seperti itu, maka peran dosen sudah se­perti “hakim” yang me­mutus benar atau salahnya se­suatu atau sese­orang. Se­men­tara, mahasiswa yang ber­ke­ingi­nan untuk ber­kem­bang, mem­bu­tuhkan sti­mulus untuk me­lanjutkan sema­ngat­nya. Dan dosen se­mestinya paham itu, walau­pun jawaban maha­siswa itu salah, “pe­nya­lahan” secara halus yang seha­rusnya men­jadi pilihan bagi para dosen, agar mahasiswa tidak sakit hati atau malu dengan ce­moohan teman-temannya. Mi­salnya, “wah, pendapat anan­da itu bagus, namun mungkin perlu sedikit koreksi di bagian ini agar lebih rele­van”.

Dosen, se­laku orang tua mahasiswa di kam­pus, seha­rusnya paham bagai­mana mental mahasiswa di ruang publik. Lingkungan yang ra­wan cemoohan, me­mung­­kin­kan mental atau ke­percayaan diri menjadi drop jika saat kuliah dosen me­ne­lak­kan kesalahan pada argu­men­tasi mahasiswa. Karena, se­mes­tinya dosen selaku pe­nga­jar berupaya untuk “me­na­rik” keluar seluruh ilmu para ma­hasiswa, dalam artian seba­gai fasilitator. Sehingga, ma­ha­­siswa menjadi fasih ber­bicara, dan gagasan-gagasan ma­ha­siswa tersebut dapat di per­baiki, tentunya dengan ca­ra yang halus. Sehingga, men­tal dan semangat maha­siswa ti­dak drop.

Mengajak berdialektika

Pada dasarnya, pe­nga­jar apakah itu do­sen atau gu­­ru sekalipun, selalu me­mi­liki kuasa untuk menyalahkan atau mem­­benarkan suatu argumen dari mahasiswa atau muridnya. Kuasa tersebut dimiliki ka­rena, yang pertama posisi sebagai guru atau dosen, ke­mudian yang kedua karena “katanya” guru atau dosen lebih pintar dari mahasiswa atau muridnya hanya karena lebih dulu mengecap ilmu dan lebih banyak membaca buku. Bahkan, tak jarang tenaga pengajar itu memiliki ego yang yang besar, dimana pen­dapat dari dosen lebih benar. Bahkan, di lingkungan maha­siswa, sebuah anehdot yang lucu nan “menyentil” berkem­bang terkait fenomena dosen atau guru yang tak ingin ar­gumennya dibantah maha­sis­wa, yaitu “Maha benar do­sen dengan segala perkata­an­nya”.

Anehdot tersebut tentu tidak lahir begitu saja, selalu ada kausalitas (sebab-akibat­nya). Karena, bukan penga­la­man pribadi perihal ini, dan selalu ada mahasiswa yang cerita bagaimana drop keper­cayaan diri setelah dicemooh teman-teman sekelas­nya kare­na argu­ment­asin­ya yang dipa­tahkan dosen, sehingga dika­langan te­man-te­man­nya mun­cul stig­ma “sok tahu”. Arti­nya, tidak semua maha­siswa itu ber­mental baja da­lam berar­gumen, namun seba­gian juga ada yang bermental ber­kem­bang, di­mana duku­ngan dan support dibutuhkan oleh mahasiswa yang seperti ini.

Penghakiman “anda sa­lah” oleh dosen itu sesung­guhya hanya menjadikan ma­ha­siswa tidak kreatif dan inovatif. Kekreatifan maha­siswa di reduksi jika hal itu bertentangan dengan argu­mentasi dosen. Dan akibat­nya, ma­hasiswa hanya menjadi re­plika dari sang dosen, atau foto­copy nya dosen. Sehingga, mem­bahas yang seperti ini, ti­dak etis jika penulis tidak mem­bawa nama Paulo Frey­re­. Karena, Freyre menjadi to­koh yang juga mengkaji dan meng­kritik metode pendi­di­kan yang “mengkerdilkan” krea­tivitas mahasiswa. Freyre me­nyebutnya sebagai metode Pen­didikan Tradisional. Da­lam metode tradisional ini, pro­ses pembelajarannya ber­si­­fat Menggurui dan meng­ha­fal. Guru berada pada po­si­si orang yang berilmu lebih yang cenderung memberi daripada menggali potensi muridnya, lalu sang murid diberi metode hafalan se­hingga mematikan daya analisisnya.

Dan kemudian, metode pendidikan berikutnya yang dikritik Freyre adalah metode pendidikan Gaya Bank. Pada metode ini, para guru ibarat seorang nasabah dan para murid adalah deposito. Guru menabung ilmunya kepada murid, karena para murid hanya menjadi wadah bagi guru untuk menyalurkan ilmu­nya. Sehingga, para murid hanya menjadi cetakan dari para gurunya. Analoginya sama seperti sang guru adalah cerek berisi air, lalu sang murid adalah gelas kosong yang harus diisi. Murid tentu menerima bulat-bulat apa yang diberi sang guru, karena proses komunikasinya ber­sifat satu arah, guru memberi dan murid menerima.

Benang Merah

Sebagai yang lebih berpe­ngalaman, tenaga pengajar -khususnya dosen- dalam ber­ha­dapan dengan mahasiswa semestinya tidak menge­de­pankan sisi gelar aka­de­mik­nya. Karena, gelar aka­demik terse­but akan menimbulkan ke­egoan atau terlalu menjaga martabatnya, sehingga tenaga pengajar hanya akan menjadi “hakim” ilmu, menjustifikasi salah dan benar mahasiswa, ketimbang menjadi fa­silitator atau orang tua mahasiswa, yang menggali potensi ma­hasiswa dan mem­bim­bing­nya. ***

 

IKHSAN YOSARIE
(Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik, Berkegiatan Aktif di UKM Pengenalan
Hukum dan Politik Universitas Andalas)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]