Bantuan Dihambat Regulasi

Masih Banyak Nelayan Gunakan Perahu Dayung


Sabtu, 02 April 2016 - 04:23:45 WIB

PAINAN, HALUAN — Langkah Pemkab  Pessel untuk mem­bebas­kan nelayan dari perahu dayung tersendat regulasi. Bantuan perahu dan mesin longtail ke nelayan harus melalui organisasi pere­konomian nelayan berbadan hu­kum dan tidak bisa melalui ke­lom­pok. Pada hal  lembaga ekonomi nelayan berbadan hukum tidak seberapa.

“Ya aturan baru terkait ban­tu­an bagi nelayan harus melalui lembaga ekonomi berbadan hu­kum. Misalnya koperasi atau Bumnag. Jadi bantuan peralatan tangkap misalnya harus melalui lembaga ekonomi berbadan hu­kum,” kata Bupati Pessel Hen­dra­joni Jumat.

Disebutkannya, untuk me­ning­katkan hasil tangkapan nelayan maka salah satu langkahnya adalah dengan memberikan akses pe­ra­latan tangkap bagi nelayan. Pessel beren­cana membebaskan nelayan dari perahu dayung menjadi perahu yang digerakkan dengan tenaga mesin. Tercatat saat ini masih ada sekitar 1000 lebih perahu dayung atau perahu layar yang masih di­ope­rasi­kan nelayan untuk mela­kukan aktif­itas menangkap ikan di lautan.

Ia menyebutkan, perahu da­yung amat berbahaya bagi nelayan. Nelayan tidak bisa bergerak deng­an cepat menghindari cuaca buruk. Bila menggunakan perahu motor, maka resiko karam di laut akibat amukan badai dan gelombang besar lebih kecil,” katanya.

Kepala DKP Pessel Yoski W sebelumnya menyebutkan, dengan masih banyaknya perahu dayung juga menyebabkan produktivitas nelayan di daerah itu masih rendah. Bahkan tercatat produksi peri­kanan tangkap Kabupaten Pesisir Selatan cenderung rendah dan fluktuatif. Setiap tahun produksi perikanan rata rata hanya 29 ribu ton, padahal potensi lestari men­capai 100 ribu ton.

Fluktuasi produksi dapat dili­hat melalui hasil tangkapan per­ta­hun. Pada tahun 2005 produksi ikan sekitar 24 ribu ton, tahun 2006 sebanyak 26 ribu ton, 2007, hingga 2015 sekitar 25 ribu ton. Tahun ini juga diperkirakan sekitar 29 ribu ton

Pembangunan perikanan Pe­si­sir Selatan pada beberapa tahun lalu memang pernah mengalami masa - masa transisi.  Misalnya terjadinya penurunan produksi perikanan laut, terutama untuk nelayan dengan alat tangkap tradisional.

Namun menurutnya, setelah mengalami masa transisi, Pesisir Selatan telah berupaya untuk mengembalikan, paling tidak ke posisi normal, dimana produksi perikanan bisa normal kembali.

“Laut kita punya potensi sangat besar. Jika kita hitung, potensi lestari perikanan  laut Kabupaten Pesisir Selatan  bisa mencapai 100 ribu ton pertahun. Namun potensi itu belum tergarap maksimal, Pessel baru bisa menggarap se­pe­rempat­nya saja. Karena memang ada sejumlah persoalan mendasar yang dihadapi Pesisir Selatan selama ini,” ujarnya menjelaskan.

Berdasarkan catatan Dinas Kelautan dan Perikanan setempat jumlah armada penangkapan se­kiatar 2.392 unit berupa mesin tonda, kapal payang, dan perahu dengan menggunakan mesin. Ini berpengaruh terhadap produksi ikan di perairan Pesisir Selatan. Sementara itu sekitar 1000 perahu nelayan digerakkan dengan tangan manusia dan angin, jumlah ini sangat berpengaruh besar pada produksi ikan daerah ini.

Dia menyebutkan, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan telah menyusun strategi untuk mem­bebaskan daerah itu dari perahu dayung. Pemkab juga telah ber­koo­r­dinasi dengan Pemprov Sumbar untuk melancarkan aksi pem­bebas­an perahu dayung. (h/har)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]